Menambahkan Apa Yang Diwajibkan

Sinar matahari menyeruak masuk kedalam kamar. Ditemani segelas kopi susu bikinan istri istri dan beberapa potong tahu gorang yang hangat, sambil membaca buku berjudul “Sepatu Dahlan”. Sebuah buku ringan yang banyak bercerita tentang sepak terjang Dahlan Iskhan dalam pergulatannya melawan kemiskinan. Ceritera penuh penderitaan yang disajikan dengan  jenaka. Hingga separo buku telah dibaca dan tak ada kebosanan menyertai.

Sesekali ku tengok seorang gadis disampingku. Ah…. gadis cantik ini masih terlelap. Sungguh maha karya begitu sempurna telah Tuhan anugerahkan kepadaku. Terimakasih ya Allah atas segala karunia yang telah engkau berikan. Ijinkan aku untuk selalu menyayanginya sebagai upaya untuk mendekatkan dan mencintaiMu.

Pintu kamar berdenyit, perlahan lahan membuka. Seorang perempuan dengan pipi kemerahan masuk dengan sangat perlahan. Dari caranya membuka  pintu dan  dari caranya berjalan saya tahu bahwa itu adalah istriku. Perempuan yang kini tak muda lagi, namun masih terlihat cantik dan anggun.

Langkahnya yang terlalu hati hati itu seolah ingin berujar, “sttt….. pelan pelan, kiky masih tidur. Kasihan ia kalau terbangun”.

Sesaat kemudian secara perlahan ia duduk tepat disampingku. Diatas ranjang tempat aku menikmati minum, pisang goreng dan buku Sepatu Dahlan. Dengan suara agak berbisik ia bertanya, “pak, jadinya kita kurban apa dan berapa ?”

Saya jawab, “kita kurban kambing sekian ekor bu, kan kalau dihitung pas dengan uang simpanan yang ada”.

Istri : Apa tidak kurang ?

Saya : Kenapa kurang ? kan kewajiban kita memang sekian ekor. Lagipula tabungannya hanya sekian.

Istri : Apa tidak sebaiknya ditambahi ? Kalau uang pasti ada, cincin ini bisa dijual. Jika tidak sekarang diperbanyak kurban, apa mesti nunggu tahun depan ?

Saya terdiam, mataku tertuju pada buku yang aku baca. Suasana berubah menjadi hening seketika. Beberapa detik kemudian istriku mengambil gelas kopi susu yang terhidang dan ikut meminumnya.

Aku melirik apa yang barusaja dilakukannya. Dalam hati aku tersenyum, “He…he…. jadi segelas minum berdua. Kayak masih pacaran ya…?”

Memecah keheningan aku katakan, “bu, tunggu kiky ya, begitu ia bangun  nanti aku ajak dia naik sepeda sambil  memilih kambing”.

Pembicaraan tentang jumlah kambing pun terhenti. Kami berdua mengalihkan pandangan ke gadis mungil yang masih saja tertidur pulas.

Diskusi tentang jumlah kambing seolah berakhir tanpa kesimpulan. Seolah terdiam seribu bahasa diantara kita, terutama berkenaan dengan  permintaan istri untuk menambah jumlah kuraban. Namun dalam hati aku  bersyukur memiliki istri yang begitu bersemangatnya menjalankan perintah perintah Tuhan.

Dalam hati aku berguman, “terimakasih yaa Allah, engkau hadirkan ia untuk menemani dalam kehidupanku yang sebentar”. Mataku menerawang jauh dan melamunkan sebuah kata, “terimakasih istriku, kau kuatkan aku dalam berbakti pada Ilahi”.

Semoga kami mampu menambahkan dari apa yang diwajibkan ……………

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in cinta, inspirasi, Motivasi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Menambahkan Apa Yang Diwajibkan

  1. cumakatakata says:

    Masya Alloh, semoga langgeng sampai ke syurga ya Pak…
    salam hormat saya buat Istri bapak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s