Urip Iku Mung Mampir Ngombe – Hidup Hanya Sebentar

Urip Iku Mung Mampir Ngombe (Bhs. Jawa) sacara umum bisa diartikan bahwa “hidup ini hanya sekedar mampir  untuk minum”. Secara turun temurun dari generasi ke generasi ungkapan itu diwariskan masyarakat etnik Jawa. Diyakini kebenaran dan terpatri di lubuk hati. Segudang makna menyertai ungkapan klise tersebut tergantung konteksnya.

Sebagian besar komunitas masyarakat Jawa percaya bahwa ungkapan tersebut bermakna bahwa hidup ini terlalu singkat. Begitu  singkatnya kehidupan diibaratkan sesingkat manusia berhenti sejenak untuk minum.

Mereka percaya bahwa kalimat itu dikutip dari pengetahuan “Ngelmu sangkan paraning dumadi” atau ilmu  asal-usul manusia atau kehidupan. Manusia  berasal dari tanah dan akan kembali ke  tanah, manusia itu berasal dari sang Maha Pencipta dan akan kembali ke Tuhannya.

Perjalanan manusia teramat panjang dan melewati beberapa fase alam. Diawali alam ruh sebagai fase awal kehidupan manusia saat melakukan perjanjian dengan Tuhan. Kemudian dilanjutkan ke alam rahim. Setiap manusia tanpa kecuali,  pasti melewati alam ini lebih kurang selama sembilan bulan.

Setelah terlahir di muka bumi,  itu awal dimulainya alam dunia dan  berakhir disaat sakaratul maut tiba. Lamanya kehidupan berbeda untuk setiap orang. Ada yang dalam hitungan jam, namun ada yang hingga delapan puluh tahun atau lebih. Kehidupan dunia  yang sesaat itu yang  disebut dengan “mung mampir ngombe”.

Disaat ajal menjemput  manusia akan memasuki alam baru yang dinamakan alam kubur. Kelak di hari kiamat tiba,  manusia akan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya. Pertanggungjawaban di muka sang Kholik ini menjadi penentu alam selanjutnya yaitu surga atau neraka.

Sejenak marilah kita merenungkan perjalanan singkat itu.

Dari kelahiran hingga balita mungkin sebagian besar  tidak ingat lagi apa yang terjadi.  Ingatan biasanya hanya bisa di recovery saat umur lima tahun atau lebih. Kita hanya ingat siapa orang tua dan saudara terdekat. Sementara itu tetangga dan kawan sepermain  mungkin hanya bisa diingat samar samar.

Umur tujuh hingga umur 14 tahun umumnya anak anak mengenyam pendidikan  SD (sekolah dasar), bisa mulai mengingat siapa saja kawan main dan sahabat. Selepas dari pendidikan dasar,  masuklah berturut turut  ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas) dan Perguruan Tinggi.

Semakin tinggi jenjang pendidikan, biasanya kawan semakin beragam. Saat SMP misalnya, kawan kawan kita biasanya masih sebatas  di kecamatan yang sama. Semasa  SMA umumnya kawan kita lebih beragam, mereka datang dari kecamatan dan  kebupaten berbeda. Bahkan disaat menempuh pendidikan Perguruan Tinggi sahabat kita pun lebih berfariatif. Setiap teman di jenjang pendidikan berbeda memberi pengalaman, memberi nuansa dan kenangan berbeda.

Kini  jenjang tertinggi pendidikan formal telah kita lewati, yang ada tinggal kenangan. Kenangan baik dan buruk sudah dijalani dan merupakan bagian dari sejarah masing masing. Pendidikan masa kanak kanak di SD dan pendidikan menjelang dewasa di SMP, semua menjadi kenangan terindah dalam hidup.

Terlebih lagi saat  bermain di ruang  kelas dan jam istirahat semasa SMA dulu. Seolah baru kemarin, padahal berpuluh tahun sudah kita tinggalkan.  Guru guru dan kawan kawan sekelas (bahkan sebangku)  masih segar diingatan kita, padahal  sebagian sudah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan dunia. Sudut sudut ruang sekolah masih kita hafal, walau mungkin wujud fisik asli sekolah itu kini sudah berubah. Bahkan makanan kesukaan  di warung belakang sekolah masih menjadi makanan idaman, walau  tak mungkin membelinya lagi.

Kenangan semasa SMA begitu indah mungkin  karena  seseorang memulai  tingkat kedewasaannya. Masa   dimana ada keceriaan, ada kenakalan, ada asa dan mungkin juga ada “cinta monyet” dalam mencari bentuk kedewasaan diri.  Ketertarikan dengan lawan jenis mulai bersemi, curi curi pandang menjadi misteri dan kasih di sekolah itu   mungkin saja terjadi.

Orang bilang masa SMA adalah masa terindah dalam kehidupan sesorang, mungkin itu ada benarnya. Namun ternyata keceriaan itu sudah berpuluh tahun yang lalu, walau kesannya tak mungkin terlupa.

Masa kanak kanak, masa remaja dan dewasa seolah haru kemarin terjadi. Padahal berpuluh tahun sudah kejadian itu berlalu. Entah sampai kapan kenangan itu mengisi ruang ruang kosong dalam otak. Entah sampai kapan kerja otak mampu me “refresh” dan me “remaining” masa lalu.

Kini kita sedang menjalani apa yang seharusnya diperbuat untuk menjadi sejarah esok lusa.  Masa mendatang seolah begitu lama, masa lalu seolah begitu cepat. Itulah perumpamaan kehidupan yang singkat. Itulah makna dari “Urip Iku Mung Mampir Ngombe”.

 

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcarog

About these ads

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja. Penikmat teh WASGITEL (Wangi melati, Sepet, Legi, Kenthel) yang rindu bersilaturahim ke lapak lapak.
Gallery | This entry was posted in inspirasi, intermezo and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Urip Iku Mung Mampir Ngombe – Hidup Hanya Sebentar

  1. cumakatakata says:

    Masya Alloh, tulisannya “ngademake” Pak….

    Bener Pak, urip mung mampir ngombe, sebentaaaar banget…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s