Hari masih gelap. Matahari tapaknya segan untuk menampakkan diri. Suara adzan dari sebuah surau di sebelah rumah pun baru beberapa saat lalu terdengar.
Nduk, biasanya jam segini kamu sudah teriak teriak bernyanyi membangunkan kami. Namun kali ini sedikit berbeda, mungkin karena terlalu capek bermain bermain tadi malam. Tidak mengapa nduk, tidurlah terus. Kamu belum memiliki kewajiban untuk menegakkan sholat subuh. Nikmati saja lah.
Kulihat ibumu duduk dikursi ruang tengah dengan ditemani segelas teh hangat yang masih mengepul. Sebuah buku tebal bersampul warna hijau di tangan kirinya. Dari jauh bisa terlihat bahwa buku yang dibacanya adalah kitab suci Alqur’an. Sebuah buku yang tidak ada keraguan akan kebenaran isi yang dikandungnya.
Nduk, ketahuilah bahwa dunia ini laksana hutan belantara kehidupan. Jika tidak hati hati, manusia sangat mudah tersesat. Bahkan hutan ini dipenuhi oleh serigala serigala kehidupan yang kejam, bisa jadi itu berwujud anak anak domba yang lucu.
Namun janganlah kamu kuatir nduk, bapak akan melindungimu.
Jika masih diberi waktu oleh yang Esa, bapak akan mendampingi kapanpun kamu hendak menembus belantara itu. Akan bapak tunjukkan jalan paling aman dan jalan paling cepat, kemana kamu hendak melangkah.
Kelak jika telah tiba masanya, kamu tidak perlu gusar. Bapak memiliki warisan turun temurun yang bisa kamu pakai sebagai pegangan. Dengan itu, bapak yakin kamu tidak akan pernah tersesat.
Kedua warisan itu layaknya rasi bintang yang bertebaran di langit, sebagai penunjuk arah bagi nelayan. Bagaikan bulan sebagai penunjuk kapan penanggalan diakhiri dan kapan almanak baru dimulai. Bagaikan matahari yang menunjuk arah mata angin, mana barat, timur, utara dan selatan.
Kedua warisan turun temurun itu adalah Al Qur’an dan Hadits nabi Muhammad SAW.
Al Qur’an adalah kitab suci yang berisi wahyu dari Allah SWT yang diturunan lewat junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Hadits adalah perkataan dan perbuatan yang pernah dicontohkan nabi pada ummatnya.
Itulah nduk, dua buah warisan yang bapak maksud, semoga kelak kamu menerima dan menjaganya dengan keikhlasan. Pegang itu kuat kuat. Yakini itu didalam lubuk hatimu yang terdalam. Sering seringlah kamu ucapkan dalam setiap tutur katamu. Perbuatanmu sehari hari pun mesti bersandar pada keduanya.
Dengan berpegang keduanya, bapak berharap kamu menjadi orang yang berani mencoba merubah peradaban kearah yang lebih baik. Lakukan yang terbaik hari ini, karena itu investasi terbaik di masa depan.
Ingat selalu kata kata ibumu, “lakukan sesuatu yang orang lain tidak mau melakukannya, agar kelak kamu akan mendapatkan sesuatu yang orang lain tidak mendapatkannya”. Nduk, bapak percaya pada perkataan ibumu diatas, bapak berharap kamu pun meyakininya.
Berbicara tentang masa depan, bapak ingin sekali menuliskan ulang apa yang telah ditulis sahabat kakekmu dulu di kampung, mbah Pramoedya Ananta Toer.
Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanyalah jarak
Dan batasnya adalah ufuk
Begitu jarak ditempuh sang ufuk pun menjauh
Yang tertinggal jarak itu juga – abadi
Di depan sana ufuk yang itu juga – abadi
Apakah kamu memahaminya nduk ? Kalau kamu belum faham, bacalah sebuah buku yang ada di rak buku bapak. Ambillah buku tebal berjudul Anak Semua Bangsa. Bacalah dan temukan keindahan sastra didalamnya. Mungkin kamu akan mendapatkan pemahaman lain dari sebuah bait puisi diatas.
— @lambangsarib—
.
Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo


aku suka banget dengan kalimat
” “lakukan sesuatu yang orang lain tidak mau melakukannya, agar kelak kamu akan mendapatkan sesuatu yang orang lain tidak mendapatkannya”.
pak,..
sama, hehehe
Pinjem bukunya dong mas hihi
haha…. lagi di bab2. Bacanya lama banget, kata demi kata. Tapi jadi ketagihan…..
Duhhh kebayang kata demi kata
Sekali saja baca dengan cengengesan, semakin membingungkan di akhir halaman. Khusunya tentang tokoh.
yisha ngga paham mbah Pramoedya Ananta Toer………….
*kapan ngasih yisha buku itu, pak?
Hehe… novel fiksi itu selalu disayang. Dibaca berulang ulang masih tetap indah.
rasanya kok pingin minjem buku2nya pak Lambang ya…inspiratif semua..
Itu novelnya Pak Pramoedya kok.
Warisan yang wajib diturunkan turun temurun ya Mas… semoga anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah..aamiin.
amieeen
tiba-tiba inget ayah
temui dalam mimpi, eh….
amin
aku juga ngga ngerti om.
kikiii.. nanti bacanya gantian yaaa
hayaaa….