Membuat Anak Gemar Membaca Lebih Penting Dibanding Mengajar Anak Membaca

Malam ini rasanya ingin tidur lebih cepat dari biasanya. Badan terasa penat dan capek, sementara sinar mata pun sudah 5 watt.  Saya rebahkan  tubuh di depan televisi beralaskan tikar. Sambil glelengan dan  selonjor,  saya membaca bukunya  Ayah Edy yang berjudul “Membangaun Indonesia Yang Kuat Dari Keluarga”.

Pinginnya sih buku ini menjadi pengantar tidur. Namun setelah membaca beberapa halaman keadaan malah berbalik. Mata kantuk yang awalnya seperti lampu  5 watt itu kini berbinar layaknya lampu TL Philips 100 watt. Badan yang capek dan pegal pegal tiba tiba berubah segar bugar.

Tahu kenapa kira kira  ?

Karena di buku ini ada sebuah tulisan yang mengulas tentang sebuah penelitian berkenaan dengan kapan sebaiknya mengajari anak membaca. Nah, untuk lebih jelasnya, saya sarikan beberapa pokok hasil penelitian sebagai berikut :

  Anak yang diajari  membaca di usia terlalu dini justru tidak membuat anak menjadi gemar membaca.

Memang benar bahwa anak akan  mampu membaca di usia dini, bahkan kemampuan membacanya luar biasa di usia yang belum genap lima tahun. Namun, kemampuan anak membaca itu ternyata tidak berkorelasi positif dengan kegemaran membaca.

Anak anak yang diajari membaca  di usia balita kelak justru membaca dan menulis buku jauh lebih sedikit daripada mereka yang baru diajari membaca pada usia 7 atau 8 tahun ke atas.

Produktivitas dan kemauan anak anak yang “dipaksa” orang tua untuk menulis di usia dini,  umumnya rendah.  Mungkin mereka trauma akan perlakuan dan paksaan  orang tua. Maksud orang tua memang baik, namun belum tentu hal itu disukai anak  bukan ?

Kemampuan anak yang diajari membaca semenjak balita dengan anak yang baru belajar membaca pada usia 7-8 tahun akan sama baiknya ketika mereka sama sama berusia 10-12 tahun.  Namun  minat baca anak yang diajari membaca pada usia balita jauh lebih rendah dibanding anak yang belajar membaca di usia 7-8 tahun.

Membaca ketika pokok hasil penelitian tersebut, saya berpendapat bahwa :

  1. Membuat anak gemar membaca adalah jauh lebih penting dibanding mengajar anak untuk membaca.
  2. Anak yang gemar membaca tentu saja akan  kreatif dalam menggali ilmu yang mereka sukai.
  3. Memaksakan  anak untuk belajar membaca diusia dini itu sebenarnya bukan untuk kepentingan anak, melainkan untuk kepentingan “pamer” orang tua akan kesuksesan mereka mendidik anak.

Sahabat blogger yang baik,  bagaimana menurut anda ? Adakah opini yang bisa di share untuk saling belajar ? Terimakasih.

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

 

About these ads

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja. Penikmat teh WASGITEL (Wangi melati, Sepet, Legi, Kenthel) yang rindu bersilaturahim ke lapak lapak.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

62 Responses to Membuat Anak Gemar Membaca Lebih Penting Dibanding Mengajar Anak Membaca

  1. ~Ra says:

    Nggak juga ah Om. Aku dulu TK udah bisa baca. Kata pertama yang aku baca itu, “Sukarlan”. Dapat dari pintu rumah orang waktu jalan-jalan sama Ibu. Untuk yang ini aku ingat betul kejadiannya.

    Aku nggak suka baca? Oh, jelas. Suka banget.

    Cuman aku males beli buku. :D Masih ngerasa harga buku kok mahal banget. Gitu sih.

    SUka dan nggak suka menurutku ya tergantung kebiasaan. Kayak dipostingan Om waktu itu, siapa personel band padi itu? Kan dia bilang, anak kedua lebih seneng beli buku ketimbang main game. Ya kan?

