Alhamdulillah Mereka Berdua Berkarakter Melankolis Sempurna

Sore tadi sepulang bermain tenis  saya tidak langsung masuk kedalam rumah. Sengaja melakukan ini  karena hendak membaca dan membalas beberapa email  masuk. Memang benar bahwa rumah tinggal  dan kantor saya  berdempetan. Hanya dipisahkan oleh sebuah tembok dan ada akses langsung  oleh sebuah pintu.

Mendengan saya  berada di ruangan  kantor, anak saya masuk ke ruang kerja. Aku lirik dia duduk tepat di korsi samping meja dengan membawa sebuah komputer tablet. Tampaknya ia dengan sabar  menemani  membaca satu persatu email  masuk.

Tak lama kemudian terdengar kumandang adzan Maghrib dari musholla sebelah rumah. Bersamaan dengan itu,  istri masuk ke ruang kerja dan menyarankan untuk segera mandi dan sholat maghrib berjama’ah.

Karena pekerjaan tinggal  sedikit lagi selesai, aku meminta istri untuk mengajak  kiky masuk terlebih dahulu. “Gendong dan ajarilah ia ambil air  wudlu dulu bu, nanti saya menyusul secepatnya”, begitulah pintaku.

Sekitar lima  menit berselang, kerjaanku telah selesai. “semua email sudah dibaca dan dibalas, saatnya mandi dan sholat berjama’ah dengan anak istriku”, itulah yang saya fikirkan saat itu.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa sepatu olahraga  selalu aku lepas di kantor. Kemudian membawanya masuk ke dalam rumah dengan menjinjing untuk diletakkan pada tempatnya.

Istriku adalah seorang ibu rumah tangga biasa  yang memiliki kepribadian “melankolis sempurna”. Salah satu cirinya adalah semua perabotan di rumah tersusun rapi. Dengan sangat detil ia susun satu persatu perkakas yang ada.  Termasuk dimana rak sepatu harusnya  berada dan dimana ditempatkan.

Memiliki istri yang melankolis sempurna  itu memang menyenangkan. Karena semua kebutuhan suami  dia tahu. Nomor baju, nomor sepatu, nomor telpon, tanggal lahir, sampai hal hal  detil pribadi pun ia hafal.  Apapun properti yang kita miliki dia tahu, termasuk dimana menempatkannya.  Jika sedang mencari barang, saya  tinggal menanyakan dimana letak barang “A”, barang “B” atau barang “C”,  maka dengan  cermat dia akan menunjukkan  dimana tempatnya.

Luar biasa bukan ?

Webmail segera saya  sign out serta komputer di shut down.

Dalam posisi masih duduk di kursi kerja aku julurkan tanganku kebawah untuk menggapai sepatu olahraga.  Kebiasaanku setelah melepas sepatu adalah meletakkannya di samping  kursi sebelah kiri. Kucoba menggapai gapai, namun tak kutemukan sepatu itu. “Aneh, dimana sepatuku ?”, begitu gumamku dalam hati.

Aku mencoba melongok ke kiri bawah, mataku mengeksplorasi sekeliling meja korsi tempatku duduk. Namun tetap saya tidak menemukannya.

Aku bangkit dari kursi dan mencoba jongkok untuk mencari  dimana sesungguhnya sepatu itu  berada. Aneh…. Saya tidak menemukannya. Semakin dicari ternyata semakin penasaran dibuatnya.

Aku berdiri tegak lagi serta menengok ke kiri dan ke kanan. Sekali lagi mata mengeksplorasi seluruh sudut untu mencari sepatu.

Pandangan mata berhenti di sebuah sudut ruangan. Mataku terbelalak seolah tak percaya. Di sudut itu, di sela  sela antara rak buku dan tembok, disitu kulihat sepatu berada. Walau  tidak tersusun rapi, nampaknya ada yang mencoba berbuat untuk merapikan.

Kembali aku bertanya dalam hati, “kok sepatu ada disitu ?”. Saya yakin ini bukan diperbuat oleh istriku, namun oleh kiky. Disaat konsentrasiku fokus menjawab email yang masuk,  ia ambil  dan meletakkannya di sudut.

Melihat  kejadian ini saya  tersenyum sendiri. Membayangkan putri kecil itu  sudah belajar banyak dari ibunya. Saya bersyukur bahwasannya ia mewarisi  karakter  “melankolis sempurna”.

Cobalah kita  bandingkan antar kedua gambar diatas, terutama dalam “karakter penyusunan” rak sepatu. Saya melihat ada sebuah kesamaan dalam metodologi bertindak. Gambar yang pertama (atas) adalah apa yang dilakukan istriku, sementara gambar kedua (bawah) adalah apa yang dilakukan oleh anakku.

Saya teringat oleh sebuah tulisan “membentuk karakter anak itu muda, hanya dengan memberi contoh”

 

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi, Kiky and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Alhamdulillah Mereka Berdua Berkarakter Melankolis Sempurna

  1. ~Ra says:

    Like daughter like mother ya Om… 😀

  2. chrismanaby says:

    Wihhh,.. seru banget yaaa. buah tidak jatuh jauh dari pohonnya😀

  3. Kalo saya orang plegmatis yang damai pak. heheee melankolisnya ada dikit, tapi ndak dominan.:mrgreen:
    kalo njenengan apa pak?

  4. pitaloka89 says:

    [OOT] Jadi kalau plegmatis cocoknya apa Pak? hehe…

    Mudah2 yang baik dari ibu dan bapak ada di dedenya ya ^_^

  5. Dyah Sujiati says:

    [ikut OOT]
    kalau saya (perempuan) korelis 50:50 sanguinis, cucoknya sama apa, Pak? hehe

    • lambangsarib says:

      ndak tahu ‘e, saya ndak psikolog. Taunya saya koleris kuat yg emosional eh dapet istri melankolis sempurna.

      Dulu awalnya kok nggak pas, bertengkar melulu. Tapi sekarang harus disyukuri…. Kesukaan saya ngotori rumah, dengan setia dia rapiin setiap pagi dan petang.

      Koleris selalu lupa menaruh dimana naruh kunci kontak, melankolis mengingatnya dengan detil. Enaknya, kalau bingung2 tinggal nanya, selesai deh, hehehehe……

      Kalau pergi ya tinggal pergi saja, urusan rumah, makan, anak2, ahlinya sudah pasti sudah menyiapkan dan tak satupun terlewat……..

    • utie89 says:

      hihihi..
      Kq jadi pada nanya cocoknya sama apa, dikiranya cenayang x om.😛

  6. utie89 says:

    itu tuuuh om yang bikin aq agak heran.

    Aq nih kan melankolis ya, ngga tau sempurna/bukan, yang jelas sebagian besar karakter melankolis ada padaku, termasuk menyukai detail.

    Tapiiii… Kamarku berantakan oom, hehe..
    Aq suka rapi sih, kalau lagi “angot”, dirapihin sampe detail banget. Tapi kalau lagi males, ya bodo amat dech mau kayak kapal pecah juga. Dan aq keseringan malesnya om. Hehe..

    Jadi minder duluan nih. Sebagai sesama melankolis, bisa ngga ya aq jadi istri yang baik seperti istri om.:mrgreen:

    • lambangsarib says:

      Mungkin melankolis yang rada rada plegmatis gitu…. yang damai aja….

      Mau bukti ? tuh ketika cerpennya diterbitin tapi tidak di info dan tak dapat honor, ternyata hanya mengucap syukur Alhamdulillah. Hehehe….. pisss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s