Joko Santoso, Bagiku “He is a REAL HERO”

Hidup di Jakarta memang berat. Ada  pepatah yang mengatakan “sekejam kejamnya ibu tiri masih lebih kejam  ibu  kota”. Benarkah demikian ? Jawabannya bisa beragam dan sangat tergantung pada sudut pandang  seseorang. Orang berpandangan positif menganggap kerasnya kehidupan Jakarta adalah motivasi memperbaiki diri. Bagi orang berpandangan negatif kerasnya kehidupan Jakarta adalah justivikasi kegagalannya.

Tahun 1998 untuk pertama kalinya saya merasakan kerasnya kehidupan jakarta. Tinggal di rumah petak berukuran 3 x 9 meter2, dibagi menjadi tiga ruang tanpa pintu, yang  masing masingnya berukuran 3×3 meter2. Ruang depan difungsikan sebagai ruang tamu dan ruang makan. Ruang tengah difungsikan sebagai ruang istirahat dan tidur. Sementara itu ruang belakang dipakai untuk  gudang, kamar mandi dan dapur  beserta  segala pernak perniknya.

Dimusim kemarau rumah kontrakan begitu panas, banyak nyamuk dan tikus. Jika  buka baju karena kepanasan maka dikerubuti nyamuk Jakarta yang kebal obat nyamuk bakar. Jika  pakai baju, hanya dalam hitungan menit baju tersebut basah kuyup oleh keringat. Laksana buah simalakama.

Dimusim penghujan rumah kontrakan begitu dingin karena bocor disana sini. Bahkan jika curah hujan cukup tinggi, air masuk kedalam rumah lewat sela sela talang dan genting. Tembok yang basah karena air hujan menambah dingin dan lembab.

Itulah sekelumit kisah sedih anak perantauan di Jakarta. Datang ke ibu kota  dengan segudang asa  hanya dengan  berbekal ijazah, tanpa uang yang cukup  dan sanak saudara.

Di tahun itu untuk pertama kalinya saya belajar berdagang. Sama sekali tidak memiliki pengalaman  dan darah dagang. Buta dengan  ganasnya  mafia perdagangan, serta tanpa modal yang memadai terasa bertambah berat beban hidup.

Waktu itu saya mulai dengan berdagang kaos. Kulakan cukup di pasar tanah abang dan dijual di masjid masjid di Jakarta. Masjid Istiqlal, Masjid Kwitang, Masjid Al A’Raaf, Masjid Sunda Kelapa dan  Masjid At Tahiriyah adalah langganan tempat berdagang. Jadi, sering ke masjid itu belum tentu  untuk beribadah seperti kebanyakan orang, melainkan buat mengais rejeki.  Setiap hari Jum’at berdagang di emperan Masjid Istiqlal. Setiap minggu pagi di Masjid Kwitang dan siangnya di Masjid Al A’Raaf. Sementara di hari lain ngider kemanapun ada kegiatan keagamaan, semata mata hanya untuk berdagang.

Pengalaman berdagang kaki lima di emperan satu masjid ke masjid lain itulah  yang menempa mental dan karakter. Satpol PP dan petugas keamanan masjid adalah kawan sekaligus lawan perjuangan. Bagi pedagang kaki lima teriknya matahari adalah berkah. Sementara itu  hujan adalah mala petaka. Ada tidaknya transaksi perdagangan di emperan masjid  sangat dipengaruhi oleh cuaca. Jika hujan bisa dipastikan tak akan ada proses jual beli, yang berarti tak ada rejeki.

Pernah suatu ketika di musim penghujan, dimana hujan lebat turun menerus  beberapa hari. Hari jum’at dan minggu sebagai “hari datangnya rejeki” lebih banyak hujan dibanding panas. Dagangan menumpuk dirumah petak yang lembab. Istri mulai gelisah karena uang belanja tak ada lagi dan kontrak rumah belum dibayar.

