Selamat Jalan Saudaraku, Beristirahatlah Dengan Tenang Disana

Seorang sahabat lama di kampung  (sebut saja namanya Santoso) mengirim pesan lewat Black Berry Massanger. Pesannya begitu singkat  namun membuat tertegun dan seakan tak percaya. “mbakku ipar meninggal bro… aku nungguin dari pagi…”, begitulah sepenggal pesannya.

Setelah membaca pesan tersebut akupun terdiam, duduk tak bergerak dan tak bersuara. Seolah tak percaya apa yang sedang kubaca. Benarkah pesan ini ? Salah kirimkah Santoso ? Mungkinkah Santoso berbohong ? Bergemuruh banyak tanya di dalam hati, namun tak  satupun bisa terjawab.

Dalam kebimbangan hati, sejenak anganku menerawang sekitar dua bulan yang lalu saat hari raya Idul Fitri. Waktu itu aku  sedang menunggu anakku yang  dirawat di salah satu rumah sakit swasta  di kampung. Sebuah jenis penyakit pernafasan yang sering disebut pneumonia memaksa kami untuk merawatnya secara intensif. Demi kesehatannya, apapun akan kulakukan. Karena memang anak adalah permata  dan buah hati.

Entah dapat berita darimana, tiba tiba  Santoso datang menjenguk beserta anak, istri dan kakak iparnya. Pertemuan itu sungguh membahagiakan kedua keluarga kami. Pertemuan dua orang sahabat memberi sebuah kebahagiaan yang tak mungkin diungkapkan dengan untaian berjuta kata.  Walau suasana kangen kangenan itu di rumah sakit, namun pertemuan itu begitu bermakna. Aku yakin bahwa ia pun tak kan pernah melupakan saat saat indah itu.

Memang keluarga  kami sudah bersahabat semenjak lama. Semenjak SMA, kuliah, bahkan merantau di Jakarta kami lewati bersama dengan suka dukua. Terhitung sejak  tahun 1987 awal perkenalan kami di bangku kelas 1 SMA. Persahabatan dan silaturahim ini akan kami perjuangkan hingga kemampuan terakhir kelak.  Walau jarak dan waktu memisahkan, namun hati kami tetap menyatu sebagai sahabat karib.

Dalam pertemuan yang tak lebih dari 2 jam itu  lebih banyak diisi dengan canda  kedua keluarga. Kebahagiaanku semakin menjadi ketika kulihat anaknya Santoso mampu menghibur anakku yang tergolek di ranjang tak berdaya. Mereka tampak akrab dan saling berbagi. Dari ketulusan  senyum anak anak kami seolah mewarisi persahabatan orang tuanya.

Kulihat lagi pesan di black berry yang masih kupegang erat di tangan. Aku baca sekali lagi. Ternyata tulisannya masih sama, tak berubah dan tak ada pesan tambahan lain setelahnya.

Bergegas aku telpon Santoso menanyakan perihal kematian kakak iparnya. Ia menceritakan bahwa sang kakak sakit sudah lama, berbilang tahun sudah ia melawan ganasnya  kangker rahim. Dan kini pertahanan tubuhnya tak kuat lagi. Ia menyerah kalah pada penyakit mematikan yang satu ini.

Jadi,  disaat pertemuan terakhir dua bulan yang lalu itu sebenarnya sang kakak sudah sakit parah. Namun demi kebahagiaan keluaraga kami, ia tak mau menceritakan penyakitnya. Ia pendam dalam dalam rasa sakit  yang begitu menyiksa. Bahkan  begitu pandainya ia  menyembunyikan  penderitaan dalam  aura wajah yang tersenyum.

Kini sang kakak sudah  pergi untuk selamanya, menemui sang kholik. Kami semua berharap ia berada di tempat yang layak disisiNya. Hanya penyesalan yang kini kurasa. Sebuah penyesalan teramat sangat, karena tak mampu berbuat apa apa disaat keluarga seorang sahabat menderita.

Santoso, i m so sorry……………

 

 

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo
 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in persahabatan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Selamat Jalan Saudaraku, Beristirahatlah Dengan Tenang Disana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s