    Faktor utama biar jadi suka baca ya ada di “bisa” beli bukunya itu. Menurutku sih gitu.

    • lambangsarib says:

      Yang lain aku sependapat, mungkin berbeda setiap orang. Namun kata “Faktor utama biar jadi suka baca ya ada di “bisa” beli bukunya itu”, kok sepertinya kurang pas yah.

      Anak anak teman saya yg “ekonominya lebih” kok anak anak mereka tak suka membaca ya ? Padahal orang tua mereka mampu membelikan buku.

      Mampu membaca dengan kata pertama “sukarlan” yah ? Luar biasa menurut saya, karena “huruf mati ditengah” biasanya amat susah difahami anak anak.

  2. nengwie says:

    Di Jerman itu, anak baru belajar membaca kls 1 SD, di TK itu benar benar bermain dan belajar bukan belajar dan bermain, sekedar mengenal abjad saja, ndak aneh kalau usia 6 atau 7 thn baru bisa membaca, kalau di Indo mah kayanya wajib bisa baca tulis kalau mau masuk SD ya.. Pdhl ngajarin baca pd anak usia 6 or 7 thn itu cepet ko.
    Duluuu saya agak ideal, ngajarin Viera baca dr usia diniii banget, makanya usia 3 thn kurang, dia sudah bisa membaca, kebalik sama adik2nya gede di Jerman, malah saya agak dilarang untuk mengajari anak membaca saat usia TK.
    Hebatlah anak kecil di Indo mah, anak2 TK sudah pd pinter bhs.inggris, matematika yg pake metoda canggih, bedaaaa banget sama disini :)

    • lambangsarib says:

      Dari pengalaman yang ada, hebatan mana produk Indonesia dan Jerman ? Maaf dalam konteks “kegemaran membaca” saja yah ? Dalam arti mana lebih bagus belajar membaca di usia 6-7 tahun atau 3-4 tahun ?

      Betewe terimakasih banyak sharingnya.

      • nengwie says:

        Anak-anak di Jerman atau orang Jerman pada doyan baca, dimana saja, di subway, kereta, bus banyak yg sambil baca buku.

        Produk Indonesia baca anak2 yg lahir dari ortu asli orang Indonesia bukan campuran itu bisa berbangga diri bukan sombong yaa… mereka rata2 pinter dan masuk ke sekolah yang dipersiapkan untuk ke perguruan tinggi,

        Saya ndak bisa membandingkan nih bagus belajar membaca di usia 6-7 atau 3-4 krn saya khan 11 tahun ndak mengikuti perkembangan pendidikan di Indonesia.

        Tapi kalau saya bandingkan si sulung/ Viera sekarang dgn adik2nya, ya adik2nya lebih suka baca dibanding VIera, apa karena sudah mau 17 thn, dan dia lebih sering duduk di depan kanvasnya :)

        Tapi ya itu dia yaa.. sekarang sarana membaca ndak cuma pegang buku, ada yg pake tablet, ada yg bawa2 kindles… dan jugaaaa banyak sarana yg membelokkan minat baca anak ke arah lain mis ngenet, main game.
        Tinggal pinter2nya saja orang tua mengarahkan, saya pribadi mengharuskan anak2 membaca, terserah mau baca pelajaran atau membaca buku cerita, yg penting baca, dan sering2 diajak ke toko buku…:)

      • lambangsarib says:

        Kalau ini ditulis keren banget nih, Kamparasi kegemaran membaca anak anak didikan Indonesia dan Jerman.

        Yang didikan Indonesia kan diajar membaca diusia 3-4 tahun, sementara yang didikan Jerman ketika usia 6-7 tahun.

    • Setokdel says:

      wah komen yang ini sedikit satir :D

      • nengwie says:

        Ya tergantung yang bacanya sih…hehehe
        Disatu sisi saya salut juga buat anak2 yg kecil sudah pada pinter, tp disatu sisi ya kasian juga, masa bermain nya sedikit terengut, dan semua itu tidak terlepas dari peran atau ambisi ortu (?)
        emak bapak siapa sih yg ngga bangga anaknya yang masih kecil bisa pinter baca, berhitung dan berbahasa asing? :)
        Duluuuu… waktu si sulung umur 2, saya pikirannya begitu tuh..pokok’e kudu pinterlah meski masih kecil banget.

