Selalu Ada Pilihan

Malam kian larut. Walau tubuh terasa amat penat, lelah seolah bergelanyut di setiap sendi  tulang. Namun entah mengapa, mata ini masih enggan terlelap. Kelopak mata pun tak hendak tertutup.

Kutengok dua orang perempuan yang terbaring, terlelap dengan sedikit dengkuran diatas  pembaringan. Mereka berdua terkapar dalam tamparan mimpi. Tergeletak, meringkuk, saling memeluk.

Dua orang  perempuan berbeda generasi. Seorang adalah istriku satu satunya. Orang yang sudah berpuluh tahun lamanya setia mendampingi. Jangankan disaat suka, dikala duka pada titik nadir terbawah pun tetap istiqomah . Jika seorang Darin berikrar akan setia menunggu suaminya  hingga seribu tahun lamanya, maka “sigarane nyowo” ku ini telah membuktikannya.

Seorang lagi adalah bidadari, buah hati dan anak semata wayangku. Seorang gadis kecil yang menawarkan keceriaan di setiap celotehnya. Mendatangkan kebahagiaan, dalam setiap laku.

“Terimakasih wahai permataku.  Tanpa kalian berdua, hidup  terasa hampa. Hanya senyuman dan ketulusan cintamu  aku mampu bangkit. Mampu membusungkan dada dan tegap melangkah menyongsong hari hari penuh harapan.” Kataku dalam hati. Sengaja tak terucap, karena memang aku tengah sendiri.

Nduk…

Ijinkan bapak bercerita sedikit lewat tulisan ini. Semoga  ada pertalian batin antara lalu lintas kata  di otak bapak saat ini, dengan mimpi  indahmu. Jika toh dalam tidur malam ini kamu bermimpi  bermain dengan kakek atau nenek, biarlah catatan ini menjadi bacaanmu kelak. Saat dimana kamu sudah bisa membaca serta memahami makna setiap  kata.

Nduk….

Hujan sangat lebat diluar. Suara berdentangan  amat keras terdengar. Air hujan jatuh bebas berbenturan dengan seng atap rumah. Jangankan orang, tikus dan binatang malam pun tak  terdengar berisik. Tingginya curahan hujan  bisa bapak rasakan, walaupun kita tinggal dikelilingi tembok tebal.

Semoga hujan ini membuat  dekapan ibumu semakin erat. Untuk menghangatkan tubuh mungilmu. Kelak jika kamu sudah  dewasa, pahamilah. Bahwa ibumu ingin selalu melindungimu. Kapanpun dan dimanapun. Bahkan dalam tidur lelapnya pun, tetap saja ingin menjagamu.

Orang  suci berkata, bahwa surga itu berada dibawah telapak kaki ibu. Itu memang benar adanya. Kelak, seringlah membasuh  kaki ibumu, agar kamu bisa mencium  aroma bau surga.  Jangan bosan  bersimpuh dihadapannya, agar jidatmu  semakin mendekati.

Nduk…

Malam ini, presiden  beserta  para punggawanya sedang meluncurkan sebuah buku berjudul “Selalu Ada Pilihan”. Konon itu adalah maha karya tulisannya  sendiri. Bukan produk  seorang co writer ataupun  ghost writer. Tentang kebenaran klaim itu, kelak sejarah yang akan menjawab. Bapak berharap, kamu adalah bagian dari sejarah itu.

Namun nduk….

Malam ini,  bibimu, yang setiap pagi menyapu dan membersihkan rumah kita  sedang tertimpa musibah. Rumahnya yang berada tepat di bantaran Kali Ciliwung terendam air. Banjir kiriman dari Bogor  menenggelamkan pemukiman warga. Pintu air Manggarai siaga satu. Artinya,  memaksa ribuan orang mengungsi, mencari tempat perlindungan. Masjid ataupun tepi  jalanan yang lebih tinggi adalah beberapa tempat “ideal” untuk mengungsi.

Tiba tiba saja bapak teringat oleh lagu kesukaan kakekmu dulu. Bapak dendangkan sebentar lagunya ya nduk…, tapi maaf tidak hafal semua. Hanya sebagiannya saja.

kering sudah air mataku.
Terlanjur banyak sudah yang tertumpah.

Langit sebagai atap rumahku.
Dan bumi sebagai lantainya.

Begitulah nasib yang aku alami.
Entah sampai kapan harus begini.

Ironi memang. Saat warga Jakarta bergelut dengan banjir. Begitu juga di Banten, Bekasi dan Menado. Saat sebagian besar pengungsi kedinginan di pinggir jalan dan emperan toko. Saat lapar menghampiri perut orang orang yang kurang beruntung. Disaat yang sama, presiden dan pembantu pembantunya sedang sibuk berpesta. Tentunya dengan dalih,  meluncurkan buku.

Buku adalah jendela ilmu. Buku adalah bukti integritas dan intelektualitas. Buku adalah lambang peradaban. Buku adalah catatan sejarah yang teramat penting buat generasi selanjutnya.  Namun sayang, untuk kali ini, pemimpin kita kurang tepat memaknai arti pentingnya.

Jika kamu menanyakan tentang apa yang sedang diperbuat ibu negara, tentunya beliau sedang mendampingin presiden di acara “jum’at keramat” tersebut. Boleh jadi, di sela sela acara, Ibu Ani Yudhoyono sedang asyik bermain,  memencet mencet aplikasi  instagram.

@lambangsarib
www.lambang.csmcargo.com

.

Butuh jasa cargo murah ?
kargo murah buka www.csmcargo.com
Twitter : @csmcargo
Facebook : @csm cargo

About these ads

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja. Penikmat teh WASGITEL (Wangi melati, Sepet, Legi, Kenthel) yang rindu bersilaturahim ke lapak lapak.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

21 Responses to Selalu Ada Pilihan

  1. Ketika ibu negara ditanya warganya soal banjir, jawabannya: Lho, kemana ibu Jokowi dan ibu Ahok?

  2. Dyah Sujiati says:

    Tragedi sejarah tak sekali-dua diulang :’(

  3. Dyah Sujiati says:

    Btw, andalannya lho mesti dengkuran? -_-’
    Jadi semacam pujian dengan ironi. Ahaha

  4. “Yang diceritain kok istrinya dan buah hatinya terus? Bu Jokowi mana? Bu Ahok mana?” :D becanda mas :D
    Ngomong-ngomong gimana kondisi di daerah mas Mbang?
    Semoga banjir ini segera berlalu juga ya, kasihan yang pada kena :(

  5. jampang says:

    untung saya nggak main instagram :D

  6. abi_gilang says:

    “Tak ada pilihan” untuk mereka yang terpaksa tinggal dipinggir sungai selain “menikmati” kehadiran banjir :-(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s