Memandikan Balita Itu Tak Semudah Yang Di Bayangkan

Sore ini saya “ketiban sampur” untuk memandikan anak, ibunya tidak ada dirumah, belum pulang dari sebuah acara. Wow…. untuk pertama kalinya dalam hidup saya memandikan anak balita sendirian. Perasaan campur aduk berkecamuk didalam hati. Antara senang karena punya kesempatan memandikan anakku untuk pertama kalinya. Juga perasaan sedih dan gamang, takut kalau kalau salah.

Memang semenjak  kecil saya sering menemani istri memandikannya. Namun dilepas seratus persen untuk memandikannya baru kali ini terjadi. Terlebih  dirumah tidak ada siapa siapa kecuali kami berdua.

Air hangat sudah dipersiapkan di ember yang biasa dipakai. Handuk, baju, pempers, bedak dan minyak telon sudah siap ditempatnya. Pokoknya semua persiapan sudah komplit pliiit,  OK bangeeet.

“Nduk, ayuk adus…  nduk ?”, pertanyaanku menyela permainannya. Kemudian dia pun menjawab, “pak mandi, mandi paakk….. mandi”. Alhamdulillah….., tak perlu memaksa dan membujuknya mandi.

Kok Alhamdulillah ? Iya, sebab beberapa teman bercerita bahwa anak mereka susah jika disuruh mandi. Apalagi disaat asyik asyiknya bermain. Hehehe….. “bersyukurlah pada hal hal  kecil, maka mensyukuri hal besar akan semakin mudah”, itu kata  Kyai Rifki yang tak pernah terlupa.

Sambil menyanyikan  lagu “bebek adus kali”, satu persatu pakaian dilepas. Pertama baju, kemudian celana dan terakhir adalah pempers. Eh iya…. kiky memang belum mampu melepas bajunya sendiri loh ya, mesti dibantui.

Setelah melepas pempers, saya bilang “nduk, ini pempers tolong dibuang ditempat sampah, bung….. gitu”. Secepat kilat pempers sudah berpindah tangan. Sambil berlari ia menuju tempat sampah di dapur untuk membuang pempers. Hm….. pinternya anakku (jiaaah………. semua orang tua juga pasti mikirnya begitu, anak sendiri pasti dibilang pinter).

Saya  tuntun  kiky masuk ke kamar mandi. Perasaan “dag dig dug deeer….” semakin berkecamuk, hadhewuh……. nangis nggak yah…?  Nangis ndak yah….. ? Yes ! Tak ada tangisan menyertainya, Berhasiiiiilllll……..!

Saya ambil air hangat seperempat gayung untuk membasahi badannya yang mungil. Dia pun tertawa. Hm…..  kesimpulannya adalah  ia senang dimandikan bapak. Sekali lagi Alhamdulillah.

Setelah beberapa gayung maka saatnya “sabunan”. Nah ini…….., masalah tak terduga mulai muncul. Saya tidak tahu sabun mana yang harus dipakai. Satu persatu botol  yang berderet saya perhatikan. Semakin bingun karena hampir semua botol  tidak ada tulisanny.

Waduh….. bagaimana nih ? kalau salah bagaimana ? kalau… kalau….kalau…..
Pertanyaan tanpa ada jawaban ini terngiang ditelinga. Aduh…. gimana ini yah ?

Tiba tiba Kikiy berkata, “pak utih pak…. utih., abun utih……”.

Aku ambil botol berwarna putih diujung deretan paling kiri, diamati  dan “BENAR”, ada tulisan “baby soap”. Yiha….yiha…. yiha……

Didalam hati malu rasanya, kalah sama anak berumur belum genap tiga tahun. “Bersama kesulitan pasti ada kemudahan”, pikirku. Walau kemudahan itu datangnya dari seorang anak yang belum fasih berbicara.

Prosesi “sabunan” pun selesai sudah. Bwuiih…….. lega rasanya….
Mak plong rasane…………

Saatnya prosesi selanjutnya menyiramkan air hangat lebih banyak untuk menghilangkan sabun yang menempel dibadan.

Tiba tiba saja di otak  terlintas bagaimana ibu  dulu memandikan, entah diumur berapa saya nggak ingat lagi. Waktu itu, hal  yang selalu dilakukan  adalah menyiramkan air di kepala. Tangan kirinya  yang penuh kasih  memegang kepala, sementara itu dari mulutnya terucap kata kata  “siram mbayem…..”. Kata kata itu terucap tepat dengan guyuran air dikepala.

Itu baru siraman pertama. Untuk siraman kedua, tangan ibu masih tetap dikepala dan  mengucapkan “gelis gedhe…..”.  Siraman ketiga mengucapkan “ilang larane” dan terakhir pada siraman keempat diucapkannya “cepak rejekine”.

Saya sama sekali tidak tahu apakah itu do’a atau pengharapan. Yang jelas momen masih segar di ingatan dan  melekat erat di memori otak.

Aha…………….  tiba tiba saja saya sangat ingin  menirukan apa yang dilakukan ibu.

Saya usap kepala  Kiky dengan tangan kiri,  sementara  tangan kanan memegang segayung penuh air hangat.  Aku berfikir, “terimakasih ibu, telah engkau wariskan ini semua”.

Bismillahirrahmanirrohiiim, byur…….

Hwaaaaa…!!!!! hwa…..!!! hwa…..!!!!
Kiky menangis keraaas dan semakin keraas…
Ia  menjerit jerit sejadi jadinya.
Dia berlari secepat kilat keluar dari  kamar mandi. Karena licin sabun dia pun terjatuh “gudebug……”. Dan tangisannya semakin keraaas !

Aku pun bingung harus bagaimana…….. Oh istriku, cepat pulang yah…….

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Memandikan Balita Itu Tak Semudah Yang Di Bayangkan

  1. metamocca says:

    Hihihihih… Hati2 Om, kiki kaget kali.

    Kalo anak saya, hrs dibilangin dulu “guyur ya..” Biar dia bs siap-siap *kaya mau ngapain aja* nanti pas diguyur di kepalanya.

  2. rayaadawiah says:

    good job😀
    ayah yang baik tuh kudu gini,, bahu membahu memandikan anak,hehehe

  3. lieshadies says:

    Jadi orang tua itu ternyata ga semudah yang dibayangkan ya Pak…# trus jadi banyak terimakasih kepada orangtua setelah tau bahwa jadi orangtua itu super duper komplit rekasane..

  4. ~Ra says:

    Gitu dong… masa (yang) mandiin ibunya terus..

    Kalau ponakan lagi nginep, kadang juga minta aku yang mandiin.. Mereka senengnya pura-pura jadi lumba-lumba..🙂

  5. Pingback: Blogger Yang Tulisannya Sangat Menginspirasi | Lambangsarib's Blog

  6. chris13jkt says:

    Segala sesuatu pasti ada pertama kalinya, Mas. Aku yakin koq lain kali pasti sudah tidak kerepotan dan dag dig dug lagi kalau mandiin Kiky.

  7. cumakatakata says:

    walaupun gak mudah, patut di coba ya pak….

    eh kenapa kiky kok nangis dan lari Pak?

  8. sitiagel says:

    hihihi.. endingnya kok lucu sih?

  9. Pingback: Bersyukurlah « sitiagel

  10. Dyah Sujiati says:

    Hyaaa tidak memuaskan😛

  11. Pingback: Bersyukurlah | sitiagel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s