Ahok, “Tugas Pemimpin Itu Memenuhi Isi Perut, Isi Otak dan Isi Dompet Rakyat”

Bagi warga jakarta dan sekitarnya nama AHOK adalah salah satu nama yang paling sering sebut saat ini. Bersama dengan Joko Widodo beliau memenangkan pertarungan sengit perebutan DKI-1 (Gubernur dan Wakil Gubernur). Wajahnya muncul sebagai liputan  utama media nasional maupun lokal. Hampir semua media cetak dan elektronik memuat profil dan sepak terjangnya selama ini. Belum lagi media alternatif seperti media sosial twitter dan facebook begitu ramai memperbincangkannya.

Dalam artikel ini kiranya terlalu naif jika menulis tentang latar belakangnya, pendidikan dan karier politiknya. Bukan saja karena saya tidak mengenalnya secara pribadi, namun juga sudah terlalu banyak media mengulas. Bahkan kalau kita tanya ke om google dengan kata kunci “ahok” maka akan ditemukan  ratusan ribu artikel.

Apabila berkunjung di blog pribadinya http://ahok.org/ kita akan dengan sangat mudah mengakses ide, gagasan dan buah fikirnya. Blog yang sangat aktif ini bercerita banyak tentang sepak terjangnya. Ada buku dalam format PDF dengan  judul “Merubah Indonesia” bisa di download langsung disini. Arsip arsip  presentasi  selama menjabat sebagai pelayan dan wakil rakyat pun disajikan dengan lengkap. Bahkan untuk berkomunikasi langsung dengan beliau tidak sulit, ada twitter dengan akun  @basuki_btp, ada facebook fan pages dengan akun Basuki Tjahaya Purnama dan ada wikipedia yang terangkum apik dalam jejaring sosial ahok.

Jika google itu diibaratkan sebagai  buku catatan harian amal baik dan buruk seseorang di dunia maya, maka kebaikan dan keburukan Ahok bisa dilacak  dengan mudah.

Yang ingin sekali saya tuliskan  dan abadikan didalam blog pribadi saya ini adalah bahwa beliau seringkali berkata, “tugas pemimpin itu memenuhi isi perut, isi otak dan isi dompert rakyat”. Paling tidak saya mendengar ia mengucapkan hal itu 4 kali di media televisi, dalam berbagai kesempatan. Bahkan dalam debat terbuka dengan pasangan incumbent pun ia sampaikan akan hal itu.

Tentu saja Ahok memiliki argumentasi dan  persepsi tersendiri berkenaan  pernyataannya tersebut. Sebagai masyarakat awam warga DKI yang mendukungnya, rasanya tak salah jika memiliki persepsi berbeda.

Isi perut menurut saya adalah adalah makanan. Artinya bahwa  setiap pemimpin dalam membuat kebijakan seharusnya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia yaitu makan. Sukur sukur bisa terpenuhi dengan apa yang dinamakan  empat sehat lima sempurna. Jikapun tidak, minimal pemenuhan gizi minimum bisa terpenuhi.

Rakyat akan mendukung siapapun pemimpinnya jika perutnya kenyang. Rakyat pun akan melawan siapapun pemimpinnya jika perutnya lapar. Konflik politik dimanapun di dunia ini, radikalisasi dan bahkan revolusi selalu diawali dari perut rakyat yang lapar.

Jika hal itu terjadi yang salah bukan rakyat, melainkan pemimpin. Bangsa  Indonesia pernah mengalaminya di tahun 1965 dan 1998. Semoga catatan kelam itu bisa  menjadi pelajaran para pemimpin. Kita sebagai rakyat  sangat berharap hal itu tak berulang.

Isi otak menurut yang saya fahami adalah  pendidikan.  Setiap pemimpin dalam membuat kebijakan seharusnya berfokus pada pemenuhan pendidikan. Pendidikan gratis adalah sebuah keharusan dan harga mati. Bukan hanya dari tingkat SD sampai SMU, melainkan hingga jenjang perguruan tinggi.

Selama ini pendidikan hanya jadi komoditas politik menjelang pilkada. Selama ini pendidikan hanya dinikmati oleh kalangan elit dan segelintir golongan menengah atas. Mayoritas warga miskin kota, warga pinggiran dan pelosok desa hampir hampir tidak memiliki akses.

Rakyat hanya menuntut. Sekali lagi rakyat hanya menuntut pendidikan gratis. Mereka tidak tahu bagaimana dan dengan cara apa hal itu dipenuhi. Tugas seorang pemimpin adalah mewujudkannya.

Isi dompet menurut yang saya fahami adalah keuangan. Artinya  setiap pemimpin dalam membuat kebijakan seharusnya berfokus pada pemenuhan kekayaan (baca : kemakmuran) rakyat. Kemakmuran dalam arti sesungguhnya adalah terpenuhinya seluruh kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan akan tersedianya  sandang, kebutuhan akan tersedinya  papan (perumahan) yang layak, kebutuhan pemenuhan kesehatan.

Kini Ahok (yang bernama asli Basuki Tjahaya Purnawa) diamanahkan rakyat  menjadi wakil Gubernur DKI Jakarta untuk lima tahun mendatang. Sebagai rakyat kami akan  menanti realisasi janji yang terucap. Kami menunggu ketersediaan pangan, kami menunggu pendidikan gratis dan kami menunggu kesejahteraan. Jika Ahok menepati janjinya dalam kurun waktu  lima tahun mendatang, maka rakyat kan setia mendukung. Jika tak tertepati janji itu, rakyat kan menuntut dengan caranya sendiri.

 

 

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in Motivasi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s