Mengenalkan Fungsi Uang Pada Anak, Antara Fungsi Berbagi dan Fungsi Investasi

Saat ini uang receh koin terkesan sama sekali tidak berharga, terlebih lagi pecahan Rp. 100,- dan Rp. 200,-. Kalau pecahan  Rp. 500,- dan  Rp. 1,000,-  mungkin masih bisa berguna, misalkan  untuk membayar parkir atau untuk uang kembalian.

Namun di tahun 70 an uang dengan nominal segitu sungguh berharga. Saya masih ingat ketika berangkat sekolah SD dulu,  uang saku kami Rp. 10,-. Uang segitu pun masih bisa untuk membeli beberapa kue di sekolah. Singkong goreng atau pisang goreng  waktu itu masih seharga  Rp. 5,- (itu pun  dapat dua potong). Bahkan harga semangkok bakso plus teh manis di restoran termahal kala itu hanya berkisar  Rp. 25,-

Tapi itu dulu….

Kini sungguh jauh berbeda. Inflasi  membumbung tinggi tiap tahunnya menjadikan nilai mata uang kita semakin hari semakin merosot. Sebagai perbandingan saja bahwa semangkuk bakso kelas dorongan saja saat ini dibandrol sekitar  Rp. 7,000,- setiap porsinya.

Lalu apakah uang koin pecahan 100 dan 200 yang ada saat tidak ada manfaatnya   ? Ternyata tetap saja uang tersebut ada manfaatnya.  Mau tahu ? Yuk simak ceritera selanjutnya.

Ini adalah foto  uang pecahan Rp. 200,- yang masih berlaku sah di negeri ini. Memang benar jika uang ini digunakan untuk transaksi, maka tak satupun barang dagangan di pasar mau ditukar dengan uang ini. Misalkan digunakan untuk membayar jasa tukang parkir, mereka pun tentu akan marah marah karena mereka pikir kita mengejeknya. Jika kita berikan ke “polisi cepek”, merekapun ogah menerima karena status mereka saat ini sudah naik peringkat menjadi “polisi nggopek”.

Lantas, haruskah dibuang ? Ah tentu tidak.

Saya menggunakan uang koin ini untuk melatih anak balita (kebetulan anak saya sendiri) untuk  pengenalan dini fungsi  uang.  Fungsi uang itu sendiri sebenarnya  cukup banyak. Namun jika kita salah dalam mendefinisikan fungsi  uang,  cepat atau lambat uang  akan membawa kehancuran pada diri dan keluarga.

Fungsi  uang yang pertama adalah salah satu alat untuk berbagi. Berbagi kebahagiaan antar orang berpunya dengan orang yang  kekurangan  akan  lebih mudah  jika  memiliki uang. Membantu orang yang membutuhkan pertolongan pun paling mudah dengan  uang.

Dengan banyaknya uang koin yang kita miliki, maka dengan mudah kita mendidik seorang anak untuk perduli dan berbagi. Selain dalam rangka beribadah, juga menanamkan pengertian pada anak bahwa uang hanyalah alat, bersifat abstrak dan bukan segalanya. Membagi kebahagiaan dengan sesama adalah salah satu esensi manfaat uang.

Fungsi  lain adalah mengajarkan  anak untuk gemar menabung. Menabung adalah dasar  investasi. Tidak mungkin seseorang mampu “berinvestasi dengan baik” jika tidak suka menabung. Sebaliknya jika seseorang suka menabung maka “intuisi investasi” dengan sendirinya akan terasah.

Tahu gambar di atas ? tentunya tidak asing lagi bukan ?

Benar, itu adalah boneka winnie the pooh. Dia adalah karakter beruang fiksi yang diciptakan AA Milne pada tahun 1926. Kepopulerannya semakin menjadi saat diadaptasi oleh Disney untuk dijadikan film anak anak dan disebarkan ke seluruh dunia.

Lalu apa hubungannya antara boneka winnie the pooh dengan uang koin ?

