Maafkan Bapakmu Nak….

Semalam aku dan anakku pergi berbelanja untuk suatu kebutuhan. Kami ke mini market yang tak jauh dari rumah. Karena hujan tak berkesudahan, kami putuskan untuk mengendarai mobil butut. Hanya berdua saja.

“Pak kok ibu tidak diajak sih ?” tanya anakku tak lama setelah kami duduk berdampingan diatas jok. “Iya nduk, ibu kan tadi sedang Allahu Akbar, dan setelah itu ibu akan memasak mie instan kesukaanmu.” Sejenak kemudian anakku bertanya lagi, “pak…., ibu Allahu Akbarnya lama ya…?” Sambil tersenyum kujawab “iya nduk, kan mendoakan Kiki dan bapak ? Juga kakek dan nenek.” Mendengar penjelasanku, ia pun diam.

Ia julurkan tangan kanannya, memencet beberapa tombol di dashboard. Sejenak kemudian, mengalunlah lagu “tik tik tik… bunyi hujan diatas genting,….” Kami pun bersenandung  bersama. Lagu itu bak candu, memabukkan  dan membawaku terbang melayang. Syairnya sangat kuhafal luar kepala. Bahkan, seolah mampu menyihir dan membawaku menaiki mesin waktu. Terbang ke alam masa kecil, saat untuk pertama kalinya ibuku mengajarkan.

Aku masih mengingatnya. Aku dipangku, duduk di singgasana termewah di dunia. Sedang ibuku duduk diatas bangku tembok yang keras. Sambil mencium dan membelai rambutku, ia ajarkan aku bernyanyi. Bagiku, suaranya lebih merdu dibanding biduan manapun dimuka bumi ini. Dengan kasih sayang dan kesabaran, ia tuangkan semua arti cinta.

Waktu berlalu beberapa menit tiada terasa. Begitu cepat, seolah hanya beberapa detik saja. Saat alunan musik berhenti, anakku bertanya lagi, “pak… kita mau kemana ?” Lagi lagi dengan senyum kujawab, “berbelanja nduk. Kita beli roti tawar dan abon. Jangan lupa ingatin bapak ya nduk, kalau ibu tadi titip sabun mandi dan susu kedelai.”

“Iya pak…,” jawab anakku tanpa ekspresi. “Pak banjir pak…., itu kakak hujan hujanan pak….” Anakku menambahkan. Jari telunjuk lentik menunjuk ke satu arah di sebelah kiri jalan. Tampak genangan air di beberapa tempat. Arusnya cukup deras. Beberapa anak kecil tampak berdiri di emperan toko dengan wajah “hopeless”.

“Kakak…., jangan hujan hujanan…. Nanti sakit….” Teriak anakku berkali kali. Aku diam, hanya memperhatikan. Di hati kecilku ada sedikit kesedihan, karena tak mampu berbuat banyak. Ya…, hanya turut bersedih yang aku mampu. “Ya Allah, maafkan aku…” kuucap itu berkali kali di dalam hati.

Anakku baru diam saat mobil belokkan kearah mini market. Jaraknya tak terlalu jauh, mungkin hanya beberapa ratus meter saja. Disini tak tampak sedikitpun genangan air. Cukup bersih dan rapi. Berjejer beraneka makanan dan bermacam kebutuhan yang bisa kita ambil kapanpun, asal ada uang sebagai alat tukarnya.

Setelah selesai memilih beberapa barang kebutuhan, kami pun berjejer mengular dalam antrian. Sambil menunggu giliran, kuminta anakku untuk memilih buku bacaan yang terpajang rapi tak jauh dari kasir. “Itu nduk, ada buku Princess Shopia. Mau beli buku ndak ?” tanyaku. “Mau pak…, tapi beli ini aja, Diva. Kuncirnya dua pak…, kayak Kiki. Ada stikernya pak….”

“Adek… Ini dapat hadiah teh kotak !” kata petugas mini market. “Hore…., kita dapat hadiah nduk. Bilang terimakasih ke kakak.” kataku memerintah. Dengan senyum dan wajah berbinar, diterimanya teh kotak hadiah tersebut. Tanpa ragu, anakku mengikuti apa yang kuperintahkan. “terimakasih ya kak….”

Selesai sudah urusan belanja. Kami pun berjalan bergandengan, kembali menaiki mobil butut kesayangan.

Kuinjak rem mobil, berhentilah si kereta besi yang sedang melaju. Tepat disamping seorang anak yang sedang menggigil kedinginan, berdiri di emperan sebuah toko. Aku keluarkan susu kedelai yang baru saja dibeli. Aku ulurkan itu ke anakku. “Nduk.., kasihan kakak kedinginan. Ini susu kerdelai yang kita beli tadi, kasih ke kakak,” pintaku.

“Kakak…, ini susu kedelainya. Jangan ujan ujanan ya kak… Nanti sakit….” kata anakku sambil memberikan  susu kedelai ditangan.

Sekali lagi… Aku hanya bisa terharu.

@lambangsarib
www.lambang.csmcargo,com

.

Butuh jasa cargo murah ?
Kargo murah www.csmcargo.com
via twitter : @csmcargo
Via facebook : @csm cargo

About these ads

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja. Penikmat teh WASGITEL (Wangi melati, Sepet, Legi, Kenthel) yang rindu bersilaturahim ke lapak lapak.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Maafkan Bapakmu Nak….

  1. jampang says:

    saya juga terharu bacanya, mas. kiki pinter banget

  2. Dyah Sujiati says:

    Kok dilempar?
    Dalam hal banjir-banjir ini saya sepakat banget sama twit-twitnya pak Reynald Kadzali.
    Tapi sy lupa apa alamatnya. (karena sy kan belum beli twitter :D)
    Yang kita butuhkan adalah berita dan pemberitaan yang membuat semangat. Bukan yang semakin melemahkan. Kira-kira begitu intinya.

  3. abi_gilang says:

    Kecil2 udah belajar peduli nih Kiky…salut :-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s