Habibie & Ainun, Sebuah Perjalanan Cinta Yang Menginspirasi

Demam film percintaan antara Baharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun Besari sedang sedang mewabah  di akhir tahun ini.  Bahkan filmnya berjudul Habibie & Ainun ini mencapai rekor dengan jumlah penonton lebih dari 14 juta orang dalam kurun waktu satu bulan pertama.

Terus terang saya belum  melihat film ini. Namun saya ingin merangkum beberapa ucapan Habibie dan  ibu Ainun dalam film tersebut. Salah satu sumber yang menurut saya bisa dipercaya adalah  blognya ikakoentjoro dan blognya metamocca.

Saya sendiri tidak tahu mengapa ingin sekali  meng copy paste beberapa bagian dari  kedua blog diatas. Mungkin karena kekaguman semata terhadap mantan ibu negara ini, atau mungkin juga karena hal lain yang saya sendiri tidak tahu.

Bahwa ini adalah satu satunya novel karya mantan presiden RI ke 3. Beliau adalah orang tekhnik dan ahli pesawat terbang. Namun novel yang di tulis beberapa hari setelah ibu Ainun Habibie meninggal itu sangat luar biasa. Mampu menginspirasi dan menyihir banyak kalangan, termasuk sastrawan dan penikmat novel.

Cobalah kita renungkan sebuah  komitmen yang  tulus dari  seorang wanita luar biasa ini. Hanya perempuan dengan  cinta dan ketaatan mutlak pada suamilah yang mampu mengungkapkannya.

Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter?

Sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin jika pada akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri. 

Apa artinya tambahan uang dan kepuasan professional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan bentuk pribadinya.

Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun-tahun kami bertiga hidup begitu 

Berikut ini adalah beberapa dialog favorite yang mampu direkam baik oleh sahabat blogger meta. Walaupun mungkin tidak persis sama, namun pasti bermakna dan inspiratif.

Habbibie : “Aku tidak bisa berjanji kehidupan di sana bagaimana, tidak bisa janji kita tinggal dimana, tapi aku bisa berjanji akan menjadi suami yang baik untuk kamu”
Ainun : “Aku tidak bisa berjanji menjadi istri yang baik untuk kamu, tapi aku berjanji akan selalu menemani kamu untuk menggapai mimpi-mimpimu.”

Ainun : “Aku mau pulang ke Indonesia, aku tidak tahan di sini.. Aku sudah menghitung tabungan kita, nanti aku akan menyusulmu lagi kembali kesini.”
Habbibie : “Ainun, kita ini seperti sedang berada di sebuah lorong, gelap, panjang… Tapi setiap lorong pasti ada ujungnya, pasti ada cahaya yang menuntunnya. Aku janji akan membawamu ke cahaya itu.”

Ainun : Kamu bukan Superman! Kalau kamu tidak bisa memimpin tubuh kamu sendiri, bagaimana bisa kamu pimpin tubuh 200juta orang? Beristirahatlaahh…

Ainun : Kamu itu org yg paling keras kepala yg pernah aku kenal, tapi kalau aku hrs mengulang hidupku lagi, aku tetap pilih kamu.

Ainun : Jangan pernah beritahukan (penyakit) ini, Suamiku sedang dibutuhkan negara ini.

Petikan kata kata dari kisah nyata di atas akan semakin lengkap jika kita baca surat cinta Habibie kepada Ainun,  seratus hari setelah beliau wafat. Pada tanggal 28 Agustus 2010 jam 06:30 Habibie menuliskan surat cinta seperti dibawah ini.

Sahabat blogger, sudahkah kita mencintai anak dan istri kita sepenuh hati ? Kira kira apa yang sudah kita perbuat untuk membahagiakan mereka ?

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About these ads

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja. Penikmat teh WASGITEL (Wangi melati, Sepet, Legi, Kenthel) yang rindu bersilaturahim ke lapak lapak.
Gallery | This entry was posted in cinta, inspirasi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

36 Responses to Habibie & Ainun, Sebuah Perjalanan Cinta Yang Menginspirasi

  1. nyonyasepatu says:

    Udah mewek bacanya haha

  2. danirachmat says:

    Kisah cinta beliau memang inspiratif Pak.. :)

  3. Ilham says:

    dalem banget ya cinta diantara mereka.