Ternyata inilah jawabannya. Bahwa boneka winnie the pooh (seperti tampak pada gambar)  bukanlah sembarang boneka. Melainkan sebuah “celengan” lucu yang digemari anak anak.

Celengan adalah nama yang umum dipakai untuk mengumpulkan uang koin atau kertas. Proses ini seringkali disebut dengan menabung. Biasanya dipecah (dibuka) ketika sudah penuh terisi uang atau ada kebutuhan yang sangat mendesak.

Pada saat saat tertentu seperti  jam sarapan pagi hari, makan siang dan makan malam saya selalu menanyakan pada kiky (anak saya) perihal pooh.  Pembicaraan yang paling sering terjadi adalah seperti sepenggal percakapan berikut ini.

Saya : Ki, dimana pooh ? kok bapak tidak lihat dari tadi
Kiky : masih bobok pak.

Kalau kiky jawab bobok, itu artinya celengan masih berada di dalam lemarinya. Karena memang celengan itu dia yang simpan sendiri didalam lemari.

Saya : Sudah makan belum ?
Kiky : belum pak….
Saya : kasihan pooh lapar…., bangunin poohnya, ajak kesini biar makan sama sama

Biasanya kiky langsung berlari menuju kamar, membuka lemari, mengambil dan menggendongnya. Segera dia bawa lari ketempat kita sedang makan.

Kikiy : ini pak pooh
Saya : ini kasih maem, bareng sama bapak (sambil aku keluarkan beberapa keping uang  koin).

Kiki biasanya langsung mengambil koin tersebut dan menyuapi  mulut the pooh. “aaak..”, “ma’em”, “aak…”, yaem….yaem….yaem….. Begitu gumamnya sambil menirukan gaya orang makan.  Setelah “gaya monolognya” selesai, biasanya uang koin langsung dimasukkan kedalam  celengan dari lobang di atasnya.

Kiki : pak…. bapak…. pooh sudah maem.
Saya : wah pinter, kamu suapin pooh sampai kenyang yah ?
Kiky : iya pak
Saya : habis berapa pooh ?
Kiky : dua

Saya tidak tahu kenapa, yang jelas dimanapun anak balita jika ditanya angka maka “dua” adalah jawaban paling sering diucapkan. Mungkin karena gampang diucapkan ya……

Saya : kalau begitu, sekarang pooh sudah kenyang. Antar dia ke lemari, dia ngantuk mau bobok.

Segera kiki berlari ke kamar untuk “menidurkan pooh”, yang berarti mengembalikan ke tempat semula didalam lemari.

Nah, itulah sedikit apa yang saya lakukan terhadap anak saya dalam memaknai fungsi uang. Alhamdulillah sampai saat ini berjalan baik dan dia tau kapan saatnya berbagi dengan sesama dan kapan harus menabung atau berinvestasi.

Semoga bermanfaat.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in cinta, inspirasi, Kiky and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Mengenalkan Fungsi Uang Pada Anak, Antara Fungsi Berbagi dan Fungsi Investasi

  1. loh ada yang kurang, fungsi uang logam yang paling penting adalah untuk kesehatan pak alias buat kerokan

  2. bensdoing says:

    di toko kcil sya, uang recehan spt itu sngt dprlukan buat kmblian…

  3. Ely Meyer says:

    sudah lama saya ndak lihat atau megang uang rupiah mas, baik receh maupun kertas🙂

  4. lambangsarib says:

    oh maaf, ternyata mbak Ely Meyer bermukm diluar negeri yah…? maaf, saya fikir di Indonesia.

    Jika di dalam negeri tidak pernah lihat dan pegang uang koin kan berarti duitnya kertas semua, pecahan 100 (seratus ribu rupiah, maksud saya).

    Hehehe…. kangen pegang duit koin indonesia pecahan kecil yah ?

  5. Dzulfikar says:

    Klo udh gede jd wirausahawan deh🙂

  6. Pingback: Belanja Dengan Anak Belum Tentu Mengajarkannya Berperilaku Konsumtif | Lambangsarib's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s