        Tapi sekarang mah dunia pendidikan di Indonesia sudah maju pesat ndak kalah sama negara2 maju, wong teteh aja masih kurang sreg ko dgn sisitem pendidikan dasar di Jerman saat ini…:)

      • lambangsarib says:

        enaknya sih dia sedini mungkin bisa baca, dan gemar membaca. Selalu membahagiakan orang tua dengan prestasi prestasinya. Hahahaha…. tapi kok angel yah kayaknya.

        Saya baca beberapa biografi orang orang hebat kok malah disekolah umumnya mereka biasa biasa saja ya ?

        Bahkan ada becandaan begini, kalau mau kerja jadi professional harus pinter. Kalau mau jadi boss harus goblok. eh…. maaf, ini becandaannya Bob Sadino loh….

      • nengwie says:

        Lha ada benernya juga itu Oom Bob..beliau mungkin menulis berdasarkan pengalaman dan melihat sekeliling orang yg sukses, meski tanpa pendidikan formal yang tinggi.

        Banyak sekali yg kadang tidak mengeyam “bangku sekolahan” lebih sukses dibanding yg “makan” bangku sekolahan. :D

        Mungkin pinternya keluar pas waktunya mas.
        Saat sekolah umum, masih terpendam . hehehe

      • lambangsarib says:

        Ada yang bilang begini, “anak pintar disekolah itu melakukan sesuatu demi mengejar nilai, sementara anak “bodoh” melakukan sesuatu demi mimpi dan hobi”.

        Benarkah pendapat demikian ?

      • nengwie says:

        waahhh ngga ngeh kalau itu mah Mas…bodohnya pakai tanda kutip soalnya…hehehe

        Bisa juga khan anak pinter itu melakukan sesuatu justru karena untuk mewujudkan impiannya?

        contohnya melukis itu bisa jadi sebuah adalah hobi, dari hasil lukisannya terlhat kejeniusan seseorang bukan?

      • lambangsarib says:

        Orang jenius itu seringkali hanya mau bekerja untuk dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak mau bekerja untuk sebuah nilai atau guru. Mungkin itu penyebabnya orang jenius selalu dianggap bodoh oleh guru semasa sekolah.

  3. metamocca says:

    Setuju Om!!

    Waktu saya dulu, baru diajarin kenal huruf waktu sekolah di TK, diajarin ngeja di SD. Tapi kenapa sekarang anak umur 3 tahun saja sudah ada pelajaran itu???

    Saya justru milih sekolah untuk Keke yang kurikulumnya tidak ada pelajaran membaca.

    komisi perlindungan anak juga menggugat kurikulum ‘baca’ yang ada di PAUD. Katanya tidak sesuai dengan usianya. Dimana seharusnya masih bermain dan belajar bersosialisasi.

    • metamocca said:
      komisi perlindungan anak juga menggugat kurikulum ‘baca’ yang ada di PAUD. Katanya tidak sesuai dengan usianya.

      Sebelum fokus berbisnis, istri saya pernah beberapa tahun aktif di manajemen PAUD. Beliau pernah sharing ke saya, mengapa PAUD ada kurikulum ‘baca’, itu karena adanya banyak tuntutan dari orangtua murid. Para orangtua tidak ingin anaknya gagal berkompetisi dalam penerimaan SD. Kalau tuntutannya tidak dipenuhi, tidak segan-segan banyak orangtua memindahkan anaknya ke PAUD lainnya. Dilematis memang :)

      Solusi bagi orangtua untuk menghadapi kondisi dilematis ini seperti komen saya di bawah ini. Sedangkan solusi bagi PAUD, harus mampu membuat metode ajar yg kreatif untuk kurikulum ‘baca’, agar bisnis PAUD-nya tetap jalan menjadi pilihan banyak orangtua di lingkungannya.

