Saat kita berada di kantor, di pasar, di jalanan dan dimanapun berada seringkali terdengar sebuah pertanyaan, “ini anak siapa ?”. Maka seorang ibu atau bapak bapak akan dengan sigap mengatakan, “itu anak saya”.
Kemudian jika seseorang menimpali, “wih…., pinternya anak ini, bla… bla… bla….”. Maka spontan senyum sang ayah atau ibu itu pun mengembang. Kebanggaan sebagai orang tua tampak benar di raut wajahnya.
Sebuah pertanyaan sederhana, siapakah sebenarnya yang membentuk karakter dan perilaku anak ? Apakah ayahnya, ibunya, campuran keduanya, pengasuhnya atau yang lainnya ?
Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi terbentuknya karakter anak.
Pertama karakter anak menirukan orang yang paling sering berinteraksi dengannya.
Bagi orang tua yang menginginkan anaknya memiliki karakter mirip, maka ia harus sesering mungkin berinteraksi. Bermain main dengan anak dan melakukan aktivitas sehari hari dengan melibatkannya. Hal ini wajib dilakukan orang tua, kapanpun dan dimanapun.
Kedua karakter anak menirukan orang yang paling ia percaya.
Orang tua harus mampu menjadi tauladan dan dipercaya anak. Jangan sekali kali membohongi mereka. Mungkin orang tua tidak sengaja berbohong, namun memori anak merekam janji orang tuanya dengan baik.
Misalkan orang tua berkata, “ayo mandi nak, nanti bapak ajak jalan jalan”. Disaat anak selesai mandi dan bapak tidak mengajaknya jalan jalan, maka anak mengecap orang tuanya sebagai pembohong. Kejadian itu akan diingat betul oleh anak.
Ketiga karakter anak menirukan orang yang mengajarkan sesuatu padanya untuk pertama kali.
Sebagai contoh adalah mengajarkan anak makan dengan tangan kanan. Jika secara perlahan itu kita ajarkan, maka ia pun akan dengan sendirinya makan dengan tangan kanan.
Namun beda halnya jika anak tidak pernah diajarkan cara makan yang benar. Suatu saat jika ia melihat seseorang makan dengan tangan kiri, maka itu akan ditiru dan dianggapnya sebagai kebenaran.
Keempat karakter anak menirukan orang yang mengajarkan sesuatu dengan menyenangkan (menurut anak).
Untuk itu kiranya orang tua harus mampu bertindak sebagai teman dan sahabat bagi anak anak. Jika anak merasa orang tuanya menyenangkan, maka apapun yang diperbuat orang tuanya otomatis akan ditiru.
Orang tua yang baik tentu saja akan melakukan segalanya demi anak. Termasuk pembentukan karakter tentunya. Jangan sampai kesempatan emas orang tua dalam membentuk karakter ini di ambil alih oleh orang lain atau pihak ketiga.
Orang ketiga itu adalah orang lain diluar keluarga inti, Seperti kakek, nenek, tante dan om. Bahkan orang luar keluarga pun mampu mempengaruhi pembentukan karakter anak, seperti tetangga dan pengasuh.
Jika peran itu diambil alih orang lain, maka cepat atau lambat penyesalan itu pasti datang.
Pertanyaannya, sukakah anda jika si “buah hati” menirukan karakter orang lain ?
.
.
Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo


aku belum punya anak pak, cuma bisa membayangkan pasti sedih juga kalau anak ku menirukan karakter orang lain, apalagi misalnya yg ditiru itu karakternya negatif
sepakat.
Postingan ini banyak mengandung kebenaran yang tidak bisa dibantah.
Kalo si buah hati mengikuti karakter orang lain, dan karakter itu cenderung menyilaukan mata (seolah-olah kelihatan baik / shiny object syndrom) itu sama dengan menciptakan bom waktu.
Terimakasih, saya jadi tahu ada istilah Shyne Object Syndrom.
Saya cari dan baca baca dulu istilah itu, sepertinya sangat menarik.
Setuju banget Mas kalo jangan pernah bohong sama anak. Anak akan ikut jadi pembohong nantinya. Meskipun awalnya orangtua berbohong dengan tujuan biar anaknya nurut…
Anak pembohong itu karena diajarkan dan itu dianggap sebuah kebenaran.
Padahal jiwa anak itu sudah lurus, body language nya akan berbicara ketika berbohong
Sepakat. Anak itu layaknya kertas putih yang siap dilukis atau ditulis. Apa isi tulisan atau lukisan sangat tergantung pada pelukis dan penulisnya.
Tak akan ku ijinkan orang lain ikut menulis di lembaran lembaran putih itu.
iya ya om, sayang bgt klo anak menirukan karakter org lain,apalagi pengasuhnya karena seringnya berinteraksi dngn pengasuh dibanding orang tua.miris
Anak seolah akan menjadi “orang lain” di rumahnya sendiri.
nah televisi juga bisa menjadi faktor ke lima yg akan ditiru oleh anak juga berarti ya? jika orang tua kurang mengawasi si anak nonton TV
Sepakat. Televisi, games, internet dll adalah faktor lain yang mampu membentuk karakter anak.
kaka nemu hal ini dimana? buku ya?
Kata teman teman di blog harus banyak membaca.
Terimakasih Pak infonya, saya akan berusaha sekuat tenaga supaya Ai berkarakter solehah
Tapi maaf loh, saya sepertinya juga bukan orang tua yang baik, hanya berusaha dan menuliskan saja.
terimakasih pak,..
Lingkungan juga berpengaruh pada karakter anak Pak…
Betul bahwa televisi, internet, teman, lingkungan dan banyak lagi lainnya berpengaruh pada pembentukan karakter anak. Namun seharusnya orang tua yang memiliki pengaruh terbesar bukan ?