Sejak menjabat status baru sebagai bapakmu beberapa tahun yang lalu, terus terang saja bapak menjadi bingung sendiri akan apa yang harus diperbuat. Apapun yang dilakukan seolah menjadi gamang dan penuh tanda tanya.
Apakah saya bisa menjadi seorang bapak yang baik ?
Sudahkah saya mampu memenuhi kewajiban sebagai seorang bapak ?
Bahkan ada sebuah pertanyaan mendasar, apakah saya bisa menerima amanah oleh Allah Azza Wa jalla untuk menjadi panutan dan sekaligus imam keluarga ?
Nduk, pertanyaan pertanyaan seperti itu yang hampir setiap hari berputar putar di otak bapak hingga kini. Bapak sudah mendiskusiakan hal ini dengan beberapa sahabat. Bapak sudah mencoba membaca banyak buku parenting, baik dalam perspektif Islam, sekuler maupun parenting dalam perspektif ateisme.
Namun entah mengapa, tidak satupun buku buku itu yang mampu menjawab pertanyaan pertanyaan tadi.
Bahkan, semakin banyak membaca ternyata malah menimbulkan pertanyaan pertanyaan baru. Pertanyaan yang membingungkan dan hanya berputar putar tanpa ujung pangkalnya.
Mungkin saja benar apa yang pernah dikatakan seorang sahabat bapak dulu, sewaktu masih sekolah, “semakin kamu banyak membaca, maka kamu akan semakin bodoh”. Pernyataan itu sepertinya mendekati kenyataan, walaupun mungkin derajat “kebodohan” antara orang yang tidak pernah membaca dengan orang yang rakus membaca itu berbeda.
Nduk, kelak jika kamu dewasa banyak banyaklah membaca. Bacalah seluruh buku buku kesukaanmu. Bacalah semuanya, bahkan dalam perspektif yang berbeda. Jangan membatasi pada sebuah perspektif yang sempit, hingga menjadikanmu kerdil dalam berfikir dan bertindak.
Bapak pasti akan bangga melihat kamu “merasa bodoh karena terlalu banyak membaca”. Sehingga kebodohanmu itu tidak membuatmu takabur dan sombong.
Mungkin kelak bapak akan berkata padamu, “nduk, ketahuilah bahwa manusia itu bodoh, hanya Tuhanlah pemilik kebenaran mutlak dan maha pemilik ilmu”. Jika diibaratkan air, maka ilmu manusia hanyalah sebesar tetesar air dari jari kelingking yang dicelupkan ke air samudra nan luas. Air samudra adalah ilmu – ilmu Allah dan tetesan air adalah ilmu manusia yang menyilaukan, bahkan kadang berubah menjadi kesombongan.
Nduk, tolong ini tanamkan erat erat didalam hatimu. Bahwa kakek dan nenekmu adalah orang orang hebat yang pernah bapak tahu. Bagi bapak, mereka adalah pahlawan pahlawan yang sebenarnya. Mereka mengorbankan seluruh jiwa raganya hanya untuk membesarkan dan mendidik bapak, paman serta bibikmu.
Kalau toh ada sedikit kesalahan dan kealpaan mereka sebagai orang tua, kita mesti berbesar hati untuk memaafkan nya. Kita mesti “mikul duwur – mendhem jero” terhadap orang tua kita. Melupakan setitik kesalahan mereka dan mengingat ingat selalu segudang kebaikannya.
Nduk, kakek dan nenekmu dulu menyekolahkan bapak di Teknik Geologi sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. Disekolah itulah dulu untuk pertama kali bapak bertemu dengan ibumu, namun bapak tidak hendak menceritakan bagaimana bapak ketemu dengan ibumu. Bapak ingin menceritakan yang lain saja.
Kalau soal itu, lebih baik kamu tanyakan sendiri ke ibumu. Sesama perempuan mungkin jawabannya jadi heboh. Nanti ditulis di blogmu ya nduk, biar bapak bisa membacanya.