      • lambangsarib says:

        Sebenarnya ini adalah tuntutan orang tua ?

        Saya befikir bahwa selama ini banyak orang tua terjebak pada “perlombaan” dengan obyek penderita sang anak ? Kalau benar, apakah itu juga merupakan eksploitasi anak ?

      • Saya rasa tuntutan orangtua bukan untuk pamer, tapi karena adanya tuntutan dari sistem pendidikan.
        Rata-rata para orangtua akan tenang kalo anaknya bisa baca sebelum anaknya mengikuti seleksi penerimaan SD. Dan rata-rata orangtua menginginkan anaknya untuk bisa bersekolah di sekolah unggulan / favorit, terlebih lagi biayanya murah, namun bagus kualitasnya. Dan kenyataannya ada sistem kompetisi dalam penerimaan siswa tersebut.

        Coba Pak Lambang gali informasi tentang sekolah dasar yg bagus di daerah bapak. Seandainya untuk masuk ke sana ada persyaratan harus bisa membaca, lantas bagaimana upaya Pak Lambang terhadap Kiky?
        Saya yakin bapak akan berupaya untuk beradaptasi dengan sistem yg berlaku tsb.

      • lambangsarib says:

        Argumentasi bapak sangat benar, dimana mana orang tua akan mengupayakan yang terbaik buat anak, termasuk sekolah tentunya.

        Jika sekolah yang favorit mensyaratkan harus bisa membaca ketika masuk, maka orang tua tidak ada pilihan lain kecuali mengajari anak membaca sedini mungkin.

        Ok pak Iwan, terimakasih pembelajaran dan ilmunya. Bermanfaat buat saya dan rekan bloger lain tentunya.

    • lambangsarib says:

      Nih sep[akat, saya dulu belajar membaca ketika masuk SD. Sewaktu di TK hanya pengenalan huruf dan bermain.

    • Setokdel says:

      wah, karena saya masih perjaka dan tidak begitu kompeten untuk menjawab, boleh lah kalo saya idem sama pak Iwan :D

      • lambangsarib says:

        Di era tahun 70’an tidak ada tes masuk sekolah SD. Semua buku dipinjemi sekolah. Buku kakak masih bisa dipakai adik adiknya. Banyak teman teman yang tak perlu masuk TK dahulu tapi langsung masuk SD. Umumnya kami “buta huruf” ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah.

      • lambangsarib says:

        Hahaha…. jawab tar kalau udah “bathi” ya ?

  4. Menurut saya kondisional juga situasinya.
    Apa yang disampaikan Ayah Edy ada benarnya. Namun ketika dihadapkan pada kondisi di lapangan tidak bisa demikian. Pada kenyataannya, untuk masuk SD saja, terutama SD unggulan atau favorit banyak yang mempersyaratkan sang anak harus bisa baca. Kalo sang anak tidak bisa baca, maka kasihan anak dan ortunya di masa periode selama 6 tahun ke depannya, ia jadi kurang kompetitif kalo masuk SD yg menerimanya namun kualitasnya asal-asalan.

    Jadi, mengapa saya bilang kondisional dalam membenarkan Ayah Edi? itu kalo sang orangtua mampu memahami psikologi anak dan mendidik anaknya dg metode home-schooling, dimana orangtua menjadi dominan dalam memberikan pengajaran.

    Saya setuju dengan Ayah Edi, namun dilemanya kita berada dalam sebuah sistem yang mau gak mau harus dipaksa beradaptasi dan diikuti. Sistem pendidikan negeri ini masih belum jelas visinya. Sehingga orangtua harus benar-benar berjuang keras mengelola psikologi sang anak agar mempunyai minat baca yang baik.

    • lambangsarib says:

      Menurut pak Iwan, kita yang harus beradaptasi dengan sebuah sistem yang belum jelas visinya ?

      Secara pribadi saya lebih suka untuk mengajar anak membaca itu diusia SD, seperti jaman saya dulu. Memang benar dilema yang akan dihadapi adalah, anak akan susah mendapatkan sekolah unggulan.

      Sebuah dilema yang complicated ya pak ?

