Belanja Dengan Anak Belum Tentu Mengajarkannya Berperilaku Konsumtif

Sore tadi istri minta diantar untuk berbelanja ke salah satu minimarket di dekat rumah. Sebenarnya agak malas, karena bertepatan dengan siaran langsung big match Liga Inggris  antara Manchester United (MU) dengan Arsenal.  Maklum saja yah…. bola adalah dunia lelaki. Seolah lelaki itu tak bisa hidup tanpa melihat pertandingan bola. Terlebih lagi dari siang sudah  banyak profokasi teman teman di twitter dan BBM group tentang pertandingan ini.

Namun karena si kecil ikut ikutan merajuk (pasti disuruh ibunya, hehehe….), akhirnya dengan berat hati kukabulkan permintaan mereka berdua. Akhirnya nonton bola cukup di lini masa twitter saja. Lumayan lah, daripada tidak sama sekali.

Begitu tiba di lokasi, otak langsung bertanya, “adakah manfaat positif  mengajak anak anak belanja selain mengajari mereka bertindak konsumtif ?”. Sebuah pertanyaan spontan yang mungkin sulit untuk dijawab.

Otak terus bekerja dan bekerja mencari jawaban. Saya yakin pasti ada manfaat positif  mengajak anak anak berbelanja.

Selama menemani istri memilih satu demi satu belanjaan, mata saya tak lepas dari tingkah polah bidadari kecilku. Terus terang saja saya bukan seorang psikolog yang mampu menerjemahkan perilaku manusia kedalam tulisan. Saya bukanlah orang yang paham tentang dunia anak anak. Namun sebagai ayah, keinginan saya hanyalah memahami perasaan anak dan menunjukkan jalan terbaik bagi kehidupannya kelak.

Saya kaget dan tersenyum sendiri, ternyata barang yang dipajang di setiap rak sebuah mini market bisa menjadi sebuah “puzzle game”. Tanpa  ragu disusunlah kaleng kaleng itu menjadi enam susun, seperti yang tampak dalam gambar diatas.

Pertama kali masuk kiky langsung menuju rak yang berisi minuman rigan dalam kemasan kaleng. Ia menganggap ini adalah “mainan”, saya yakin dia belum bisa membedakan antara  mainan dan  dagangan.

Memang di rumah kami sering  mengajaknya bermain puzzle. Perabotan apapun yang ada dirumah  saya perkenalkan sebagai  permainan. Misalkan tutup gelas, begitu selesai minum teh saya ajari dia bermain gasingan. Disaat mandi dan mencuci sepeda, saya perkenalkan sabun sebagai permainan gelembung udara. Sumpit mie ayam saya  perkenalkan sebagai stik penabuh genderang. Bahkan panci buat masak air pun kami perkenalkan sebagai helm pengaman ketika hendak bersepeda.

Apapun yang ada dirumah sebenarnya adalah  “puzzle games”, orang tua harus benyak belajar dan berfikir cerdas untuk memperkenalkannya.

Di mini market sebenarnya adalah tempat ideal bagi orang tua untuk mendidik anak dalam menentukan pilihan buat dirinya sendiri. Membantunya untuk bisa membedakan apa yang disebut dengan “kebutuhan” dan apa yang disebut dengan “keinginan”.

Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak ada dan kita membutuhkannya saat ini. Sementara  keinginan adala sesuatu yang belum tentu dibutuhkan baik saat ini atau esok lusa, namun kita mengharapkannya. Berbeda bukan ?

Ada baiknya mendidik anak untuk bisa membedakan keduanya  semenjak dini. Kalau kita tidak mau repot repot mengajarinya sedini mungkin, kelak dikemudian hari orang tua  lah yang akan direpot.

Ingat anak remaja yang ngambek jika keinginannya tidak terpenuhi ? Itu semua karena yang bersangkutan tidak bisa membedakan antara “kebutuhan” dan “keinginan”.

Tentunya sahabat blogger sudah cukup paham tentang perbedaan  kebutuhan dan keinginan bukan ?

Terakhir adalah mengenalkan anak akan  manfaat dan esensi dari “transaki”. Dalam hal ini mau ataupun tidak, harus mengenalkan anak akan esensi  fungsi uang.

Mengenalkan anak sedini mungkin akan makna transaksi saya fikir sangat penting. Dalam transaksi ada dua pihak yang terlibat, yaitu pihak penjual dan pihak pembeli.

Pihak pembeli atau pihak yang mengeluarkan uang tentu saja mengharapkan manfaat langsung ataupun tidak langsung dari proses “penyerahan” uang. Sementara pihak penjual atau pihak  yang menerima uang tentu saja akan  memberikan sesuatu (berupa barang atau jasa) untuk dinikmati  pemberi uang.

Transaksi  hanya bisa terjadi jika ada “kesepakatan” antara kedua belah fihak. Jika ada satu fihak yang “tidak sepakat” maka bisa dipastikan proses transaksi tidak mungkin terjadi.

Orang tua harus mampu menekankan pada anak bahwa proses transaksi ini  kita  pada posisi “keluar uang”. Itulah landasan utama  berfikir sebelum melakukan deal transaksi. Jika itu menjadi pijakan berfikir  maka otomatis anak  akan berhati hati dalam bertransaksi.

Lain halnya jika orang tua menekankan pada anak bahwa proses transaksi itu “mendapatkan sesuatu”. Jika landasan ini yang dipakai, maka dengan mudah  suatu saat kelak si anak mengeluarkan  uang untuk transaksi yang tidak perlu.

Semoga apa yang di bagi disini bisa bermanfaat bagi sahabat blogger yang lain. Terimakasih.

See U On The TOP.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky, Motivasi and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Belanja Dengan Anak Belum Tentu Mengajarkannya Berperilaku Konsumtif

  1. Ely Meyer says:

    memang nggak selalu mudah ya mas jd orang tua begitu juga menjadi anak

    • lambangsarib says:

      betul, justru orang tua harus banyak belajar.

      Alhamdulillah, ada wordpress sehingga bisa banyak belajar.

      Pilihannya hanya ada dua,
      capek hari ini untuk kehidupan kelak yang menggembirakan untuk orang tua dan anak.
      Atau santai hari ini dan esok lusa penuh penderitaan.

  2. Dzulfikar says:

    seru yaa mengabadikan kegiatan anak kita. nanti saya coba ah🙂

    • lambangsarib says:

      boleh dicoba mas

      Saya belajar menulis, nyari idenya susah minta ampun. Anak kita adalah sumber inspirasi yang tak kan habis bukan ?

      Saya janji untuk kado ulang tahunnya setiap tahun saya kasih dia buku.

      • Dzulfikar says:

        inspiratif, jarang banget ada ortu yg kasih anaknya buku sebagai kado ultah🙂

      • lambangsarib says:

        itu hanya cita cita pak, janji dalam diri. Enam bulan lagi dia ulang tahun. Saya ngebut dan ngebet nulis, dan harus jadi buku (maaf, walau jelek gak papa) pas di ulang tahunnya.

        Mungkin itu satu satunya kado terindah

  3. Yurike says:

    wah, setuju sekali dengan artikel ini..
    memang kita harus mengajarkan segala sesuatu kepada anak sejak dini, agar di kemudian hari tidak perlu repot lagi..
    jangan terus2an memanjakan anak, karena itu contoh yang salah, anak akan smakin “berontak” apabila keinginannya tidak terpenuhi..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s