Didalam ilmu kebumian yang bapak pelajari, tidak sedikitpun disinggung masalah anak. Apalagi bagaimana membesarkan anak dan membentuk karakter seorang anak. Nah, ketika tiba tiba kamu lahir dan mengisi kehidupan bapak, bapak harus belajar lagi dari nol.
Kalau para ahli teknik membuat mesin, biasanya mereka melengkapinya dengan manula book untuk perawatan, suku cadang, aturan menggunakan dll. Berbeda halnya saat Allah menciptakan manusia. Ia tidak melengkapinya dengan manual book mendidik anak.
Mungkin saja maksud Allah agar manusia mencari sendiri manual book tersebut. Manusia diberi kuasa penuh untuk membuat manual booknya sendiri . Manusia diberi keleluasaan untuk mendidik dan mengarahkan karakter anak anak mereka. Jika anak diibaratkan sebuah kertas putih, maka orang tua adalah pemilik pensil warna yang melukis di kertas tersebut. Terserah orang tua hendak melukis apa, yang pasti lukisan itu tidak pernah bisa dihapus untuk selamanya.
Allah hanya memberikan petunjuk yang “tersirat’ dan yang tersurat dalam kitab suci. Manusia tidak akan pernah tersesat jika berpegangan pada dua buku induk tersebut, yaitu Al Qur’an dan Al hadits. Dalam hal ini termasuk dalam mendidikan anak tentunya.
Di ilmu kebumian, bapak hanya mempelajari bagaimana gunung api terbentuk. Dari proses awal hingga tumbuh menjadi anak gunung berapai, gunung api dewasa hingga gunung api tua dan terakhir adalah gunung api yang telah mati. Itu saja yang bapak pelajari. Selebihnya adalah nol besar.
Mungkin hanya kata ini yang bisa di hubungkan dengan proses pendidikan karakter anak. “the present is the key to the past”, apa yang terjadi hari ini adalah kunci masa lalu. Artinya dalam ilmu bumi begini nduk, “jika hari ini air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, masa lalu pun sama, air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah”.
Kalau pernyataan itu diaplikasikan dalam mendidik anak dengan logika terbalik, mungkin kurang lebih akan seperti untaian kata dibawah ini.
Jika hari ini kita berkata dengan sopan pada anak anak, maka kelak ia akan sopan dengan siapapun.
Jika hari ini kita tidak pernah berbohong pada anak anak, maka kelak ia akan jujur dalam segala hal.
Jika hari ini anak anak melihat orang tuanya suka membaca dan menulis, kelak ia pun akan menjadi anak yang gemar membaca dan menulis.
Nduk, bapak harus memohon maaf jika ada kesalahan dalam mendidikmu. Terkadang bapak marah, terkadang bapak kesal, terkadang bapak malas bermain dengan mu. Tentu bapak memiliki sejuta alasan untuk dikemukakan. Namun, bapak juga yakin kalau kamu tidak mungkin mencerna alasan itu.
Oleh sebab itu nduk, maafkan bapak.
— @lambangsarib —


Parenting dalam perspektif atheisme itu seperti apa, Pak?
Kaidah agama sama sekali tidak disinggung dan dinafikan, bahkan kehidupan sex mereka sudah dikenalkan diusia dini (semenjak 9 tahun). Salah satu pandangan mereka adalah “bahwa hubungan cinta homoseksual dan hubungan cinta heteroseksual itu sama baiknya”.
Itu salah satunya pak, mungkin saya salah. Tapi menurut saya itu dalam perspektif ateisme.
ini termasuk seperti ini bukan Om?
http://donobaswardonoparenting.blogspot.com/search/label/sex%20education
wah kereen tulisannya, tapi untuk follow bagaimana yah ?
Ke reader aja om, trus pilih edit, nah lgs masukin alamat url-nya, deh.
ok seeep, terimakasih. Baru tahu, hehehe….
Sama-sama Om
Hmmm, baru denger istilah ini pak
bukankah pernah juga menulis di blognya ?
Kalau tidak salah mengupas tentang sexuality information and education council of US (SIECUS) ? kalau tidak salah saya pernah baca deh.
