Cepat Atau Lambat “Suksesi” Pasti Terjadi, Image Perusahaan Adalah Taruhannya

Malam ini saya ingin sedikit  berbagi dengan  sahabat bloger tentang apa yang dialami oleh perusahaan yang saya pimpin. Dua kali sudah kejadian serupa berulang dan berharap ini terakhir kalinya.

Perusahaan yang saya pimpin adalah sebuah jasa cargo yang melayani pengiriman door to door service. Kiriman cargo bisa berupa parsial (sering disebut kiloan)  atau  carter armada truk. Armada yang digunakan adalah truk bak terbuka dengan spesifikasi dari CDD (cold diesel doble), fuso dan tronton. Spesialisasi  layanan adalah rute dari Jakarta ke Jawa – Bali – Mataram, Kalimantan dan Sulawesi.

Jangan dulu berfikir bahwa ini adalah perusahaan besar dengan modal yang berlimpah. Sama sekali bukan dan malah sebaliknya.

Perusahaan ini dirikan berdua dengan istri, bahu membahu dari  modal awal yang  hanya sebesar Rp. 300,000. Orang bilang kalau ini perusahaan modal nekat dan modal dengkul. Malah ada yang bilang kalau ini adalah  perusahaan “adol umuk” alias hanya bermodal omong dowang. Itu saya amini dan memang benar seperti itu.

Kantor pertama kami berada  di sebuah rumah petak, masuk  gang sempit becek  di daerah  Ciracas.  Kantor teraman amat sangat  sederhana,  karena merangkap gudang, merangkap rumah tinggal, tanpa line telpon, tanpa mesin fax dan tanpa internet.

Jatuh bangun dan susahnya membangun sebuah bisnis telah terlewati. Itu semua tak mungkin tanpa dukungan penuh dari sang istri. Pepatah lama mengatakan, “dibalik kesuksesan lelaki pasti ada wanita luar biasa dibelakangnya” itu benar adanya dan nyata.

Dalam recruitmen karyawan dari dulu hingga kini  selalu dilakukan dengan sistem kekeluargaan. Maklum saja, karena perusahaan belum mampu mengiklankan di media massa.  Lagipula gajinya kan “ala kadarnya”, sehingga malu rasanya jika banyak  pelamar dengan ekspektasi terlalu tinggi.

Satu hal yang seringkali dilakukan adalah “mendidik” karyawan. Yaitu suatu proses recruitmen karyawan dari bawah. Sengaja mengambil “calon karyawan” dari kampung (ijasah tidak penting) untuk dididik. Setelah yang bersangkutan dirasa pandai dan cukup, baru dilepas untuk menjadi wakil perusahaan menemui pelanggan.

Dua kali pengalaman saya mendidik seseorang dari nol. Dari tidak tahu sama sekali Jakarta hingga pandai. Dua duanya memang hanya lulusan SLTP, namun memiliki semangat luar biasa untuk belajar.

Bertahun sudah mereka mengabdi di perusahaan dengan fasilitas yang lumayan (minimal saat ini, ketika penjualan dan keuntungan perusahaan mulai naik). Namun  ternyata keduanya dengan mudah “dibajak” oleh perusahaan lain yang lebih besar. Yang mampu memberikan fasilitas lebih menarik dan menjanjikan.

Padahal kalau mau jujur, sebenarnya perusahaan lain membajak seorang karyawan itu hanya untuk “menggali ilmu” yang mereka miliki hasil latihan bertahun tahun. Terbukti jika semua ilmu sudah diserap, yang bersangkutan pun akan “dibuang”. Ibaratnya “habis manis sepah dibuang”.

Permasalahan sebenarnya bukanlah  seorang karyawan senior  keluar kerja.  Yang lebih mencemaskan adalah permasalahan suksesi. Disaat yang senior resign mendadak, ternyata sang yunior belum siap. Ketidak siapan memegang kendali itu menyangkut permasalahan  leadership dan  kapabilitas operasional.

Saya tidak tahu, apakah keterlambatan suksesi menjadi domain perusahaan kecil saja atau  perusahaan besar juga mengalami permasalahan yang sama. Untuk mencari sebuah jawaban, saya mencoba untuk share permasalahan ini ke beberapa group  BBM.

Ternyata diskusi yang dilempar menjadi perdebatan yang menarik. Beragam pendapat bermunculan. Memang benar bahwa beberap pendapat terkesan asal asalan dan “ngaco”.  Namun beberapa  buah pikiran dari beberapa  teman layak untuk dikemukakan disini.

Sahabat saya, sebut saja namanya Wiwid (bukan nama sebenarnya) memiliki pendapat yang sangat luar biasa.

Ditempatku bekerja ada yang namanya OTR (Organization Tallent Review), dimulai dari competency requirement untuk tiap level dalam orang. Setelah itu  dilakukan assesment untuk tiap personel yang duduk dalam tiap level untuk melihat gap keperluan development plan,  sekaligus melihjat future talent ( potensial candidate) untuk diupgrade ke level selanjutnya.  Setiap  posisis harus ditetapkan future talent yang akan siap untuk suksesi dalam waktu 1 th kedepan /3 th kedepan  / 5 th kedepan, disertai dengan keterangan analisa SWOT nya. Sistem OTR ini didukung dengan value  orang yang memungkinkan terjadinya open management system.

Dengan demikian maka tidak ada ketergantungan kepada personal tetapi lebih kepada system. Sehingga kalaupun saat ini ada yang keluar maka operasional akan tetap jalan meskipun ada sedikit keterlambatan dalam hal hal yang bersifat strategic.

Sementara sahabat saya Asmoro (bukan nama sebenarnya) menambahkan pendapat Wiwid  demikian.

Itu kalo sistem manajemen yang sudah ada di perusahaan yang memikirkan SDM dan sustainable developmentnya ok.  Tapi ada juga perusahaan besar yang memakai asas kepercayaan sama orang lama, walaupun kapabilitasnya sedang sedang saja. Kita yang berjuang babak belur direpotkan dengan sistem yang konservatif.

Cepat atau lambat “suksesi kepemimpinan” pasti akan terjadi. Dibutuhkan kesiapan dan ketepatan bertindak untuk terciptanya suksesi yang soft landing. Tanpa kesiapan dan perencanaan yang matang maka kredibilitas dan image perusahaan adalah taruhannya.

.

.

Butuh Jasa Cargo Murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in cargo, inspirasi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Cepat Atau Lambat “Suksesi” Pasti Terjadi, Image Perusahaan Adalah Taruhannya

  1. j4uharry says:

    mantap,, maju terus pak !

  2. SanG BaYAnG says:

    ini artikel kq detil banget.. hmm.. JOSS..wis..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s