Warsito Si Pedagan Kue Keliling, Sahabat dan Motivatorku

Sebut saja namanya Warsito, begitulah biasanya orang menyapanya. Nama aslinya siapa ? ternyata tidak banyak orang yang tahu, termasuk saya dan warga kompleks pada umumnya. Pernah sekali kutanyakan nama aslinya, dia menjawab “apalah arti sebuah nama pak”. Nah, itulah pertanyaanku pertama dan terakhir perihal kehidupan pribadinya.

Yang jelas dia adalah pedagang kue keliling yang sangat menginspirasi saya. Dengan  berbekal dua keranjang penuh kue, setiap hari dengan setia datang antara jam 6 atau jam 7 pagi.  Setiap hari seperti itu, tanpa lelah, tanpa bosan dan tak terasa lima tahun sudah kami mengenalnya.

Bagi orang orang yang malas keluar rumah seperti saya, kehadirannya bak dewa penolong. Berkat dialah seremoni  minum teh terlaksana dengan sempurna. Bagi keluarga kami, minum teh bersama dipagi hari adalah sebuah tradisi. Nah tradisi itu tak kan lengkap jika tak ada jajanan pasar sebagai kue pendamping.

 

Warsito berdiri tegap dan tampak sangat gagah,  ditemani dua keranjang kue dan senyuman ia datangi pelanggannya satu demi satu.

Dalam sehari rata rata ia  berjalan kaki tidak kurang dari 10 km.  Setiap hari senin sampai dengan hari sabtu. Sebuah perjuangan anak manusia  yang luar biasa menginspirasi. Baginya hidup adalah perjuangan. Hujan dan terik matahari bukanlah rintangan berarti. Selama mengenalnya, tak sekalipun  kata mengeluh  terucap dari bibirnya.

Tawa, canda dan keriangan selalu mewarnai aktivitasnya sehari hari. Dengan omset antara Rp. 700,000 s/d Rp. 900,000 per hari ternyata ia pun memiliki mimpi mimpi besar. Salah satu mimpi yang pernah dia ucapkan adalah  “tukang kue naik haji”. Dan itu adalah mimpi besarnya dalam menjalani kehidupan yang keras ini.

Dalam hati aku selalu berdo’a semoga keinginannya beribadah haji segera terwujud. Aku menjadi saksi akan cita cita yang ia yakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkannya.

 

Dua tas besar penuh dengan kue tentu saja beban berat yang harus  dibawa.  Tangannya pun “kapalen” karena barang bawaan setiap hari. Bekas yang tidak mungkin hilang dan kelak akan menjadi saksi bahwa kesuksesan itu  didapat hanya dengan perjuangan.

 

Dua keranjang warna merah  penuh dengan kue.

 

Kue dalam keranjang pun beaneka rupa. Bermacam jajanan pasar diantaranya klepon, gethuk, lemper, kue lapis, kue mangkok dan lainnya.

 

Bagi keluarga kami, klepon adalah makanan fovorit dan satu satunya makanan yang harus dibeli setiap hari. Entah mengapa saya, istri, anak, bibik dan adik semuanya penggemar klepon.

Bahkan istriku berkata bahwa ,”minum teh tanpa klepon ibarat sayur tanpa garam”. Semoga kesukaan klepon keluarga kami bisa membawa Warsito mewujudkan mimpi untuk beribadah haji.

Semoga……., See U On The Top kawan…

 

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi, persahabatan and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Warsito Si Pedagan Kue Keliling, Sahabat dan Motivatorku

  1. Dzulfikar says:

    inspiratif, sosok yg suka bekerja keras

  2. Ely Meyer says:

    salut sama pak Warsito, semoga sukses selalu dagangan beliau ya mas🙂

  3. Titik Asa says:

    Saya suka campur baur kalo melihat perjuangan mencari nafkah dan kehidupan yg lebih baik dari orang2 semacam mas Warsito ini. Saya pikir, merekalah sebenar-benarnya motivator, seandai kita mau belajar. Gratis pula.
    Motivator sejati itu bagi saya adalah semacam guru kehidupan.
    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s