Malam

Tengah malam penuh ketegangan. Tepat pukul 00:400, saat jam biologis manusia untuk terlelap. Itu disana,  di tempatmu menarik selimut. Bukan di sini, di sepanjang Kali Ciliwung – Jakarta.

Malam teramat dingin. Hujan lebat  tak kunjung reda. Sudah lebih dari 24 jam  mengguyur. Tanah jenuh  air, hingga  tak mampu lagi menyerap siraman hujan   tiada henti. Kanal, sungai dan waduk  meluber, tanda over kapasitas.

Orang berlalu lalang di jalanan. Sebagian menggunakan mantel anti air, akan tetapi sebagian besar  tak berpelindung. Hujan menerpa tubuh mereka hingga  kuyub. Ditengah ketidakbersahabatan alam, beberapa diantara mereka masih sempat berkelakar. “Kalau ada orang berteduh karena hujan, sejatinya mereka melindungi pakaian yang dikenakan. Bukan melindungi tubuhnya”. Saat kutanya mengapa, jawabannya adalah, “Karena, badan bersifat waterproof.” Dan aku hanya mampu tersenyum  karenanya.

Informasi entah  dari mana datangnya,  berseliweran. Boleh jadi itu berita bohong,  atau benar  adanya. Sama sama tidak bisa dikonfirmasi.  Cerita dari mulut ke mulut tentu saja banyak deviasi. Akan tetapi itulah yang dipercaya. Itulah faktanya di lapangan.

Bendungan Katulampa sudah siaga satu. Saksi bisu kolonialisme itu merekam jejak di  angka lebih dari 200 cm. Artinya, debit air lebih dari 441,000 liter/detik. Tak lama lagi  air kiriman dari bogor kan menggenangi jakarta.

Begitu pun kabar burung yang terdengar. Walau sayup dan tak pasti darimana sumber informasi berasal, namun entah mengapa kita mempercayainya. Pintu air manggarai sudah diatas 900, artinya Jakarta siaga satu menyambut kelumpuhan kota.

Pejabat negeri sibuk berdiskusi. DKI 2 menginstruksikan pintu air dibuka untuk segala arah. Dan akhirnya…, istana pun tak luput dari genangan.

Aku tak banyak bicara dalam keriuhan. Karena memang sama sekali tak memahami permasalahan. Urbanisasi, pemukiman warga, bantaran kali, hutan beralih fungsi menjadi vila, sampah, penegakan hukum dan korupsi adalah beberapa kata kunci yang melintas. Bersemayam di rongga  labirin otak. Aku hanya mampu mengira ira keterkaitan antar kata. Namun, sama sekali tak mampu merangkainya.

Sebuah SMS masuk. Kulihat itu dari seorang kawan bernama Agung Suprianto. Dalam pesan pendeknya ia berkata, “minta tolong dibantu, untuk  membagikan nasi bungkus bagi korban banjir malam ini”.

Aku membacanya sekilas, untuk kembali termenung. Entah merenungkan apa, aku pun tak tahu.

Oh… Hujan dan banjir. Membuatku bagai robot yang tak tahu harus berbuat apa. Kecuali hanya diam menunggu detik detik datangnya banjir. Sesekali kuucap  harapan dan do’a, “Semoga banjir segera berlalu  dan tak menggenangi ibu kota.”

@lambangsarib
www.lambang.csmcargo.com

.

Butuh jasa cargo murah ?
Kargo murah, klik www.csmcargo,com
Twitter : @csmcargo
Facebook : @csm cargo

About these ads

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja. Penikmat teh WASGITEL (Wangi melati, Sepet, Legi, Kenthel) yang rindu bersilaturahim ke lapak lapak.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Malam

  1. naniknara says:

    Masalahnya memang kompleks ya pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s