      • Sebagai bagian dari warga negara yg memiliki sistem, sebaiknya memang demikian, mengikuti dan mematuhinya. Kecuali kita berada di lingkaran penguasa sehingga mampu me-reformasi sistem pendidikan.

        Menurut saya sistem yg berlaku sekarang ini sungguh kebablasan, menyiksa dan merampas hak anak untuk kreatif. Masih dini, anak sudah dicecar dg materi hafapan-hafalan. Jaman saya dulu tidak seperti itu. Sehingga tiap malam saya & istri (gantian) mendampingi anak saya yg masih kelas 1 SD belajar, materi pelajarannya berat banget untuk anak seusianya. Sehingga kami berupaya keras bagaimana agar dia bisa menikmati belajarnya. Yang utama, kami tidak menuntutnya untuk bisa menjadi juara 1, yg penting ada peningkatan kemampuannya. Ini yg saya maksud beradaptasi, yaitu ortu memikirkan metode yg baik agar anak merasa nyaman belajar tanpa ada perasaan tertekan.

      • lambangsarib says:

        Masih di buku Ayah edi saya baca bahwa di Australia, guru SD lebih banyak memberikan pengembangan budi pekerti dan karakter dibanding pelajaran.

        Guru akan risau jika melihat murid membuang sampah sembarangan. Sementara jika murid kurang mampu mengerjakan soal matematika guru tidak terlalu risau.

  5. JNYnita says:

    Aku kayaknya gak ada beban untuk belajar baca… pas masa ‘males’ krn gak mau belajar membaca krn di TK gak belajar baca, di rumah aku gak dipaksa utk belajar…
    Cuma pas liburan TK B aja belajar lagi, untungnya lsg bisa…
    Abis itu klo dibeliin sesuatu seringnya buku & kakekku pengkoleksi buku.. wuih udah kayak perpus di lantai atas.. sayangnya yang hobi buku cuma aku doang… huhuhu…

    • lambangsarib says:

      Ibu nya luar biasa, karena tidak pernah memaksa anak untuk belajar membaca. Namun orang tua (termasuk kakek) memberi contoh akan pentingnya membaca.

      Belajar membaca pas liburan TK B ? itu berumur 5-6 tahun dong ?

      • JNYnita says:

        pas umur 5 tahun Mas..
        sebelumnya kan udah apal huruf dan udah bisa baca asal (BCA dibaca becak, contoh yang lain aku lupa) dan diajarin dikit2 ba bi bu be bo, trus tb2 bisa baca aja gitu dan excited!! masuk TK B (sekalian pindah TK) aku udah bisa baca..
        pas SD aku kesel lagi, krn ‘ngulang’ belajar baca krn ada temen yang belum bs baca.. hahaha…

      • lambangsarib says:

        Sepertinya memaksa anak bisa membaca di usia 3-4 tahun kurang pas yah ? Kalau hanya mengenalkan huruf dan angka boleh lah,….

        Karena saya melihat kok kasihan amat melihat anak anak itu dipaksa.

      • JNYnita says:

        Sepakat Mas..
        pas 3 tahun aku blom diajarin baca, cuma huruf dan angka.. umur segitu bagusnya diajak main aja…

      • utie89 says:

        Hahaha… sama kak nita, aq juga pas masuk SD rada BT, wong aq udah bisa baca, malah belajar dari ulang lagi. :(

        Lalu lalu Om, bagaimana tips membuat anak gemar membaca kalau dia belum bisa baca???

      • lambangsarib says:

        Ya ndak tahu, wong anak saya juga baru umur antara 2-3 tahu. Kalau ada ide, saya share deh……

        Tapi kalau nanti anakku hobinya main tennis, tak mungkin saya panggil guru les membaca. Hahaha…..

  6. genthuk says:

    Bukankah akan mengulang kejadian orang tuanya yang masa kecilnya belum bisa menikmati bacaan. Tunjukkan membaca adalah kenikmatan bagi orang tua. Anak dengan sendirinya juga akan tertarik.

