Sinyal Tangis Dan Rengekan Anak Disaat Sakit

Anak  jika mengalami gangguan kesehatan seringkali  hanya memberikan isyarat, karena memang  belum mampu berbicara. Atau mungkin juga karena si anak hanya bisa merengek dan menangis tanpa bisa mendiskripsikan sakitnya ? Bagi anak sakit perut, sakit kepala atau hanya sekedar digigit nyamuk ekspresinya sama, yaitu menangis.

Semasa liburan Iedul fitri tempo hari keluarga kami  mengunjungi kerabat dan orang tua di Jawa Tengah. Libur panjang seperti ini biasanya  seluruh saudara yang di rantau datang berkunjung dan menginap. Sebuah liburan yang menyenangkan, karena acara kangen kangenan dan reuni keluarga besar tentunya.

Liburan juga menjadi  sarana mengenalkan dan mengakrabkan kerabat yang jauh. Kita perkenalkan anak kita  seluruh saudara. Mungkin karena ada hubungan darah dan cinta, biasanya mereka bisa langsung akrab.

Begitu cerianya anak anak bermain, seringkali mereka lupa akan jam istirahat.  Terlebih bila kakek dan nenek mereka ikut nimbrung bermain. Wah….. ruame banget.

Tidur siang terlupakan, tidur malam pun sampai larut. Jam makan yang biasanya teratur menjadi berantakan. Makan nasi sedikit, umumnya lebih gemar ngemil dan makan kueh bersama saudara sebaya.

Dua hari menjelang jadwal pulang ke Jakarta. Saya heran, anak dari pagi tidak mau berhenti bermain. Lari lari terus tidak bisa dikendalikan sama sekali, padahal biasanya bisa diajak komunikasi. Siangnya ibunya laporan kalau kiky mencret mencret. “Tenang saja, sebentar juga sembuh, kebanyakan mie ayam dia”, begitu kataku.

Jam mandi sore. Anak anak semuanya mandi berbarengan di sumur. Istriku datang dan mengatakan kalau kiky badannya  hangat. “Kasih tempra saja, nanti malam juga turun”, begitu yang saya ucapkan menanggapi laporan istri.

Nah, tibalah malam hari saatnya tidur.

Anak ini  tidak mau tidur. Panasnya 38 derajat celcius dan tidak turun turun. Sepanjang malam kiky minta gendong terus ke ibunya. Sama sekali tidak mau bermain atau berebah di kasur. Makan dan minum pun enggan.  Aku mencoba menggendong untuk menggantikan ibunya yang mulai kecapekan, eh dia malah nangis.

Dia tidak mau tidur, hanya sesekali tertidur di gendongan ibunya. Jika direbahkan ke kasur dia terbangun dan  menangis dengan keras.

Untunglah istri yang melankolis itu tak lupa membawa obat obatan untuk keperluan emergency. Sudah beberapa obat kami asupkan, namun nampaknya anak tetap belum ada tanda tanda membaik.

Saya ke rumah sakit umum terdekat, menjumpai petugas medis disana. Petugas UGD mengatakan bahwa “dokter anak satu satunya sedang keluar kota, baliknya besok siang”. Artinya hari ini anakku tak bisa ditangani hingga esok siang. Saya menjadi  panik dan bingung, tidak tahu harus kemana mencari pertolongan medis.

Akhirnya kami  hanya bisa pasrah dan menunggu hingga esok siang. Seluruh anggota keluarga “tegang” sambil menunggui si kecil yang masih tidak mau turun dari gendongan.

Menjelang subuh kulihat kiky sudah mulai bisa tidur. Mungkin kantuknya yang sangat mengalahkan rasa sakit yang diderita.

Sekitar pukul sembilan pagi kiky tidak bangun juga. Nafasnya tampak gak tersenggal. Bibirnya yang biasanya merah kini berubah menjadi pucat, kering dan pecah pecah. Suhu badannya 38 derajat celcius. Matanya tertutup rapat.

Saya semakin  cemas. Siang ini jam  menunjukkan pukul 09:00. Saya pandangi ia terus dan terus dengan tatapan bersalah. Maafkan aku anakku….

Aku mencoba membangunkannya dengan menggoyang goyangkan badannya. Ia buka matanya beberapa detik dan mata itu tertutup kembali. Saya ulangi berkali kali untuk membangunkannya, hanya dalam hitungan detik ia buka matanya.

Nak, bangun nak…… Bangun…… Mimik susu….

Tak ada respon, mata dan bibirnya tertutup rapat. Entah bagaimana paniknya saya kala itu. Didepan saudara dan istri aku coba tegar, namun tetap saja bapak tahu akan kepanikannku.

Aku putuskan untuk membawa  anakku ke RS saat itu juga.

Sesampai di RS ternyata dokter belum ada. Saya tanya ke petugas medis, “kapan dokternya datang ?”, dia menjawab “sore nanti pak”.

Dari siang saya duduk termenung dengan hanya mampu melihat kiky tertidur dipangkuan ibunya yang tak berhenti meneteskan air mata. Waktu seolah berhenti, satu detik terasa begitu  lama dan kami hanya menunggu dan menunggu.

Yang mampu  kami lakukan hanyalah  memandangi wajah dan mencoba menyiumnya. Kuharap ia bangun, tapi tampaknya ia seperti tertidur pulas.

Tepat jam 4 sore doktenya datang  dan kami pun dipersilahkan masuk. Dokter bertanya sakit si anak.  Alhamdulillah istri saya mampu menceritakan  dengan detil riwayat penyakit anak dan kronologinya. Dongkter pun tampak faham dengan penyakit si kecil. Dia periksa  semuanya, sangat detil.

Beberpa saat kemudian, dokter berkata, “anak bapak harus dirawat di RS”. Kalau tidak dirawat anak ini akan …………………………….”, dan aku tak ingin mengulang kata kata itu lagi.

Semua perintah dokter aku laksanakan, anak dibawa ke ICU dan tim medis mulai bekerja. Saya hanya bengong menyaksikan ini semua dengan tatapan mata kosong tak berkedip . Tanpa sadar air mata terjatuh, dalam hati saya berkata “ya Allah selamatkanlah nyawa anakku”.

Maaf anakku,  jika bapakmu  seringkali terlalu mengacuhkan isyarat bahasa tubuh yang kau berikan.

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Sinyal Tangis Dan Rengekan Anak Disaat Sakit

  1. ~Ra says:

    Duh, kasihan ya.. Waktu lebaran itu emang musim diare ya.. Sekarang udah sembuh kan Om?
    Udah sehat lagi kan?

    Salam cubit ya buat Kikynya.🙂

  2. niee says:

    waaahh,,, kalau lagi hari raya dokter yang bertugas emang berkurang ya mas, jadi banyak RS yang kosong dengan dokter. Mudah2an gak pernah sakit seperti itu lagi deh amin🙂

    btw, jangan lupa ikutan GA aku ya mas http://irniirmayani.wordpress.com/2012/10/31/giveaway-sebuah-permintaan/ ditunggu loh🙂

  3. izzawa says:

    untunglah kiki sekrg udah gpp ya om…
    cuma saya agak gimanaaa gitu kok dokterny lama bget dtgnya………..:evil:

  4. lambangsarib says:

    Amien, terimakasih do’anya

  5. danirachmat says:

    Sukurlah kalo sudah sembuh Mas si Kiky.
    Kadang jadi orang tua serba salah ya Mas, ga mau parnoan tapi takut kelewat santai juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s