Gula Jawa Rasa Soklat Dalam Bingkai Cinta

Ada anak bertanya pada bapaknya, “apakah hari valentin itu ?”. Dijawab sang ayah bahwa valentin itu hari bagi bagi soklat. Mendengar jawaban tersebut, sang anakpun tersenyum. Sambil bernyanyi riang, sang anak bergegas kedapur dan meminta sepotong gula jawa pada ibu. Setelah mendapatkan yang diinginkan, segera ia menemui bapak di ruang depan.

“Pak, ini soklatnya (gula jawa warna soklat maksudnya), adik nyanyiin doong pak…. ?” begitulah ia merajuk. Dengan senang hati, ayah pun bernyanyi. Syairnya kurang lebih demikian.

Lihat kebunku, penuh dengan soklat.
Ada yang soklat, dan ada yang soklat.
Soklat dan soklat, semuanya soklat.

Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa coklat dan gula jawa memang berbeda. Kandungan gizi, komposisi  dan tentu saja  harganya pun berbeda. Coklat biasanya dikonsumsi orang berada, sedang gula jawa seringkali menjadi konsumsi rakyat jelata.

Satu hal yang pasti bahwa penentu kebahagiaan bukan coklat, bukan pula gula jawa. Melainkan perasaan, hati dan kasih sayang. Gula jawa rasa soklat adalah ekspresi kebahagiaan seorang bapak dan anak dalam bingkai kasih sayang.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in cinta and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s