  7. chris13jkt says:

    Selama si anak tidak merasa terpaksa dan justru enjoy, aku rasa gak pa-pa ya diajari membaca di usia dini. Anak-anakku sudah bisa membaca sebelum masuk SD, dan sampai sekarang mereka masih sangat suka membaca, bahkan masing-masing sudah membangun perpustakaan mininya sendiri-sendiri.

  8. Yang perlu dipupuk memang kegemaran membaca itu sendiri, kalau hanya belajar membacanya di sekolah bisa

  9. Erit07 says:

    Benar bnget,jika anak bisa membaca tapi tidak gemar membaca,maka hanyalah sia-sia. .

  10. Ely Meyer says:

    aku nyimak saja dulu pak

    jd inget anak anak tetangga dulu suka main ke rumah minta dibacakan buku dongeng anak anak dr koleksi buku perpustakaan yg berbhs inggris

  11. sakti says:

    persis, ok deh, nanti dipraktekkan kalau saya dah punya anak nanti :)

  12. miartmiaw says:

    Nice post.
    Saya jadi bertanya pada diri sendiri, bagaimana caranya biar gemar baca jurnal ketimbang cerita fiksi. Hihi

  13. Ilham says:

    saya suka idenya. mungkin bisa dipraktekkan nanti KALAU punya anak. hehe.

  14. piet says:

    dr pengalaman saya, waktu saya memeriksakan anak saya ke “posyandu” di sini (terjadwal,umur berapa saja wajib check-up), wkt itu periksa umur 4 bulan-an, dapat pembagian BUKU bergambar. Tulisannya sedikiitt, gambarnya banyak. Disarankan utk mulai mengenalkan buku (membacakan) walau si bayi mungkin msh “plonga plongo” tidak mengerti. Setiap hari, saya sempatkan membacakan buku bergambar itu (hanya satu buku, dibacakan tiap hari). Mulanya, bayi saya tdk menaruh perhatian. Pd kesekian kalinya, dia mulai memperhatikan selembar demi selembar, mulai tertarik pd gambar, menarik halaman buku (berakhir dg ..kreeekk.. robek :)) Tp dr situ, bayi saya mulai tertarik pd buku. Kalau saya biarkan dia main sendiri, setelah bosan dg mainannya, dia akan bergerilya ke rak buku saya, menarik buku Tintin saya (deg2an plas… ;D) Akhirnya saya dibelikan buku bergambar baru, dg cerita singkat.. Bayi saya suka sekali buku ke dua, gambarnya lucu (tentang anak ayam & anak burung puyuh main petak umpet) Sangking sukanya dg buku itu, dia suka membolak balik sendiri ketika dia main sendirian. Akibatnya ya robek2 dg sukses (saya harus beli buku ygsejenis 2x ;) )
    Umur 4 th, tak dinyana… dia mulai bisa membaca sendiri!!! saya tidak pernah mengajarinya, hanya saja, tanpa saya sadari, dia menyimak setiap kata yg saya bacakan (huruf hiragana),s aya bacanya pelan2 krn saya sendiri belum canggih baca huruf hiragana :D ;D Sejak dia berhasil membaca 1 buku bergambar, minat bacanya seperti tidak terbendung lagi, Akhirnya anak saya jauuuh lebih canggih baca hiragana (blm masuk TK) ketimbang ibunya ;) Sebelum masuk SD sdh bisa baca hruf katakana. Di Jepang, anak TK tidak pernah diajar membaca, tapi dikenalkan JAM dg cara bermain :)
    Setelah duduk di SD, baru belajar hiragana, katakana.
    Semenjak dia bisa baca, dia lebih suka baca sendiri krn lbh cepat dr saya hahaha (sedih juga hikss) Dan setiap hari selalu ad awaktu utk membaca.
    Skrg (kls 3) sepulang sekolah, sambil mengunyah snack/istirahat, selalu ada buku di tangannya. memang seringnya manga (Gundam) tapi dia juga sangat enjoy baca ensiklopedi ttg sejarah dinosaurus, aneka pengetahuan yg dikemas dlm bentuk komik (itu menariknya buku2 diJepang), materi sejarah dlm bentuk cerita detektif Conan, atau dg tokoh Doraemon :)