  4. metamocca says:

    Di filmnya Ainun sempat bekerja menjadi Dokter spesialis anak di Jerman, tapi beliau menyesal.
    (Kira-kira begini,)
    “Saya ini dokter spesialis anak, saya mengurus dan merawat banyak anak di sini. Tapi anak sendiri malah tidak terurus.”
    :’( akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti kerja dan menyusul suaminya pulang ke Indonesia.

    • lambangsarib says:

      Wah…., salah berarti ya ? Lalu bagaimana sebaiknya editing tulisan ini ?

      • metamocca says:

        eh, saya juga gak tau Om, benar atau tidak. saya juga belum baca biografi beliau, jadi informasinya juga cuma setengah tahu.

      • lambangsarib says:

        mungkin begini kronologisnya :

        Waktu di Jerman –> “Saya ini dokter spesialis anak, saya mengurus dan merawat banyak anak di sini. Tapi anak sendiri malah tidak terurus.”
        :’( akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti kerja dan menyusul suaminya pulang ke Indonesia).

        Setelah di Indonesia –>

        Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter?

        Sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin jika pada akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri.

        Apa artinya tambahan uang dan kepuasan professional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan bentuk pribadinya.

        Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun-tahun kami bertiga hidup begitu

        ******

        Mungkin lho yah….

      • metamocca says:

        tapi kok bertiga ya, Om? anaknya kan dua orang.

        hmmm… kyknya musti tanya ke yang udah prnah baca biografinya nih. :P

      • lambangsarib says:

        Baca doong, nanti saya tinggal co pas, hehe… enak yah ?

    • Ikakoentjoro says:

      Kalo dibuku novel yang ditulis BJ Habibie ndak begitu meta. Entah untuk mempersingkat film atau gimana saya juga kurang tau. Dulu waktu film “Ayat-ayat cinta” juga tidak sama persis dengan novelnya. Terus terang kalo aku lebih suka bukunya daripada filmnya.

      • Ikakoentjoro says:

        Nambah lagi nich, pergolakan batin Ainun terjadi ketika anaknya masih 1. kalo ga’ salah namanya Ilham Habibie

      • lambangsarib says:

        Sepakat nih, novel biasanya lebih bagus dibanding filmnya. Mungkin karena didalam novel kita terbawa emosi dan ada ruang untuk berimajinasi. Seperti laskar pelangi dan negeri lima menara. Keduanya saya baca novel dan melihat filmnya. Di film terasa dangkal dan dipaksakan.

        ****
        Kata kata dibawah ini terucap ketika anaknya baru satu atau sudah dua orang ?

        Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter?

        Sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin jika pada akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri.

        Apa artinya tambahan uang dan kepuasan professional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan bentuk pribadinya.

        Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun-tahun kami bertiga hidup begitu

      • Ikakoentjoro says:

        Sudah saya jawab pak :)

  5. ~Ra says:

    Semoga aku kayak mereka.. :)

  6. chrismanaby says:

    saya belum nonton filmnya kok udah berkaca2 matanya bca suratnya om,…. *ambil tissue*

  7. mintarsih28 says:

    mencintai bukan hal yang gratis. cinta akan diberikan kepada pemlik cinta, Allah. bila kita ikhlas bercinta nanti Allah lah yang menurunkan kasih sayang./ cinta. dan ini perlu perjuangan.

  8. narno3 says:

    sepakat dengan bu min

  9. ryan says:

    Patut ditonton kok filmnya…
    Kisah mereka memang patut dijadikan teladan. Bu Ainun yang setia mendampingi dan bahkan ‘melindungi’ Pak Habibie dan sebaliknya.
    N250 dibuat oleh Pak Habibie atas janjinya ke Bu Ainun, diluncurkan di tanggal kelahiran Bu Ainun sebagai hadiah ulang tahunnya.

    Dan akting Reza sebagai Pak Habibie sangat patut diacungi jempol. Dia mampu menghadirkan Pak Habibie dalam film ini. Dan romantisme mereka berdua terlihat saat Pak Habibie mencium kening, kedua kelopak mata dan kemudian bibir Ibu Ainun… (baru saja buat blog soal ini…)

  10. Titik Asa says:

    Perjalanan cinta yg luar biasa. Semoga suri teladannya bisa kita jadikan inspirasi untuk mewujudkan cinta dalam keluarga kita sendiri…
    Salam,

  11. Ely Meyer says:

    Kapan saya bisa nonton filmnya ya ?

  12. udah lama gak nge-aer putih di mari,,

    jadi ngeri nontonnya,, belum laku soalnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s