Menikah Itu Mahal Atau Murah ?

Siang tadi saya menghadiri sebuah acara resepsi pernikahan anak seorang sahabat. Prosesinya  cukup meriah dan diselenggarakan di sebuah masjid  kawasan DPR – MPR RI. Ratusan tamu undangan memenuhi gedung pertemuan  sejuk ber AC. Beberapa pejabat tinggi negeri ini tampak hadir dan memberikan sepatah dua patah kata sambutan.

Melihat dari kemewahan prosesi  acara,  tampak jelas perpaduan antara dua budaya berbeda. Budaya lampung dengan nuansa melayu yang kental dan budaya jawa tengah yang melankolis. Mempelai pria tampak  begitu gagah, mempelai perempuan begitu cantik dengan kerudung khas lampung. Keserasian sepasang mempelai menambah semarak acara.

Menu makanan yang disajikan pun cukup menggugah selera. Variannya cukup banyak dan berlebih. Makanan tradisional dan moderen terhidang dengan apik untuk memanjakan tamu yang hadir. Bahkan seorang artis ibukota mengiringi dengan lagu lagu kenangan nan merdu.

Kemewahan acara, menu tersaji  dan tamu tamu yang hadir diperkirakan acara ini menghabiskan biaya hingga ratusan juta rupiah. Kebetulan yang memiliki hajad adalah seorang pejabat negeri, sehingga mungkin biaya bukanlah sebuah masalah.

Sementara itu tadi  sore  ada seorang sahabat berkunjung ke rumah. Namnya Jamino, seorang pemulung di kawasan manggarai. Ia curhat tentang  sulitnya mendapatkan  sebuah “surat nikah”. Walau usia pernikahannya sudah lebih dari 5 tahun, namun hingga kini  ia belum memiliki secarik kertas legalitas dari KUA (Kantor Urusan Agama).

Karena kesulitan biaya, waktu itu  ia langsungkan pernikahannya dengan cara hukum islam saja. Cukup acara ijab kobul di sebuah musholla sebelah rumah  dan diakhiri dengan persta sangat sederhana. Tak ada  kemeriahan waktu itu, yang ada hanyalah kekhidmadan.

Jamino menceriterakan bahwa untuk mendapatkan surat nikah, paling tidak harus membayar Rp. 750,000. Bagi sebagian orang, uang segitu mungkin bukanlah sebuah masalah. Namun baginya uang sebanyak itu setara dengan pendapatannya selama dua bulan.

Sebenarnya yang dipusingkan bukanlah secarik kertas dari KUA. Bagi kebanyakan pemulung di kawasan manggarai, surat  tidaklah  penting. Makan adalah prioritas utama. Dalam  sehari bisa makan sebanyak tiga kali adalah sebuah kemewahan.

Yang membuat mereka pusing adalah mengenai nasib anak anak mereka. Untuk menyekolahkan anaknya kelak,  sekolah mewajibkan untuk melengkapi  akte kelahiran. Sedangkan akte kelahiran bisa didapatkan hanya jika memiliki surat nikah sah yang dikeluarkan KUA.

Hal itulah yang saat ini  menjadi beban para pemulung  pada umumnya. Prinsipnya mereka menginginkan anak anak sekolah layak sebagaimana anak anak pada umumnya. Namun ternyata pemerintah melalui Kantor Urusan Agama mempersulit mereka.

Padahal kita semua tahu bahwa KUA adalah sebuah lembaga resmi pemerintah yang banyak dihuni ahli ahli agama. Ironi…..

 

 

Butuh Jasa cargo murah ? via twitter @lambangsarib

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in cinta and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Menikah Itu Mahal Atau Murah ?

  1. genthuk says:

    Lebih mahal lagi ketika kita diminta pertanggungjawaban atas janji yang kita ucapkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s