Merebahkan badan di matras berwarna biru ini sungguh nikmat. Terlebih lagi setelah hampir sehari semalam piket jaga untuk mengantisipasi siaga 1 banjir jakarta. Dan kulihat anakku dan ibunya tidur pulas. Tetaplah tidur nduk, bermain mainlah engkau dialam mimpi.
Beberapa orang mengatakan mimpi adalah bunga tidur semata. Sementara pendapat yang lain mengatakan mimpi adalah pengalaman alam bawah sadar manusia. Untunglah di literatur klasik dan moderen yang bapak baca, tidak ada hukumnya orang bermimpi. Sebagai orang awam masalah agama Islam, bapak menyimpulkan bahwa bermimpi itu halah. Alasannya, karena tidak ada ketentuan hukum yang mengharamkannya. Logika yang sangat dangkal ya nduk ?
Oleh sebab itu nduk, kelak bapak akan kirim kamu ke Gontor atau ke sekolahnya Ustadz Yusuf Mansyur. Maaf nduk, bukan bapak tidak sayang atau ingin berjauhan dengan kamu. Sama sekali bukan, percayalah kata kata bapak.
Bapak hanya ingin pemahamannmu tentang agama Islam lebih baik. Bapak ingin kamu meluruskan pemahaman agama bapak yang terlanjur salah. Harapan bapak dan ibumu jika meninggal kelak adalah kamu mampu memandikan, mengkafani, mensholatkan dan mendo’akan. Betapa sedihnya bapak jika kelak dimandikan, dikafani dan disholatkan oleh orang lain yang sama sekali tidak bapak kenal.
Nduk, tiba tiba saja bapak teringat oleh kata kata seorang selebriti, kalau tidak salah bernama Dick Doank. Entah siapa nama aslinya, yang jelas orang memanggilnya begitu. Ia mengatakan pada anaknya, “Nak, kecuali yang agama larang, bebaskan dirimu memilih jalan”.
Jangan sekali kali kamu apriori sama selebiti ya nduk, itu tidak baik dan bukan ajaran bapak. Selebriti adalah manusia biasa seperti aku, kamu dan ibumu. Mereka ada yang baik dan ada juga yang kurang baik. Jangan lihat siapa yang berbicara, tapi cobalah dengarkan dan renungkan omongannya.
Bapak sangat setuju dengan kata kata Dick Doank nduk. Bapak akan membebaskanmu memilih mimpi mimpimu sendiri. Apapun yang kamu suka, lakukanlah dialam mimpi. Jika kamu pingin berenang di kali ciliwung dengan arus yang deras pun bapak tidak akan melarang. Bahkan jika kamu ingin terjun langsung untuk membantu evakuasi korban banjir, bapak akan melihatmu dari jauh dengan bangga.
Nduk, ternyata sebentar lagi subuh. Artinya saat ini adalah sepertiga malam terakhir. Bagi orang beriman, saat ini adalah saat terindah untuk bertemu dengan sang qoliq. Kalau kamu ingin tahu siapa itu sang qolik, Dialah yang mengatur seluruh alam semesta ini. Dialah yang menghidupkan dan mematikan kita. Dialah yang menentukan kamu sebagai anak bapak. Dialah pemilik segala kemutlakan.
Nduk, beberapa orang melewatkan saat paling indah ini dengan tidur, seperti kamu dan ibumu. Tapi bapak fikir itu lebih baik, dibandingkan yang menghabiskan sepertiga malam terakhirnya dengan kebohongan dan maksiat. Namun sebaik baik ummat adalah yang berbincang dengan Tuhannya di sepertiga malam terakhir ini.
Berbincanglah apa saja nduk, Tuhan sangat senang mendengarnya. Tuhan tidak akan bosan mendengar keluh kesah manusia. Tuhan tidak bosan dengan permintaan manusia. Tuhan tidak bosan dengan permintaan penghapusan dosa manusia. Tuhan tidak bosan menemui kita, walau mungkin kita hanya diam.
Saat inilah yang paling tepat untuk menemui Nya. Kelak jika kamu sudah akil baligh, sering seringlah menemui Tuhan di sepertiga malam terakhir. Semakin sering semakin baik, dan yakinlah Tuhan akan semakin sayang kepadamu.
Kamu tahu kan bagaimana cinta bapak ? kamu mengerti kan bagaimana cinta ibu ? Begitu juga cinta kakek dan nenekmu ? luar biasa bukan ? Namun ketahuilah nduk, bahwa cinta Allah itu jauh lebih besar. Bahkan jika dijumlahkan, cinta kami kepadamu itu tidak lebih dari 1% dibanding cinta Tuhan. Percaya saja lah nduk, hingga suatu saat kamu memahaminya.
Nduk, apakah kamu kelak akan bertanya kenapa bapak menuliskan ini semua ?
