Anak Itu Pasti Akan Niteni, Niru Dan Nambahi

Anak adalah peniru ulung, terlebih lagi seorang balita. Usia emas pertumbuhan otak merekam seluruh apa yang dilihat dengan sangat baik. Laksana sebuah disket, di usia ini adalah saat dimana sebuah disket diformat. Bisa kebayang kan jika salam dalam melakukan format  ?

Itu bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada anak yang sangat kita sayangi.

Anak laksana spon, yang dengan gampangnya menyerap air. Bahkan daya serapnya jauh melebihi kapasitas. Daya serap anak hampir  tanpa batas dan tak kenal waktu.  Kapanpun ia melihat, mendengar dan merasakan pasti ditiru. Tidak ada batasan jam dan hari, baginya semua jam dan semua hari adalah waktu belajar.

Falsafah jawa mengatakan bahwa proses belajar (termasuk seorang anak yang belajar kehidupan) itu ada  3 N, yaitu Niteni, Niru dan Nambahi.

Niteni adalah proses mengamati dari apa yang dilakukan orang sekelilingnya. Bisa orang tua, bisa teman bermain, bisa saudara, bisa pembantu bahkan orang tidak dikenal sekalipun.

Pernah suatu ketika saya sedang mengeluarkan mobil dari garasi. Anak saya yang menunggu sambil digendong ibunya tiba tiba berucap “eyus… eyus…. eyuss….”, sambil tangannya melambai bak tukang parkir.

Melihat kejadian itu membuat saya tersenyum, terkejut dan bertanya, “siapakah yang mengajarinya ?”. Saya hanya bisa menebak bahwa ilmu itu didapat dari tukang parkir. Tukang parkir tidak pernah mengajarkan itu, mereka hanya melakukan pekerjaan rutinnya. Akan tetapi tampak jelas bahwa anak belajar apa yang  tidak diajarkan. Dia belajar dari orang yang sama sekali tidak dikenal dan hanya dalam momen sesaat.

Niru adalah mencontoh dari apa  yang dilakukan orang sekitar. Hal yang sama terjadi, bahwa dia akan meniru apa saja. Bukan hanya dari manusia, bahkan perilaku hewan pun ia tirukan.

Seringkali saya  menanyakan ke anak tentang berbagai macam suara, umumnya dia mampu menjawab dengan baik. Misalkan suara harimau, “auuummm….”,  suara kambing, “mbeeekkk…”, suara mobil, “ngeng… ngeng…”, suara sepeda motor, “ngeng… din diin”, suara  hujan, tik.. tik.. tik”  dan banyak lagi lainnya.

Suatu ketika saya bertanya, “nduk suara kereta apa bagaimana ?” dia menjawab, “ting… ting… ting…., tuuut tuuut…..”. Lho kok  begitu ?

Saya putar otak bagaimana mungkin suara kereta api bisa berubah seperti itu ? Akhirnya ditemukan sebuah jawaban. Bahwa kata “ting… ting…. ting…” itu seringkali ia dengar disaat kami menunggu kereta lewat di perlintasan kereta api. Sedangkan kata “tuuut…. tuuut…. tuuut…” dia tiru dari film anak anak serial “THOMAS & Friends”.

Contoh suara kereta api  adalah hasil inovasi penggabungan beberapa objek berbeda namun memiliki  hubungan erat. Pertama adalah suara “ting ting ting” diperlintasan kereta api. Kedua adalah suara “tuuut…. tuuut…. tuuuttt….” merupakan suara kereta di sebuah serial film. Dan ketiga adalah obyek yang sama “kereta api”.

Karena kereta api yang sering dilihat adalah KRL ( Kereta Api Listrik – tanpa suara), maka dia menambahkan keduanya dalam sebuah obyek untuk  mendiskripsikannya.    Dalam  falsafah jawa  dinamakan dengan Nambahi.

