Sholat Jum’at Penuh Tanya

Sholat jum’at yang terasa aneh sekaligus istimewa. Kebetulan kali ini berkesempatan menunaikan sholat jum’at di Masjid jami’ Al Musyarrofah. Sebuah masjid yang asri dan teduh di jl sultan syahrir no 1 menteng, Jakarta Pusat.

Karena harus mengantar anak dan istri dulu ke RS Bunda – Menteng, saya datang agak terlambat. Adzan telah lama dikumamdangkan, sementara itu khotib sudah beberapa saat diatas mimbar. Ceramah sholat jum’at pun sebentar lagi usai.

Masjid yang dipenuhi jama’ah memaksa saya untuk berdiri dibarisan paling belakang. Tiba tiba kaki saya ditepok oleh seseorang yang dari tadi duduk. Dengan senyuman ia isyaratkan saya untuk duduk disampingnya.

Shof yang berjubel itu terasa semakin sempit saja. Setelah saya duduk, ia ulurkan tangan utk saling berjabat. Seolah ia ingin berucap “kita saudara kawan”. Dengan senyuman pula aku jabat erat tangannya. Ada getar persahabatan terasa.

Wajahnya putih bersih berkulit pucat. Perawakan tinggi besar, rambut berwarna merah. Dari ciri fisiknya mudah ditebak bahwa ia seorang “bule”. Ia seorang muallaf.

Ketika berjabat tangan, aku kaget bercampur heran. Perasaan campur aduk yg teramat sulit diutarakan dengan kata kata. Di kedua tangannya ada tatoo berbahas arab “bismillahirrohmanirrohiim”.

Aku hanya melihat dan tercengang. “Luar biasa si mualaf ini”, begitu gumamku. Ia tatokan kata2 tanda keimanan di tangannya.

Beberapa ulama mengharamkan tatoo di badan. Namun untuk tatoo ini, “Susah untuk menjustifikasi apalagi menghakimi”.

Apakah ini ekspresi sebuah ketaatan mutlak pada Tuhan ? Apakah itu ekspresi kecintaan mutlak pada Tuhan ?

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat. Hanya Tuhan dan yang bersangkutan lah yang tahu.

Sepanjang khotib berkhutbah, angan dan khayalan hanya tertuju pada tato itu. Tak tahu apa yang diwejangkan sang khotib. Hingga suara iqomah tanda dimulainya sholat membuyarkan seluruh angan.

Semua jama’ah berdiri pada shofnya untuk menunaikan dua rakaat sholat jum’at. Karena shof di depan agak longgar, akupun melangkah hendak memenuhi shof didepan.

Alangkah kagetnya aku, seseorang di samping marah2 sedikit menghardik. Ia katakan jika shof sudah penuh, tidak ada tempat lagi buat jama’ah lain, sudah sesak. Dengan nada tinggi ia mintaku untuk keluar masjid.

Untuk keduakalinya aku tertegun dan tak bisa berkata. Dalam kebingungan kulangkahkan kakiku keluar masjid, untuk mencari tempat kosong.

Untunglah seseorang memanggil dengan lambaian persahabatan. Dari pakaiannya yang kumal dan kotor, terpancar kesucian hati. Panggilan untuk menegakkan sholat disampingnya menggetarkan perasaanku yang galau.

Ia gelarkan selembar koran bekas sebagai alas pengganti sajadah. Atas pertolongannya, akhirnya aku bisa sholat jum’at. Terimakasih banyak sahabat. Hutang budi ini tak mungkin bisa dibayar dengan segala yg kumiliki.

Setelah salam, segera ia menoleh dengan senyum keimanan. Diiulurkannya tangan utk berjabat erat dan aku tersenyum menyambutnya.

Hingga keluar masjid, aku bertanya tanya. Hikmah apakah gerangan ini semua ?

Pertama bertemu dengan muallaf bertato kalimatullah. Kedua bertemu dengan seseorang yang “seolah olah sholeh”. Ketiga bertemu dengan si kumal berhati suci.

Apakah benar bahwa batas antara kesalehan personal dan kesalehan sosial itu teramat tipis

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in Motivasi, persahabatan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s