Bapak hanya ingin mencontohkan tentang manfaat menulis. Mungkin saat ini kamu sama sekali tidak memahami. Namun kelak disaat engkau dewasa dan memiliki anak, kamu pasti akan faham. Dipandu buku ini kamu bisa menceritakan dengan mudah kehidupanmu dimasa kecil pada anak anakmu. Bahkan kamu boleh juga menceritakan sedikit tentang keseharian kedua orang tuamu.
Bapak berharap kamu meneruskan dan mewarisi tradisi menulis. Karena menulis itu tradisi para nabi. Menulis itu tradisi para cerdik pandai masa lampau. Menulis itu tradisi para pemilik ilmu atau ulama. Dan menulis itu adalah tradisi orang orang agen perubahan peradaban.
Kamu boleh menjadi apa saja. Kamu boleh menjalani profesi sesukamu. Selama pekerjaan itu tidak bertentangan dengan akidah dan norma agama, bapak akan suport sejuta persen.
Jika kelak kamu menjadi seorang pemimpin, tulislah seluruh perjalanan karirmu memimpin. InsyaAllah dengan tulisan itu kamu bisa berinstropeksi dan menghindari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Jadi pemimpin yang gemar membaca dan menulis. Jadilah pemimpin yang memprovokasi rakyatnya untuk belajar, membaca dan menulis.
Kalau mau memilih menjadi seorang pedagang seperti Om Agung dan Mbah Sudarno, maka ajarkanlah membaca dan menulis pada karyawanmu. Edukasi mereka tentang pentingnya belajar, terlebih lagi pada anak anak mereka. Pesan bapak, “jika keuanganmu mampu, tolong seluruh biaya sekolah anak anak mereka kamu tanggung”. Tidak akan ada ruginya nduk.
Apapun profesi yang kelak akan kamu geluti adalah baik. Tulislah itu semua sebagai pelajaran hidup dan catatan sejarah. Ingatlah selalu kata kata Al Imam Ghozali, “jika kamu bukan seorang pemimpin, jika kamu bukan seorang ulama, jadilah seorang penulis”.
Nduk, kelak kalau menulis tolong jangan menggunakan sudut pandang negatif, karena seringkali menyulut pertentangan. Pakailah sudut pandang positif yang mengundang persahabatan.
– @lambangsarib –
.
.
Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo


keep writing om
ayooo
Semangat menuliiiiis
ayooo
Kata kata Al Imam Ghozali ini saya garis bawahi, “jika kamu bukan seorang pemimpin, jika kamu bukan seorang ulama, jadilah seorang penulis”.
Terimakasih telah berbagi hal yg penuh makna…
Salam,
saling berbagi dan menginspirasi pak, salam.
terimakasih
Membaca tulisan-tulisan Pak Lambang belakangan ini, rasanya seperti dinasihati bapak sendiri
setuju ^^
iyaaa sama, rasanya gitu juga pas baca tulisannya buat nduk
@whysooserious @metamocca @’Ne : hehehe….. terimakasih.
terimakasih
Masuk GONTOR. Saya dukung.. gontor gontor!
Hehehe…. terimakasih
sedang berusaha menulis yang bermanfaat
ayooo….. berlomba menulis. Setiap hari dooong.
Terus berkarya pak. .
terimakasih yah
Thanks mas, tulisannya bgs nginetin supaya jgn nulis yg jelek2
berfikir positif membawa karakter kita kearah positif.
moga nanti kiky rajin nulis juga kayak ayahnya…
Amien
aduh, saya belangkangan menulis yang jelek2 pak dan belakangan pandangan saya cendrung negatif, barangkali saya terlalu ya pak, jadi gak bisa selalu positf hehehe
Heehe, gakpapa lah.
aduh, saya belangkangan menulis yang jelek2 pak dan belakangan pandangan saya cendrung negatif, barangkali saya terlalu ya pak, jadi gak bisa selalu positf heheaduh, saya belangkangan menulis yang jelek2 pak dan belakangan pandangan saya cendrung negatif, barangkali saya terlalu ya pak, jadi gak bisa selalu positf heheaduh, saya belangkangan menulis yang jelek2 pak dan belakangan pandangan saya cendrung negatif, barangkali saya terlalu ya pak, jadi gak bisa selalu positf heheaduh, saya belangkangan menulis yang jelek2 pak dan belakangan pandangan saya cendrung negatif, barangkali saya terlalu ya pak, jadi gak bisa selalu positf hehehe
aduh komen diatas berantakan, inetnya lemot sini pak, maaf2.., hehe
mkasud saya tadi “saya belangkangan menulis yang jelek2 pak dan belakangan pandangan saya cendrung negatif, baranigkali saya terlalu skeptis, jadi gak bisa selalu positf, maklum pak kadang masih suka labil saya nya hehehe”
Ada satu mulut, dua telinga: Harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ada satu mulut, dua telinga tapi sepuluh jemari: Harus lebih banyak menulis…
sepakat
hidup sepakat!
