Mainan Anak…, Kenapa Mesti Mahal ?

“Eh mbang…, tadi saya dari mall XXX,  jalan jalan sama boss dan  temen temen kantor. Tak sengaja  menemukan ini, bagus yah ?” Kata sahabatku sambil menunjukkan sesuatu. Tanpa komando, pandangan mata kami tertuju pada mainan anak yang lucu. Sebuah boneka “DORA”.

Kebetulan, anak kami berdua seumuran dan sama sama perempuan. Selain satu sekolah, mereka pun  berkawan akrab.

“Wah bagus ya…,” jawabku seolah membenarkan alibinya. “Iya lah, kita kan harus memberikan yang terbaik buat anak. Mereka harus kisa cintai dan sayangi, karena anak adalah investasi masa depan.”

“Iya betul,” jawabku.  Ucapanku  seolah menjadi  amunisi yang cukup untuk berargumen tentang pendidikan anak. Walau sebenarnya aku malas mendengarnya, namun karena ia adalah teman baik, aku tetap antusias mendengarkan.

“Apapun yang anak  minta pasti saya belikan.  Kalau bukan untuk anak, buat apa saya dan istri capek capek bekerja ? Saya ingin anak bahagia. Saya tidak ingin anak saya seperti orang tuanya dulu. Yang harus merengek hanya untuk sebuah mainan murahan. Saya sebenarnya seneng jika melihat anak saya bisa menunjukkan mainan yang paling bagus diantara teman temannya. Bagi saya harga tidak masalah, selama saya masih mampu membeli.”

Temanku terus aja nerocos, bahkan hingga keluar topik yang sedang  kita bicarakan semula. Dan aku hanya membisu mendengarkan bombardir kata demi kata yang diucapkan.

“Bapak……..” Anakku berteriak kencang sambil  menubrukkan tubuh mungilnya dari arah  belakang. Aku membalikkan tubuh, memandangi, menggapai dan mencoba melempar senyum paling indah. Dan anakku berusaha memeluk dari arah belakang.

“Ini salim sama om dulu.” Perintahku. Tanpa perintah kedua, anakku sudah menggapai tangan sahabatku dan menciumnya. Bagi sebagian orang, mengajarkan anak mencium tangan tidaklah elok. Namun bagiku sebaliknya.

“Bapak… bapak…, ayo kita ke taman. Ayook…. Ayoook bapak….” Anakku merengek, menghiba sambil menarik narik  jari manisku. Mengajak  setengah memaksa untuk bermain  ke taman.

“Serbentar  ya…, bapak masih ada Om. Bapak ada tamu.” Jawabku. “Bapak…., ayoo…. Ayo…. kita main ke taman  ayo….” Anakku terus  memaksa. Tidak ada kata menyerah. Semakin aku tolak keinginannya, semakin keras ia memaksa.

“Maaf ya…, aku tinggal dulu ke taman. Nemenin ini.” Kukatakan itu pada sahabatku. Tampaknya ia mengerti, sambil tersenyum dia menjawab, “ya gak papa. Saya balik dulu.”

Kami berjalan beriringan, bergandengan tangan. Tak lama kemudian, dia bernyanyi.

Bila kuingat lelah
Ayah bunda
Bunda piara piara akan daku
Sehingga aku besarlah…..

Kemudian tiba tiba ia menghentikan langkahnya, bersamaan dengan berhentinya dendang lagu kesayangannya. Tepat di samping pohon nyiur ia berkata, “Pak, bapak… Kiky mau dibuatin ketupat. Buat kalung. Kiky mau ketupat.  Kiky mau mainan.”

***

Yang dibutuhkan anak bukanlah mainan, apalagi yang mahal.
Yang dibutuhkan anak adalah kasih sayang dan kebersamaan dengan orang tuanya.

Mainan itu penting buat tumbuh kembang anak.
Mainan itu bermanfaat buat merangsang otak anak.

Dimata anak, mainan yang dibuat sendiri oleh orang tuanya jauh lebih berharga,  walau itu sangat murah.

@lambangsarib

Posted in Kiky | Tagged , , , , , | 6 Comments

Bunga adalah Cinta

“Kak ini kak bunga. Warnanya merah dan harum. Cobahalah di irup, harum kak.” Kata anakku sambil menyodorkan sekuntum bunga liar pada saudara sepupunya.”

Sesaat saudaranya terdiam, bengong mematung, dari mimiknya ia tampak kebingungan. Tak lama kemudian, diterimanya bunga itu dan diletakkan begitu saja diatas meja. Kiky mengamati dengan sedikit kekecewaan. Entah apa yang dipikirkannya.

Kiky memang suka sekali memetik bunga untuk sekedar diberikan ke teman atau saudara. Itulah hal yang aku ajarkan semenjak ia sudah bisa berjalan. Sekitar tiga tahun yang lalu. Saat usianya belum genap setahun, saat ia sudah mulai bisa berjalan.

Setiap pagi, aku bawa ia berjemur sambil bermain ditaman. Menghangatkan badan sekaligua mengenalkan beraneka flora fauna. Tak heran, di usianya sekarang beraneka serangga, binatang liar dan bermacam tanaman telah dikuasai namanya satu per satu.

Adalah kebiasaanku dulu, sebelum pulang ke rumah, menyuruhnya untuk memetik sekuntum bunga. Apa saja. Kadang mawar, melati, bunga bakung, bahkan bunga liar sekalipun, seperti bunga putri malu. Setelah dipetik, dihirupnya bunga itu sambil berkata, “hm…. Haruuum.”

“Ambil yang paling harum nduk, buat oleh oleh ibu di rumah. Ibu kan sayang Kiky. Ibu kan nungguin Kiky dirumah.” Itu mantra yang selalu kuulang. Tak bosan mengulangnya. Dalam hati aku berjanji untuk mengulang hingga ia dewasa kelak.

Mungkin itulah yang menyebabkan anakku berfikir bahwa semua orang yang dikasihinya, yang dicintainya menyukai bunga. Kakek, nenek, dan seluruh saudara di kampung akan dikirimnya bunga yg dipetik dijalan.

Tentu saja ia akan kecewa jika ada yang tak mau dihadiahi sekuntum bunga. Ia berfikir bahwa bunga adalah lambang cinta.

Posted in Kiky | Tagged | 8 Comments

Hari Pertama Ke Sekolah

“Assalamualaikum nduk…, ayo  bangun. Sudah jam enam nih, tuh matahari sudah bangun. Kepik merah dan belalang sembah juga sudah bangun. Ayo  bangun …” Kucium pipi  anakku sembari membisikkan salam. Sambil terus berusaha membangunkan, “Ayo anak pinter, anak bapak yang cantik, … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , , , , | 5 Comments

Ibu Adalah Super Mom

Peremuan itu terjaga di sepertiga malam terakhir. Saat enak enaknya tidur. Ditengoknya sang suami, yang masih terlelap dibuai mimpi. Dengan berjalan perlahan,   kamar anak anaknya disambangi satu persatu. Untuk memastikan bahwa orang orang yang dicintainya tidur  pulas dibalut kehangatan selimut. … Continue reading

Gallery | Tagged , , , | 2 Comments

Anak Mulai Berani Tidur Sendiri

“Malam sudah larut, laga final Piala Dunia di Brazil antara Belanda dan Rusia baru saja kick off babak pertama. Aku menonton sendiri  diatas pembaringan, sambil melepas  penat bekerja seharian. “Pak…, Kiky mau bobok sama bapak,” kata anakku mengagetkan. Membuyarkan keasyikanku … Continue reading

Gallery | Tagged , , | Leave a comment