  15. Rosyid says:

    aku kebetulan punya keponakan yang diusaianya baru masuk 3 tahun sudah mulai menyukai bacaan2, (walaupun masih di bacakan) dia selalu minta di bacakan kalau liat buku dengan gambar menarik, seperti majalah bobo contohnya, dan oia skalian infoin dh buat yang suka baca coba deh cari di gramedia atau toko buku terdekat buku judulnya “Melihat Tanpa Mata” dan “Diaryberry” keduanya dari penulis yang sama, isi bukunya inspiratif dan ngena banget. khusus yag “diaryberry” ini pertama di dunia, ternyata si penulis, menulis ceritanya melalui blackberrynya di biskota setiap kali dia pulang kerja, dan isinya banyak tentang hal yang dia alami sehari-hari, dia selalu broadcast ke semua kontak BBnya, sampai akhirnya ada penerbit yang menawarinya menerbitkan tulisannya itu ke buku… inspiratif banget… WAJIB di baca nh

  16. Alvie says:

    Saya 100% sepakat dengan judul tulisan ini, saya juga pernah membaca bahwa kalau anak diajarkan terlalu dini untuk membaca jadinya juga tidak baik dengan tumbuh kembang anak, mungkin baiknya anak diajarkan membaca pada waktunya yaitu saat menginjak SD kelas 1 atau 2.

  17. ia memang betul kdang suka salah orang tua itu..
    anak itu malah di suruh beljar membaca apa lagi dlam keadaan dipaksa..
    itu yang ada malah sebaliknya si anak itu..
    terimakasih ;)

    • lambangsarib says:

      Kadang orang tua malah memaksakan anak2 untuk les. Menurut saya itu kurang tepat.

      • charin says:

        Aduhhhh… saya sediiiiih bannget. Hari ini sepulang kerja, ayah nya laporan (kebetulan suami sy plg lebih awal dr sy), kl anak sy gak msk skolah (TK B) krn malu, di ketawain ma tmn2 nya, krn hrs sll mengulang membaca nya (intinya.. dia sudah mengenal huruf satu per satu, tp.. kl suruh baca di gabung kan dia blm bs), alhasil.. sy denger berita itu lgs meradang dan sebelllll banget, awal nya krn lagi esmosi, sy sebel sm anak sy krn udh 6thn ko blm bs baca kata (br bs baca huruf), tp akhrnya sy sadar kl ini emg salah sy, salah saya dan suami yg tdk pernah mengajarkan anak membaca. Mslh nya bukan sy dan suami gak mau mengajarkan, mslh nya anak sy suka gak mau kl sy ajarkan, dia gak prnh bs konsentrasi kl sy lagi mengajarkan, hemmmm.. jd bingung mesti gmn :(

  18. lambangsarib says:

    Masalah anak yang belum bisa membaca, ibu tak perlu kuatir, Alfa edison bahkan saat umur 9 tahun pun belum bisa membaca. Guru guru mereka menyimpulkan bahwa kedua anak itu “learning disable”.

    Akan tetapi, satu hal yang patut dicontoh orang tua adalah, sikap ibunya, Silahkan simak disini

    https://lambangsarib.wordpress.com/2012/12/24/kekuatan-cinta-ibu-menjalar-menjadi-bara-motivasi-yang-tak-pernah-padam/

    Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah anak yang kurang minat dalam hal tertentu. Kesalahan kita sebagai orang tua, seringkali memaksakan sesuatu yang tidak diminati anak.

    Sebagai contoh, anak yang sangat berminat bidang seni. Kalau kita paksakan dia untuk berhitung dan logika matematis, tentu saja anak malas. Begitu pun sebaliknya.

    kalau boleh saya memberi saran, tolong amati dulu perilaku anak dalam sehari. Catat apa yang menjadi kegemaran dan concernnya. Jika sudah diketahui, adalah tugas orang tua untuk menjadi fasilitator dan motivator tumbuh kembang anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s