Reward Atau Punishment Adalah Sebuah Pilihan

Sebuah cerita menarik pernah saya alami sekitar tahun 1999 an. Tepat waktunya sudah laupa, yang pasti kejadian ini  sewaktu saya masih bekerja  sebagai  seorang salesman di Pandu Siwi.

Hari sabtu pagi, seluruh karyawan diminta datang ke kantor tepat pukul 07.00. Saya dan seluruh karyawan  tiba sebelum pukul tujuh. Sesuai tradisi jika boss perintah, tak ada alasan untuk berargumentasi. Jika kita datang sebelum waktunya maka senyuman ramah plus uang saku tambahan sebagai reward. Lain halnya jika datang terlambat, yang ada omelan dan  uang makan yang dipotong otomatis.

Reward dan punishment seperti itu yang Boss tradisikan di tempat kerja. Pilihan sepenuhnya ada di tangan karyawan. Pilih penghargaan (uang) atau ganjaran  omelan dengan pemotongan uang makan. Saya sebagai yunior pasti bisa ditebak, “pilih uang tambahan !”.

Pagi itu dibuka dengan sepatah dua patah kata oleh direktur  operasional yang diikuti berturut  turut oleh direktur marketing, direktur keuangan dan terakhir Direktur  HRD. Pak Bhakti (nam  Big boss) kala itu hadir hanya menyaksikan, tak berbicara sepatah katapun.

Satu hal yang paling saya ingat adalah  disaat Kepala HRD berkata, “mulai senin minggu depan,  uniform untuk perempuan kita ganti”. Kantor akan membagikan masing masing tiga setel baju merah lengan panjang dan celana hitam  panjang. Kalau tahun lalu seragam untuk perempuan adalah rok span, mulai minggu tidak boleh digunakan lagi. Sementara itu untuk seragam laki laki tetap seperti semula, tidak ada perubahan.

Sebelum mengakhiri pembicaraan,  pak Markus (nama Direktur  HRD) mengatakan, “bagi karyawan perempuan, setelah acara ini harap satu persatu menghadap Pak Bhakti”. “Jika mau protes atau  tidak setuju dengan kebijakan perusahaan, silahkan disampaikan langsung ke beliau”, begitu tambahnya.

Pertemuan pagi itu diakhiri dengan do’a yang dipimpin oleh salah seorang kurr. Setelah acara bubar, karyawan perempuan satu persatu menghadap boss. Kasak kusuk diantara karyawan terjadi. Mereka saling bertanya, ada apa gerangan big boss meminta mereka menghadap satu persatu. Ada pula yang mulai menggalang dukungan untuk menolak  pergantian seragam. Sebagian menganggap pakai celana itu tidak “perempuan” dan menhilangkan “keseksian” nya.

Akhirnya saat yang mendebarkan  terjawab  juga.

Big boss mempersilahkan masuk, duduk dan menyalami setiap karyawannya dengan ramah. Tak lupa ia  menanyakan bagaimana kabarnya. Setelah karyawan menjawab sepatah dua patah kata, mulailah ia mengutarakan maksudnya.

“Ini ada dua buah amplop di atas meja, di kiri amplop coklat dan di kanan amplop putih.  Kedua amplop berisi uang yang cukup untuk membeli perlengkapan perempuan dan menambah kebutuhan di dapur”, begitu ucapan pembukanya.

Kemudian ia lanjutkan, “Jangan takut dan gundah, tidak ada yang salah dengan anda. Pekerjaanmu bagus dan saya sangat suka”.

“Tolong pilih salah satu amplop tersebut. Amplop warna putih berisi  uang yang cukup untuk membeli jilbab dan segala asesorisnya. Jika kau pilih itu, maka mulai senin depan kamu datang ke kantor  harus mengenakan jilbab selama diarea kantor”.

“Sedangkan amplop yang berwarna coklat berisi uang yang cukup banyak untuk keperluan hidupmu selama tiga bulan kedepan. Uang pesangon dan gajimu terakhir juga ada didalamnya”.

Diakhir pembicaraan selalu ditutup dengan kata yang sama, “silahkan pilih diantara kedua amplop”. Apapun yang anda ambil adalah keputusan anda dan saya berterimakasih untuk itu.

Setelah semua karyawan perempuan yang muslim masuk ruangan, kemudian karyawan yang berkeyakinan lain dipersilahkan masuk. Pak Bhakti hanya memberikan amplop berwarna putih  berisi uang sembari mengatakan, “ini buat tambahan keperluan di rumah”. Kewajiban mengenakan jilbab hanya untuk muslimah, dan anda tak terikat oleh peraturan yang saya buat. Tolong hormati saja yang mengenakan jilbab.

Itulah kejadian menarik yang pernah saya lihat sendiri, bagaimana pemimpin dengan karakter koleris kuat sempurna memimpin. Memang sebuah keputusan  otoriter terkadang dibutuhkan. Demi kebaikan bisnis dan pengembangan sebuah  perusahaan.

Satu hal yang luar biasa adalah bahwa seluruh karyawan mengambil amplop berwarna putih. Itu artinya semua sepakat  mengenakan jilbab dihari senin esok, kecuali non muslimah tentunya.

Hari senin minggu depannya kantor sedikit berbeda. Big boss nampak ceria, bagitupun seluruh karyawannya. Banyak kelucuan terjadi hari itu, terutama yang baru pertamakali mengenakan jilbab.

 

 

 

Membutuhkan jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in Motivasi and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Reward Atau Punishment Adalah Sebuah Pilihan

  1. Tulisan ini tadi pagi jadi bahan diskusi saya n suami. Insya allah saya akan terapkan di perusahaan saya. Terimakasih sharingnya ya pak. biar tulisan jadul tetep TOP😀

  2. lambangsarib says:

    Sejarah lama, sewaktu jadi seorang salesman di perusahaannya Pak Bhakti. Alhamdulillah, jika dulu beliau adalah boss, sekarang beliau adalah seorang sahabat sekaligus guru bisnis saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s