Ya, kalo yang itu saya pernah tulis pak. Tapi istilah “Parenting dalam perspektif atheisme” belum pernah.
hehe…. semoga ada waktu membahasnya.
Hmm, saya baru tau ada istilah ini Pak.
Maaf @ikakoentjoro salah komen.
Saya fikir kita diskusi masalah ini –> http://ikakoentjoro.wordpress.com/2013/01/03/ayah-dan-anak-perempuan/
Bapak sudah mencoba membaca banyak buku parenting, baik dalam perspektif Islam, sekuler maupun parenting dalam perspektif ateisme.—->
#Eh? Ngeri lha Pak
kenapa ngeri ?
Apakah dengan membaca Al Qur’an otomatis seseorang beriman dan bermala sholeh ?
Apakah dengan membaca bible otomatis seseorang menjadi kristen ?
Aapakah dengan membaca buku karl max otomatis kita akan ateis ?
Jawabnya belum tentu dan sangat tergantung pada banyak faktor bukan ?
ya memang belum tentu
Hasan Al Banna mungkin contoh yang sangat baik. Eh…. mungkin loh ya…..
yupz saya cukup kaget jg, tapi sekali2 melihat dari sudut pandang atheisme perlu kali ya.. hhi
Semakin banyak dibaca kan wawasannya semakin luas ?
KH. Achmad Dahlan mungkin tak akan mendirikan Muhammadiyah, jika tidak membaca buku buku terlarang (konteks waktu itu yah…)
cuma barangkali yg patut diperhatikan sbelum membaca buku terlarang, kekirian atau atheis..sebelumnya sudah punya mainframe berpikir ya pak, biar gak kesana kemari ikut sana ikut sini pemikirannya..
Mungkin saya harus berterimakasih pada kedua orang tua saya. Walaupun orang biasa, namun fondasi yang ditanamkan begitu kuat.
Enak loh diskusi dengan banyak mazhab pemikiran, wacana kita jadi kaya.
hehe stuju.. asal diskusi utk mencari ‘kebenaran’..
diskusi memang selayaknya mencari sebab, bukan mencari alasan bukan ?
tepat sekali..
pak Sarib, mira tag ya…
http://pitaloka89.wordpress.com/2013/02/05/tag-a-real-blogger/
ok seeep
Reblogged this on Puisi Puisi Indonesia and commented:
Bagiku datang dan pulangmu sama saja
Hadir dan pergi tiada bedanya
Ketika ini t’lah lama aku mengenalimu
Kutau kau, kan terus datang sukar dihalang
Kutau, kau senang bertamu sukar kutentang
Kesedihan datanglah jika memang kau mau
Jelmamu takkan bisa menghancurkanku
Aku telah mengenalimu
terimakasih di reblog yah ?
Bagiku datang dan pulangmu sama saja
Hadir dan pergi tiada bedanya
Ketika ini t’lah lama aku mengenalimu
Kutau kau, kan terus datang sukar dihalang
Kutau, kau senang bertamu sukar kutentang
Kesedihan datanglah jika memang kau mau
Jelmamu takkan bisa menghancurkanku
Aku telah mengenalimu
“Kalau soal itu, lebih baik kamu tanyakan sendiri ke ibumu. Sesama perempuan mungkin jawabannya jadi heboh. Nanti ditulis di blogmu ya nduk, biar bapak bisa membacanya.”
moga2 keturunan kita adalah mereka yang gemar menuliskan apa yang mereka baca dan alami. ==> blogger =D
*salam kenal Pak.. ^__^
salam kenal. Jika kita suka menulis dan membaca dengan melibatkan anak anak, tentu mereka kan meneladaninya.
kiki pasti bangga punya bapak seperti pak lambang…..
kenapa ? bukankah laras juga bangga punya bapak ?
kalo saya the present is the key to the future, and the past is the key to the present
hahaha…. betul.
membaca salah satu sarana mencari ilmu. tidaklah perlu kita takutkan membaca yg h hal yg ektrim asal semua kita kembali alquran sbgai pembenar dr ilmu kauniyah.
sepakat banget.