Sepandak Berqurban Menjamur Tanpa Sepanduk Ajakan Syahadat dan Sholat

Alhamdulillah seharian ini Tuhan memberi kesempatan untuk berjalan jalan mengelilingi ibu kota Jakarta. Sudah lama rasanya tak melakukan hal ini karena kesibukan kantor yang tidak mungkin bisa ditinggalkan. Hanya dalam hitungan tahun, beberapa area  yang dahulu  lahan tidur kini berubah menjadi gedung bertingkat. Banyak jalan baru, under pass dan flying over yang  tak tahu kapan mulai dibangaun.

Dengan mengendarai sepeda motor menyusuri jalanan ibu kota. Beberapa titik kemacetan seperti tanah abang dan asemka  semakin tak terkendali. Sementara itu beberapa ruas jalan yang dahulu tak pernah macet, kini mulai terasa sesak oleh mobil dan sepeda motor.

Jakarta memang begitu mempesona. Seolah memanggil orang orang di desa untuk segera datang. Asa dan harapan  akan perubahan nasib  seolah menjanjikan kepastian.

Jalanan ibu kota kali ini tampak berbeda dari biasanya. Foto foto “pemimpin narsis” di pinggir jalan masih mendominasi. Mungkin mereka belum tahu, bahwa rakyat begitu muak melihat wajah mereka dg senyum kepalsuan. Geliat pencitraan dengan memasang baliho besar besar seolah bersaing dengan Indonesia Mencari Bakat dan Indonesia Idol.

Rakyat tahu bahwa baliho dicetak dengan uang pajak dari rakyat. Rakyat sangat paham bahwa senyum mereka penuh kepalsuan. Namun rakyat hanya bisa pasrah akan keadaan kota yang seperti tak bertuan.

Kali ini baliho baliho wajah narsis para pemimpin negeri  memiliki saingan. Secara sporadis namun tak terhitung banyaknya adalah spanduk tentang qurban.Tak ada yang salah, karena memang sebentar lagi akan datang hari raya I’edul Adha atau sering disebut I’edul Qurban. Suatu hari  dimana ummat  muslim yang mampu diwajibkan untuk menyembelih (mengurbankan) seekor kambing atau sapi.

Kewajiban berkurban seakan memicu maraknya  spanduk  ajakan berqurban. Begitu menjamurnya  hingga seolah memenuhi seluruh sudut kota. Ada sepanduk yang berisi  ajakan dan penjelasan tentang perlunya berkurban. Spanduk promosi menjual hewan qurban. Spanduk menerima dan menyalurkan hasil pemotongan hewan qurban. Ada ajakan untuk berqurban hingga ke pelosok negeri. Bahkan tak sedikit sepanduk qurban dengan foto narsis politisi dan partai politik tertentu.

Tak ada yang salah dengan bertebarannya  sepanduk sepanduk  ajakan berqurban, bahkan ada yang lengkap dengan foto foto ustadz.

Yang mengganjal di hati adalah kenapa sepanduk hanya  ramai menjelang hari raya I’edul Adha ?  Kenapa pula menjamurnya hanya dalam rangka “ajakan berqurban” dan “menyalurkan daging hewan qurban” ?

Kalau dicermati,  tak satupun  sepanduk yang ada bertulisakan ajakan “syahadat”. Tak pernah sekalipun ditemui sepanduk berisi pentingnya menegakkan sholat lima waktu.

Dalam rukun Islam kewajiban pertama kali untuk menjadi muslim adalah syahadat. Syahadat adalah penentu seseorang itu “muslim” atau “kafir”. Syahadat adalah pembeda antara “pengikut Muhammad SAW” atau “pengikut hawa nafsu”. Syahadat adalah justifikasi mana seorang saudara  dan mana seorang kawan.

Kewajiban kedua dalam rukun Islam adalah sholat. Kewajiban menegakkan perintah Allah SWT ini hanya bagi orang orang yang telah bersyahadat. Sholat adalah penentu seseorang menegakkan  atau justru  meruntuhkan agama Allah. Sholat pun menjadi landasan utama hisab di hari akhir.

Sedangkan zakat ataupun berqurban menduduki urutan ketiga setelah kedua kewajiban  diatas. Tanpa syahadat, maka  tidak ada sama sekali kewajiban untuk berkurban. Tanpa perjuangan  untuk menegakkan sholat, maka  tiada  makna berqurban.

Ulama dan pemikir muslim pasti tahu dan faham betul akan hal ini. Namun ternyata “ajakan syahadat dan sholat” tak pernah didengungkan apalagi di “sepandukkan”.

Semoga saja  bukan karena ajakan berqurban  lebih menjanjikan secara finansial. Semoga………….

 

Membutuhkan Jasa Cargo Murah ? via twitter @csmcargo

About these ads

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja. Penikmat teh WASGITEL (Wangi melati, Sepet, Legi, Kenthel) yang rindu bersilaturahim ke lapak lapak.
This entry was posted in intermezo and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s