Kemarin Dan Hari Ini Adalah Realitas, Besok Adalah Mimpi Mimpi

Dalam menjalani rutinitas  kehidupan setiap manusia pasti  memiliki mimpi masa depan. Seringkali ini  disebut dengan  cita cita. Walau agak sedikit berbeda, namun cenderung disama artikan. Diakui atau tidak, mimpi itu sudah ada dan tertanam dalam hati semenjak lahir.

Mimpi  manusia  berubah setiap kurun waktu tertentu. Umur,  lingkungan tempat tinggal dan pergaulan sangat berpengaruh terhadap mimpi.   Mimpi anak anak  pasti berbeda dengan  mimpi mereka yang  beranjak dewasa dan tua. Seseorang yang tinggal di lingkungan perkampungan kumuh tentunya akan memiliki mimpi mimpi  berbeda  dibanding dengan yang bermukim di perkampungan elit.

Begitu pun halnya dengan kawan pergaulan. Seseorang yang banyak bersahabat dengan pemulung tentu memiliki mimpi mimpi  berbeda dengan orang yang banyak bergaul dengan kalangan professional. Seseorang yang setiap harinya berinteraksi dengan pendakwah tentu saja memiliki mimpi yang  berbeda dengan yang setiap hari bergaul dengan pencuri.

Manusia memiliki gaya dan pandangan yang berbeda dalam menyikapi mimpi mimpi. Jawaban ternyata cukup bewarna. Itu tercermin dari beraneka ragam jawaban beberapa sahabat  di akun facebook, twitter dan broadcast BBM.

Ada yang bermimpi menjadi orang kaya. Itu sah sah saja, bahkan setiap muslim itu wajib hukumnya untuk kaya. Dalam ajaran Islam ada kewajiban membayar zakat (fitral, mal, shodaqoh dll) serta ibadah haji bagi yang mampu. Itu artinya, secara tersirat setiap muslim harus kaya. Bagaimana mungkin seseorang mampu membayar zakat dan pergi  beribadah haji jika kurang mampu ?

Ada lagi yang bermimpi untuk membangun mushollah, membahagiakan seluruh anggota keluarga dan sahabat. Tentu saja terminologi “membahagikan” sangat subyektif dan situasional. Itu adalah sebuah mimpi yang teramat  indah. Seolah ada derajat keikhlasan tertinggi didalam sebuah gerakan berbagi.

Bahkan ada sebagian  yang ingin menikah lagi atau berbulan madu untuk kedua kalinya. Itu sah sah saja, tidak ada yang salah dalam menentukan mimpi mimpi bukan ?

Dalam menyikapi mimpi mimpi mereka, pendapat  terbagi menjadi dua kelompok besar. Sebagian  membunuh mimpi mimpi besar mereka dan sebagian yang lain berusaha mewujudkannya.

Sekelompok orang dengan fikiran negatif  cenderung pada sikap pesimistis dengan mimpi mereka. Beribu alasan mereka kemukakan untuk mendukung sikap kalah mereka. Argumentasi argumentasi yang terkadang tidak ada hubungannya pun seringkali kemukakan. Seolah mereka kalah sebelum bertanding.

Kondisi masa lalu, tingkat pendidikan dan permodalan seringkali menjadi kambing hitam. Kadangkala  begitu naifnya mereka menyalahkan kedua  orang tua yang begitu menyayangi. Bahkan ada yang berani  menyalahkan Tuhan yang maha pemberi rejeki.

Sebagian kelompok yang yang  fberikir positif cenderung untuk tetap optimis disegala situasi. Mereka  tegar diatas penderitaan yang teramat sangat. Cibiran dan Makian menggelorakan semangat mereka. Kekurangan yang ada pada dirinya mampu dirubah menjadi kekuatan yang maha dahsyat. Kemiskinan dan realitas masa lalu ia terima sebagai sebuah konsekuensi  kehidupan untuk digunakan sebagai fondasi mimpi besarnya.

Kondisi hari ini dan kemarin adalah realitas, masa depan adalah tantangan. Kita memiliki kesempatan untuk memilih optimistik atau pesimistik. Lingkungan dan teman yang kita pilih adalah salah satu faktor penentu pilihan kita.

See U On The TOP

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in Motivasi and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s