Setangkai Bunga Melati Membuat Mataku Berkaca

Kebiasaan Kiky saban harinya  adalah bangun tidur  jam tujuh pagi. Begitu terbangun bisanya ia  langsung mencari sang ibu untuk minta minta segelas susu. Sambil memberi salam “assalamualaikum sayang…” sang ibu memberikan segelas susu sambil mencium pipi kiri, pipi kanan dan keningnya. Itulah rutinitas sehari hari yang sudah berjalan semenjak lama.

Namun pagi ini ada yang berbeda,  Ia bangun agak pagi sekitar pukul enam. Berbeda dari hari biasanya, karena ia langsung menemui saya yang sedang ngepel teras halaman depan. Dia berlari menghampiri sambil berusaha memeluk, minta gendong dan mencium pipi. Dalam kekagetan, aku mencoba memeluk, menggendongnya walau terasa sangat berat dan berusaha pula mencium keningnya.

Sejenak kemudian ia berkata, “pak ayuk naik sepeda pak…., kiky mau naik sepeda, jalan jalan”. Aku tertegun, dalam hati bertanya tanya, “kenapa dengan anak ini ? bangun pagi kok tidak minta susu malah langsung ngajak jalan jalan naik sepeda”.

Otakku bekerja keras mencari sebab musabab ketidawajaran ini, namun tak menemukannya.

Aku yakin, bahwa tak ada seorangpun ayah yang menolak permintaan seorang anaknya bukan ?

Segera aku boncengkan kiky dan mengajak kelililng naik sepeda. Sepeda berjalan dengan pelan menyusuri jalanan perumahan. Sesampai di pertigaan ia berkata lagi, “pak berhenti pak”.

Setelah direm sepeda pun berhenti. “memang ada apa ky ? kenapa berhenti disini ?”, begitu tanyaku. Dia tidak menjawab, dan malah minta turun dari sepeda.

Kubantu untuk menurunkannya dari sepeda putih,  sambil berlari ia  ke taman yang berada di tengah tengah pertigaan. Kuamati saja anakku ini dari kejauhan. Ternyata ia masuk ke taman dan memetik sebuah bunga melati liar yang tumbuh disana. Dua tangkai telah dipetik, segera ia kembali menemuiku yang sedang melongo mengamatinya.

“Pak pulang pak…..”, itu katanya sambil memegang celana pendek yang kukenakan. Kakinya tampak berusaha menaiki sepeda, walau tak mampu. Saya bantu ia membonceng sepeda sambil saya tanya, “bunga buat apa itu ky…?”

“ibu pak…. buat ibu, bunga buat ibu”, kata kata yang keluar dari mulut mungilnya itu ternyata membuat mata berkaca kaca. Terbayang wajah seorang perempuan dirumah yang sedang menunggu kami. Mungkin saat ini perempuan itu sedang menyapu, mengepel, memasak, atau bahkan sedang gundah  mencari dimana kami berdua.

Ternyata apa yang  kuajarkan pada bidadari kecil ini telah  membuahkan sedikit hasil. Ini baru awal, bukan akhir. Masih terlalu panjang rentang waktu kedepan untuk sebuah keberhasilan mendidik buah hati.

Seorang anak dilahirkan dalam keadaan suci. Laksana kertas putih belum tertulisi. Orang tua berkewajiban menulis di kertas tersebut dengan tulisan tulisan akan makna cinta dan kasih sayang. Bukan tulisan penuh dendam dan kebencian.

I Love U ………

Butuh jasa cargo murah ? Via tiwtter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in cinta and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s