Nduk, mulai hari ini dan beberapa hari kedepan kita semua tinggal dirumah kakek. Dirumah inilah dulu ibumu dibesarkan. Dirumah inilah dulu ibumu bermain main dengan Mbah Rusmono, Tante Nunik dan Om Dodik.
Hiruplah sebanyak mungkin udara sawah yg bersih tanpa polusi, sama persis dengan yang ibumu hirup saat seusiamu. Makanlah dengan sebanyak mungkin masakan nenekmu, karena itu sama persis dengan makanan ibumu seusiamu. Bermain mainlah, pelajari seluruh karakter dan adab nenekmu, karena itu semua yang ibumu contoh saat seusiamu. Nduk, semoga keinginanmu untuk mencontoh ibumu menjadi sempurna.
Tapi jangan sekali kali kamu minta gendong nenekmu nduk, kasihan. Nenekmu sudah 60 tahun usianya. Tulangnya sudah rapuh, tidak cukup kuat untuk menggendong tubumu sebetat 12,5 kg.
Perjalanan kemarin melelahkan ya nduk ? Seharian kemarin kita menempuh perjalanan panjang selama 11 jam dari Jakarta ke Pemalang. Padahal biasanaya hanya butuh waktu perjalanan 6 – 7 jam saja.
Hujan yang terjadi merata di sepanjang pantai utara jawa memperlambat perjalanan kita. Belum lagi jalanan yang rusak akibat banjir. Syukurlah, selama perjalanan kamu tidak rewel.
Nduk, hari ini hujan turun dari pagi hingga petang. Besok siang kalau tidak hujan, kita mesti berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir kakekmu. Bapak akan tunjukkan dimana leluhurmu dimakamkan.
Nduk, sewaktu bapak seumuranmu, ibuku selalu mengajak “nyekar” kakek dan nenek. Disitu nenekmu menceritakan banyak hal tentang leluhur. Tentu saja yang baik baik nduk, bukan yg jelek. Kakek dan nenekmu selalu berpegangan pada pepatah jawa, “mikul dhuwur, mendem jero”. Bapak sependapat dengan pepatah itu nduk.
Bapak berharap, kelak kamu memegang teguh pepatah jawa tersebut. Ingat ingat selalu kebaikan orang lain dan lupakan kejelekan kejelekan yang pernah mereka perbuat.
Tidak ada manfaatnya sama sekali mengingat kejelekan orang lain nduk. Karena manusia sudah ditakdirkan sebagai makhluk yang lemah, tempat salah dan lupa.
Jika suatu saat kamu ingin mencari “orang suci” dengan segudang kebaikan, tanpa cela, tanpa kejelekan, ketahuilah bahwa kamu tidak akan pernah menemukannya. Termasuk mereka yang sering muncul di televisi, termasuk mereka yang bersurban wangi, termasuk mereka yg berjubah putih bersih.
Bapak teringat selalu kata Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), “manusia yg terlihat baik itu semata mata karena Tuhan masih menutupi aibnya”. Percayalah nduk, bahwa kata kata luar biasa itu benar adanya.
Oh iya nduk, kita ke makam bukan untuk meminta berkah dari orang yang telah meninggal. Itu syirik namanya. Kita ke makam itu hanya untuk mengenang jasa jasa baik leluhur kita, sementara itu untuk meminta dan berharap sesuatu harus kepada Tuhan.
Besok, ciumlah nisan kakekmu. Hanya mencium saja nduk, tidak ada maksud lain diluar itu. Bapak yakin jika kakekmu masih hidup, cintanya padamu pasti lebih besar dibanding cintanya pada ibumu.
Nah nduk, bapak sudah selesai bercerita. Sekarang tidurlah dengan nenekmu. Minta dikeloni yah…..? Agar kamu merasakan bagaimana kehangatan yg dirasakan ibumu waktu seusiamu.
Biarlah bapak tidur di ruang tamu bersama boneka kucing dan boneka beruang kesukaanmu. Kita main2 lagi mencari kodok di alam mimpi ya nduk…..


Pemalang kota kang mas nih, kalau lebaran suka sowan ke Eyang.
hehehe…. orang2 pemalang memang hebat.
Betuuul….:)
mbah uti… keloni…
hehehe
Benar kata Aa Gym, “manusia yg terlihat baik itu semata mata karena Tuhan masih menutupi aibnya”
sepakat ya pak
kakek saya juga sudah seperti idola di keluarga kami. ceritanya sering terdengar di kalangan keluarga, padahal beliau sudah meninggal saat masih 27 tahun. masih muda sekali. kebaikan2nya selalu jadi teladan buat anak2 dan cucu2nya.
mantabs yah kenangannya
Wah org pemalang ya mas😊. Seru nih mudik awal tahun
Hahaaha…. bacanya nggak lengkap berarti.
wah, betul… anak2 perlu belajar dari leluhur agar semakin kaya pengetahuannya ttg kehidupan
sepakat
oo..lagi mudik toh om..
have fun ya ky.. hirup sebanyak-banyaknya udara bersih disana, kalau perlu ditampungin, di jakarta udah susah nyarinya.
sudah,,,, seabreg.