Hati Hati, Orang Tua Sering Terjebak Pada hyperparenting”

Orang tua pasti berharap buah hatinya menjadi anak yang pandai, berbakti pada orang tua, sholeh, cantik / ganteng dan seabrek keinginan lain. Itu wajar  dan memang  seharusnya begitu.  Akan dirasa janggal dan aneh jika orang tua mengharap sebaliknya bukan ?

Seringkali saya  menjumpai orang tua yang  menganggap bahwa  keberhasilan anak semata mata diukur dari  pencapaian prestasi akademik. Mereka akan bangga dan memberikan apresiasi berlebihan jika anak mendapat nilai delapan atau sepuluh.

Sebaliknya jika anak mendapat  nilai lima atau enam, orang tua seolah kebakaran jenggot.   Mereka akan dibuat sibuk mencari informasi kemana mana. Mereka  akan menganggap anaknya kurang cukup menerima pelajaran di sekolah.  Ujung ujungnya adalah mencari guru les prifat “terbaik”.

Tanpa disadari, orang tua semacam ini sebenarnya sudah  terjebak pada apa yang disebut dengan  “hyperparenting” atau  “pemaksaan kehendak pada anak”.  Yaitu dengan  memaksakan  les tambahan  yang belum tentu anak sukai atau butuhkan.

Kita ambil contoh  seorang anak yang memiliki hobi melukis. Saya yakin mimpi mimpinya adalah  menjadi seorang pelukis di kelak kemudian hari.  Didalam benaknya yang ada hanyalah  goresan goresan  warna di atas kain kanfas, beraneka cat warna, pastel, dan pensil warna. Hanya barang barang yang berhubungan dengan melukis yang mampu menyita perhatiannya.

Kira kira apa yang terjadi pada anak jika ia dipaksa untuk les matematika  ? Tentu rekan rekan  blogger memiliki pendapat yang beragam, bisa minta tolong berbagi  ?

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Hati Hati, Orang Tua Sering Terjebak Pada hyperparenting”

  1. ndin says:

    mungkin dia akan menghiasi buku2 tugas matematikanya dengan gambar2 di sekitarnya pak😀, ketika sedang mendengarkan penjelasan guru lesnya, tangannya mencorat-coret lahan2 kosong di sekitar bukunya

    • lambangsarib says:

      Benar sekali,

      Seperti apa yang terjadi pada teman SMA saya dulu, kelas A1 (Fisika). Buku tulisnya dipenuhi coretan lukisan. Akhirnya dia tidak naik kelas dan menyadarkan orang tuanya.

      Namun sekarang dia sukses memiliki galeri lukisan di solo.

  2. ~Ra says:

    Iya… dulu aku pengen banget masuk sastra, bukan ekonomi.. Tapi sama bapak nggak dibolehin.. Jadinya setengah hati deh.. 😀 ekonom bukan sasreawan juga bukan..
    😆

  3. yeye says:

    Setuju sm Ndin. Ini ky ade ku, hobinya ke seni. Jd tiap buku pelajaran nya dulu pasti ada gbr mbl lah robot lah org lah. hehe

  4. chikuwiw says:

    mengingatkan pada film /novel perahu kertas,dimana keenan yg suka menulis,dipaksa orgtuanya untuk sukses di akademik dan jd pengusaha.hehehe org tua hrsnya bisa lebih bijak menyalurkan bakat anak😀

  5. genthuk says:

    Dengan tulisan ini aku teringat tentang aku dan orang tuaku, aku tidak akan mengecilkan usaha mereka mendidikku, dan memang dari pengetahuan yang mereka miliki itulah mereka bertindak semoga kita bisa belajar untuk bersikap lebih baik kepada anak-anak kita

  6. Ely Meyer says:

    akhir akhir ini sering bhs ttg ortu ya pak

  7. Larasati says:

    pembahasan menarik pak lambang, tp larass kurang ngerti juga yah mgkg krn blum punya anak yah dan hanya ikut membantu mendidik ponakan…klu ponakan pas sama larass, larass lebih membebaskan ke mereka mau apa dan bagaimana dan apa yg mereka inginkan saat itu…tk ingin mengekang mereka harus begini begitu dan rata2 ponakan betah sama larass hehehe malah ortunya ajah yg kadang khawatir tp wajarlah yah ortu khawatir

  8. 'Ne says:

    sayangnya sekarang ini kebanyakan orang tua begitu, memaksakan kehendak mereka tanpa melihat apakah si anak setuju dan menikmatinya juga.. apa yg dilakukan dengan terpaksa biasanya jadi nggak maksimal.. maunya melukis malah suruh les matematika.. stress deh yang ada..

  9. sitiagel says:

    Bisa stres itu anak mas kalo dipaksain gitu.. persis film Taare Zameen Paar tuh mas.
    Btw mas, kalo saya perhatiin yak, seperti mas berbakat menjadi pakar parenting. Coba mas, sesekali coba nulis buku.. sepertinya akan laris dan bisa2 nyaingin Pak Mario Teguh (meskipun dalam bidang yang beda).
    Hehe..

  10. metamocca says:

    Sayah contohnya Om.

    Minat didesign atau satra, eeeehhh… Malah nyasar ke akunting.

    Ya gini, kuliah udh 2x piala dunia masih blm kelar-kelar
    😥

    • lambangsarib says:

      persis sama ~Ra, pinginnya ke sastra malah terdampar di ekonami.

      Saya dulu pingin kerja di pertambangan, sudah masuk, eh gak tahan ninggalin istri lama lama sendirian.

      Langsung resign, dan sekarang mblangsah kemana mana. Hahaha….

  11. cumakatakata says:

    hmmm..
    pastinya bakatnya tak tersalurkan Pak…

    sisannya nyimak aja heheeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s