Warisan Bukan Dari Dalam Dompet, Melainkan Dari Dalam Diri Kita.

Semalam sebelum mata terlelap  saya sempat posting sebuah tulisan pendek di  group BBM (black berry massanger) teman teman alumni SMA. Postingan saya adalah sebagai berikut :

Warisan tak ternilai buat anak anak bukan dari dalam dompet, melainkan dari dalam diri kita.

Yang saya maksud dari posting ini adalah bahwa harta kekayaan memang perlu untuk anak, namun bukan segalanya. Orang tua sebaiknya memang bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang layak buat anak. Orang tua membanting tulang siang dan malam  semata mata untuk memberikan bekal pendidikan yang memadai.

Memang benar jika tidak memiliki “uang” yang cukup, tidak mungkin anak bisa mendapatkan pendidikan yang baik, tidak mungkin anak mendapatkan kehidupan yang layak.

Namun demikian setelah kelak mereka besar, satu satunya yang berperan penting dalam kehidupannya adalah warisan yang tak mungkin hilang. Berupa “copy paste” sikap, perilaku  dan karakter orang tua pada anak. Value yang kita tanamkan semenjak dini menjadi penentu pencapaian prestasi.

Dalam kehidupan nyata, ternyata “personality” lebih berperan dibanding “kecakapan akademis”. Baik  dalam pengembangan karir,  terlebih lagi dalam berbisnis. Kepandaian berkomunikasi, kecerdasan sosial dan kemampuan menghargai seseorang terbukti lebih bermakna. Hanya dengan kedekatan emosional anak dan orang tua, ilmu itu didapat.

Uang hanyalah sebagai alat, uang hanyalah sebagai “bekal imajiner”. Itulah yang sering saya sebut sebagai “uang itu penting, namun bukan segalanya”. Kasih sayang, cinta dan didikan orang tua pada anak adalah “segalanya”.

Pagi tadi sehabis bermain sepeda dengan anak di taman, saya buka bbm group yang sama untuk  melihat apakah ada komentar dari rekan rekan.

Sungguh luar biasa, beberapa teman memberikan komentar yang sangat positif dan motivasional. Bahkan ada satu dua teman yang mengirimkan “direct massage” lewat BB untuk berdiskusi.

Wow….. Semenarik kah postingan saya ? Ah…. ternyata saya terlalu “Ge R – Gegeden Rumongso”.

Bolehkah saya share  ungkapan teman teman saya  yang super disini ? Inilah beberapa tulisan yang sangat menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.

“Perlindungan, perhatian, dorongan dan ketauladanan kelak akan membuat anak lebih baik dan berbeda – Hendro”

Pernyataan ini sungguh luar biasa ! Pendidikan yang benar pada anak kelak akan membuatnya lebih baik dan  “berbeda”.  Terlebih lagi dalam urusan bisnis, “berbeda atau diferensiasi” adalah sebuah keharusan. Tanpa diferensiasi sebuah produk  bisnis bukan saja tidak berkembang, namun perlahan tapi pasti akan tenggelan dan bangkrut.

“Memperlakukan anak versi Sayidina Ali Bin Abi Tholib : 7 tahun pertama perlakukan dia sebagai raja (total service dan berlaku dua golden rules), 7 tahun kedua ibarat tawanan (segala sesuatunya diawasi, diarahkan supaya tidak “lepas), 7 tahun ketiga ibarat partner (libatkan dan beri tanggungjawab seta dimonitor dengan kepercayaan).

Itu akan jadi warisan tak ternilai bagi masa depan anak, kayaknya gak nyinggung isi dompet tuh, tapi perlu sih buat mendukung prosesnya. – Langgeng”

Kebetulan saya bukanlah ahli agama yang intens  mempelajari dunia keislaman. Sayidina Ali adalah sahabat  sekaligus menantu Nabi, beliau juga seorang kholifah.

Adakah sahabat blogger yang bisa memberikan pencerahan dalam hal ini ? Bagaimana kholifah mendidik anak yang juga cucu nabi ? Terlebih lagi dalam tujuh tahun pertama, kedua dan ketiga.

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in cinta, inspirasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Warisan Bukan Dari Dalam Dompet, Melainkan Dari Dalam Diri Kita.

  1. yisha says:

    yeah, yisha jga pengin tahu…………….

  2. Ely Meyer says:

    wah saya belum punya pengalaman dlm hal ini mas,, ikut nyimak saja🙂

    • lambangsarib says:

      terimakasih yah….

      Saya terus terang saja baru belajar menulis. Saya janji untuk menulis setiap hari, tak perduli ada yang baca atau tidak.

      Ternyata menulis itu yang paling susah salah satunya adalah mencari inspirasi. Karena anak masih kecil, sedang lucu lucunya, saya jadikan ia inspirasi.

      Nah sekarang malah “ngebet” banget menulis. Pingin rasanya di hari di ultahnya yg ketiga tahun depan, tulisan2 ini dibundel kayak buku.

      Dibagi bagikan ke kakek, nenek dan seluruh keluarga. Saya gak tahu, apakah akan ada manfaatnya atau tidak.

      Semoga saja bermanfaat.

  3. ~Ra says:

    Berguna nih buat masa depan. Bookmark!
    😀

  4. chrismanaby says:

    Nitip jempol aja dehhhh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s