Gambar diatas memperlihatkan bagaimana seorang anak dengan senang hati duduk didepan ibunya yang sedang membaca kitab suci. Tampak jelas keinginannya untuk belajar dan  meniru sang ibu bukan ?

Pernahkah terbayang jika itu adalah anak anda tercinta dan tepat didepannya adalah seorang pembantu atau “baby sitter” ? Cobalah  sedikit berandai andai, jika pembantu tersebut sukanya melihat sinetron atau film khusus dewasa ? Saya yakin anda bisa menebaknya.

 

Bagaimana dengan gambar ini ? Otak anak balita ini sedang diformat dengan formulasi 3N tersebut. Mungkin hasil format otak   tidak serta merta bisa dilihat hari ini. Tapi yang pasti esok lusa  akan terlihat  dan tak mungkin untuk diformat ulang.

Daya serapnya sangat  luar biasa  dan  tak mungkin difilter. Sebagai orang tua kita mesti hati hati. Namun demikian, kita tetap harus memberikan kebebasan pada anak untuk berekspresi.

Sahabat blogger, menurut anda bagaimanakah cara terbaik yang harus kita lakukan untuk mendapatkan hasil maksimal dalam proses “formatting” anak ?

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Anak Itu Pasti Akan Niteni, Niru Dan Nambahi

  1. ~Ra says:

    Jadi sesa niru siapa ya kok takut banget ama aku?..
    😀

  2. metamocca says:

    (•̩̩̩̩͡_•̩̩̩̩͡)
    Inget anak di rumah, belajar sama yang jaga.
    Banyak perilaku Keke yang kalo saya perhatikan mirip sama Bundanya ( yang jaga ), yang jujur saya tidak suka. Trus saya harus gimana? 😥

    • lambangsarib says:

      susah saya menjawabnya, maaf. Mungkin rekan blogger ada yang bisa membantu ?

      Masalahnya saya bukan ahli psikologi mbak. Saya hanya menuliskan apa yang anak saya lakukan. Kebetulan istri saya “ibu rumah tangga”, dan kami tidak punya pembantu. Jadi semua dibawah kontrol istri.

      Sedikit banyak yang akan terjadi pada keke adalah adanya “percampuran karakter” antara metamocca dengan yang jaga. Dan orang tua harus hati hati, karena imbasnya adalah kelak disaat keke dewasa.

      Kebetulan ibu saya adalah pekerja seperti anda, dan saya besar dibawah asuhan kakek, nenek dan pembantu. Sementara mertua saya adalah ibu rumah tangga yang “sukses” mengurus anak.

      Saya bisa membuat komparasi “produk” dua keluarga besar kami.

  3. JNYnita says:

    Nah itu dia Mas… makanya aku stress klo ada pasien anak lain yang nangis kejer karena bisa berpengaruh ke mood pasien anakku & bisa belajar menolak perawatan dari melihat anak lain yg menolak perawatan… grr…

    • lambangsarib says:

      Mungkin karena istriku mengasuhnya sendiri, jadi anakku jarang rewel. Dokternya pun seneng, karena anak gampang diajak bermain dan bernyanyi. Ia menangis biasanya saat dibuka bajunya atau disuntik. Setelah itu dia pun diam, bernyanyi atau bermain lagi.

      Dalam ingatan saya belum pernah sekalipun dia nangis di mall minta mainan.

  4. Larasati says:

    memang betul yah anak akan meniru apa yg dilihatnya, makasih sharing nya pak…buat pelajaran kelak kalau punya anak🙂

  5. bensdoing says:

    bila sdh punya amanah…mmg gag mudah menjadi ortu hrs menjadi teladan didalamnya…

  6. genthuk says:

    Ketika meminta Anaknya menjadi penghafal Qur’an, Orangtuanya yang harus membuktikan mereka nikmat dengan Quran. Ketika anak diminta untuk menikmati belajar, orangtuanya harus pertama kali yang menunjukkan bahwa belajar itu nikmat. ya, kesimpulannya di mulai dari bapak dan ibunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s