Demi penghematan, kami pun puasa daud (sehari puasa dan sehari berbuka). Memang benar bahwa Nabi menganjurkan ummatnya  melakukan puasa ini. Namun, kami melakukannya bukan karena sunnah rosul, melainkan karena tidak ada lagi uang untuk membeli beras. Entah mungkin karena iba, Ibu Jaswadi selaku pemilik kontrakan pun tidak datang menagih.

Dalam kesulitan yang menghimpit, ternyata “Tuhan maha pemurah dan penolong” itu terbukti benar. Pesan Tuhan bahwa “mintalah kepadaku, niscaya Aku kabulkan” yang disampaikan lewat para nabi layak untuk dijadikan pegangan.

Siang itu secara tak terduga bertemu  sahabat SMA ku dulu di kampung, Namanya Joko Santoso. Tiga tahun lamanya saya sekelas dengan dia. Bahkan di kelas satu SMA dulu saya satu bangku. Seringkali berangkat dan pulang sekolah ia mengantar saya pulang pakai sepeda motornya. Seringkali pula dia beliin kueh ketika jam istirahat. Bahkan pernah suatu kali ia pinjamkan sepatunya buatku.  Bagiku, He is a REAL REAL HERO.

Di Jakarta waktu  itu karir bisnisnya cukup moncer, bahkan di usianya yang  belum genap 30 tahun. Disaat sebagian  teman teman sebayanya masih sibuk kuliah, disaat sebagian teman teman sebayanya masih sibuk ngelamar kerjaan, disaat sebagian teman teman sebayanya masih minta uang jajan ke orang tua, dia di Jakarta sudah menjadi Kontraktor. Kalau tidak salah waktu itu sedang proses finishing Hotel Mulia,  Luar biasa bukan ?

Sewaktu ketemu Joko Santoso itulah kami berdiskusi dan mengobrol  banyak tentang bisnis. Baik bisnis yang sedang ia geluti (kontraktor) maupun dagangan kaki lima saya. Hal yang paling aku apresiasi adalah bahwa Ia sama sekali tidak merendahkan bisnis ( baca : perdagangan) yang sedang saya geluti. Padahal kalau mau dibandingkan antara bisnisnya dengan daganganku kala  itu bedanya sama dengan bumi dan langit. Dia  begitu semangatnya memotivasi saya untuk tumbuh dan berkembang. Ia pun ajarkan bagaimana bernegoisasi yang baik pada pelanggan, pada suplier dan pada karyawan.

Setelah setengah hari lebih mengobrol, setelah lima jam lebih menimba ilmu, setelah lima jam lebih berdiskusi,   akupun pamit pulang. Namun hal yang tak terduga terjadi. Dia memborong seluruh daganganku yang ada dirumah !!!! Sulit dipercaya bukan ?

Menurut saya, itulah mental “Pahlawan” yang sebenarnya. Ia tolong seseorang dengan “memberikan kail, bukan ikan”.

Aku hampir hampir tak percaya. Sebenarnya  tak enak hati  menerima pembeliannya yang seolah terkesan menolong. Namun mengingat sama sekali tidak punya uang dan membayangkan wajah  istri di rumah yang sedang gelisah, aku pun mengangguk tanda setuju saja. “Alhamdulillah”, gumamku. Tak lupa aku ucapkan beribu terimakasih pada sahabat terbaikku.

Setelah kejadian itu, sebelum pulang kerumah saya sempatkan mampir  ke mushollah dekat rumah. Ambil air wudlu dan segera bergegas masuk. Saya tak tahu lagi  itu jam berapa, saya pun tak tahu hendak sholat apa. Yang jelas, begitu takbir “Allahu Akbar” berkumandang dengan mengangkat dua tangan, air mata tak terbendung untuk jatuh membasahi sajadah.  Bahkan hingga dua salam terucap, air mata masih mengucur deras.

Sahabatku ….. Terimakasih banyak. Pertolonganmu kala itu tak kan mampu aku balas dengan semua yang kumiliki.

 

 

Butuh jasa cargo murah ? Via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in Motivasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Joko Santoso, Bagiku “He is a REAL HERO”

  1. Ini yang saya maksud pak Sarib🙂

  2. lambangsarib says:

    oh… terimakasih banyak. Sejujurnya saja bahwa ini true story.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s