Quotenya Imam Ghazali bikin jadi semangat buat nulis. Moga aja nanti Kiky jadi doyan nulis kaya bapanya.
Alhamdulillah ya diberi kesempatan buat shalat di sepertiga malam. Masih belum lancar saya nih tahajudnya.
ayoooo menulis terus
Amiien.
bravo om.. *tepok tangan*
peningkatan pesat nih, kayaknya makin lama tulisan Om makin bagus, melebihi aku.
konsep “bicara dengan anak” sangat cocok buat Om, terinspirasi dari ghazwanie bukan? hehe.. ntar kalau aku udah punya anak mau bikin konsep begitu juga aaah.. ^-^
walaupun katanya Om ngga bisa nulis, tapi dengan konsep begini, tulisannya semakin bener-bener dari hati, apa adanya, dan tidak dipaksakan, jadi makin enak dibacanya. selamat om!!
#sok-sok jadi komentator# haha..
setuju sama buah pemikiran Om. kebanyakan orang tua itu menilai kesuksesan anak dari semua hal duniawi. padahal, sebenarnya, kesuksesan anak itu adalah saat dia senantiasa mendoakan orang tuanya terutama setelah orang tuanya wafat, karena itulah yang akan menjadi argo pahala bagi orang tuanya.
semua hal duniawi hanya akan membuat bangga ketika masih hidup saja. kalau anak telah dididik sedari kecil menjadi sholeh-sholehah, maka itulah sebenarnya kesuksesan yang hakiki.
#sok dewasa, padahal belum punya anak# haha…
Semoga tidak dikatawai orang publishing.
Inspirasi dari bukunya Fauzan berjudul River’s Note. Anaknya bernama Rivers dituliskan dibuku ini. Kereeen …. coba deh baca. https://twitter.com/lambangsarib/status/290725645447737345/photo/1
oh jadi itu buku terbitan sendiri, khusus untuk anaknya ya om?
bagus, suka sama covernya.
di toko buku khusus atau di semua toko buku ada??
Iya…. tulisannya sangat menginspirasi dan saya menyadurnya. Sudah ijin kok…..
Tidak usah beli bukunya, isinya sama plek dengan blognya disini –> http://riversnote.blogspot.com/
eh… tapi ada wp nya juga, ntar dicari dulu. Lupa naruh…
setuju nih sama uti, terutama paragraf pertama
baca satu paragraf aja yah ?
dibaca semua termasuk komen2nya juga saya baca -__-’
terimakasih yahhh
Wow,, menarik sangat menarik… semoga Gendhuk-nya Om Lambang ini juga punya mimpi dan keinginan untuk mondok ke Gontor atau ke Ust, YM.. sehingga bukan hanya sekedar nuntun ilmu karena dikirim oleh orang tuanya..
dan saya yakin, dengan memiliki Bapak seperti Om, keinginan untuk menuntut ilmu dunia dan akhirah akan tumbuh dengan sendirinya
Sepakat, menulislah, maka kau akan menjadi sejarah…
Oiya,, ralat untuk nama Om Dik Doank,, bukan DICK…
hehe…. terimakasih koreksinya, maaf gak seneng liat tipi jadi tidak tahu mana yang benar.
Betewe terimakasih banyak, ayoooo menuliiis
Saya juga ndak liat tipi,, tapi di inet juga banyak…
Siaap,, saya belum serajin njenengan
niat rajin saja…. gampang kok
Mengalir. Seperti itulah seharusnya hidup. Tuliskan alirannya.
Tulisannya ruenyah poll, bikin kangen baca tulisan-tulisan lainnya, Pak
terimakasih
Suka sekali dengan postingan ini….sepakat banget dengan isinya…berbobot tapi enak di baca.
Yap betul, seperti kami juga membebaskan anak untuk memilih jalan apapun dalam kehidupanya nanti, yang penting tetap di jalan Nya, dan selalu sadar akan kehambaanya.
kok peci hitam ini semakin sesak yah ? kepalaku membesar kale….. hehehe
selamat menulis sehingga menjadi pribadi yg elegen. krn menulisnya dr sudut pandang yang positif.
Yes, sangat sepakat. Negative thinking selain membuat capek juga menjauhkan rejeki.
“Pakailah sudut pandang positif yang mengundang persahabatan.” Sebuah kalimat yang bijak dan menginspirasi. Membaca tulisan Bapak, sungguh menyemangati hidup ini utk selalu menulis dan menularkan semangat buat orang-orang dekat dan siapa saja.
salam kenal pak Lambangsarib. saya masih newbie di dunia blog, kiranya sudah menjalin silaturahim di dunia maya ini.
salam
HP
Terimakasih, saya juga newbie blogger kok. Kita saling menginpirasi yah ?