Tuhan Akan Memeluk Mimpimu

“Bermimpilah ! Maka Tuhan akan memeluk mimpi mimpimu.”  Aku katakan itu dihadapan  anakku. Ia terbengong.  Memandangku, tanpa ekspresi pemahaman sedikitpun.  Aku sadar, ia tak mungkin mampu mencerna apa yang kuucapan. Karena memang otak kanan dan kirinya masih dalam taraf perkembangan. … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Selamat Hari Guru, Orang Tua Adalah Guru Terbaik

Pagi tadi Kiky bangun sebelum adzan subuh terdengar dari surau sebelah rumah. Disaat yang sama aku pun demikian, terjaga di sepertiga malam terakhir. Suara handle pintu kamar terdengar nyaring saat dibuka. “Pak kae anake ditunggoni, perutnya sakit kayane.” Kumatikan chanel … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Cinta Itu Sederhana

Hawa dingin menyeruak masuk kedalam  kamar. Celana, baju tebal dan kaos kaki yang membalut  tak mampu menghangatkan. Bahkan lilitan syal di leher pun  seakan tiada makna. Dinginnya hawa rumah tak ubahnya  kaki Gunung Merapi di  Yogyakarta. Selain karena hujan yang … Continue reading

Gallery | Tagged , , , , , | 3 Comments

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana. Kalimat itu seringkali kudengar  dari banyak orang dengan latar belakang berbeda. Seorang sahabat yang setiap harinya berprofesi sebagai penjual mie ayam  suatu kali megatakannya. Bahkan, untuk membenarkan konstruksi argumentasi,  dilengkapilah  kalimatnya menjadi, “sering seringlah datang kemari, di … Continue reading

Gallery | Tagged , , , | 6 Comments

Memperbaiki Negeri Berarti Memberikan Pendidikan Pada Anak

“Bukan menjadikan anak lekas bisa membaca dan menulis. Melainkan bagaimana membuat anak gemar membaca dan menulis.” Itulah kata beraroma sihir yang membiusku. Selalu terngiang di telinga setiap waktu. Dikala berdiri, duduk, bahkan saat berbaring.

Entah dimana aku mendapatkan kata kata itu. Entah kapan dan siapa yang mengucapkannya, aku tak bisa mengingat. Mungkin juga aku pernah membacanya. Entah….

Memorizing is not good thinking.  Itulah kalimat yang membanggakan. Karena aku termasuk orang yang lelet mikir dan  tergolong kedalam  famili  pikun sebelum masanya. Hidup adalah berfikir. Aku sanggup  mengasah otak  dengan konsentrasi penuh beberapa jam lamanya. Paling tidak saat bermain catur atau kartu. Namun jangan harap bisa menghafal sepuluh nama orang dalam waktu satu jam.

Jika kamu mencoba menanyakan pada  teman teman sekolahku, maka akan kau dapati bahwa aku adalah pelajar bodoh.  Mungkin hanya seorang guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) bernama Pak Sumarsono,  di kelas 1E,  SMP N 1 Blora,  yang menggelariku  “pelajar teladan.”

Adakah pelajar teladan yang bodoh ?

Benar, itulah satu satunya gelar yang kurais  semasa awal masuk SMP.  Teladan, yang bermakna “telatan … dan lain lain …”

Telatan adalah bahasa jawa ngoko  yang berarti suka  terlambat masuk sekolah. “Dan lain lain” memiliki cakupan makna sangat luas, diantaranya adalah ngantukan, mbolosan, ngeblongan, dan seabrek stigma negatif lainnya.

Karena  aku tak suka menghafal apa yang diajarkan guru di sekolah, maka  wajar jika berpredikat  pelajar bodoh. Bahkan ada yang lebih kasar lagi, yaitu klowor dan dungu.

Memang tak adil, menilai seseorang hanya dari nilai akademik semata. Bagai menilai sebuah buku dari sampulnya !  Akan tetapi itulah kenyataan saat ini.

Anak sekolah  dipaksa untuk menghafal, menghafal dan menghafal. Perintah itu  bagaikan fonis Mahkamah Agung yang final, tetap dan mengikat. Tak menyisakan ruang untuk mempertanyakannya.  Bahkan rumus fisika dan kimia yang njlimet pun harus dihafal.

Anak tidak diajar untuk mengikuti alur pemikiran. Mereka tak pernah tahu bagaimana sebuah rumus phytagoras dan hukum newton tercipta.  Bahkan memahami logika integral dan diferensial pun  layaknya menghafal urutan raja raja kerajaan Mataram.

Melatih anak berfikir adalah masalah mendasar yang perlu kita pecahkan bersama. Orang Yahudi lebih suka mengirim anak anak mereka ke sekolah musik sedini mungkin. Bukan untuk menjadi artis pengisi acara semacam  InBOX.  Melainkan sedini mungkin mengenal  olah roso. Menyelaraskan otak, perasaan dan perbuatan. Melatih otak kiri dan kanan bekerja bersama sama dalam satu waktu.  Konon, orang sukses biasaya mampu menggunakan kedua belah otaknya bersama sama.

Lain lubuk lain ikannya. Orang Tionghoa di Indonesia lebih menyukai jika anak anak mereka “magang” di toko. Memahami harga jual dan harga modal layaknya seorang accounting.  Berinteraksi langsung dengan pemasok dan pelanggan. Mengamati perilaku konsumen. Semua dipelajari autodidak, tak membutuhkan  bimbingan pakar marketing sejenius Hermawan Kertajaya. Bahkan wejangan  motivator sekelas Mario Teguh dan Tung Dasem Waringin seolah tiada guna.

Bagaimana dengan anakmu ?

Aku teringat ibuku tercinta  dulu sering berkata, “nek mergawe sing sregep, ben mbesuk nek kerjo atasane seneng.” Berbeda dengan  mbah Sukardi, beliau sering  menasehati, ” le…, wong kang temen bakal tinemu.”  Sementara itu, yang  paling enak didengar adalah kata kata bapak.  Suatu kali beliau  bertemu temennya saat mengambil raport. Bapak berkata, “nek anak kulo terserah, sing penting sekolah kulo sampun seneng. Rangking pinten mawon mboten masalah. Sing penting munggah sekolah,”

Kini Mbah Sukardi sudah lama tiada, menemui Tuhan. Sementara itu kini aku telah diipanggil bapak. Panggilan yang teramat menyenangkan.  Adapun kata yang paling sering kuucapkan adalah, “Kiky pinter ya… Hebat nih anak bapak….”

Sudut pandang seseorang dalam menilai sesuatu sangat tergantung oleh masa lalu, dimana dia berpijak dan hendak kemana ia pergi.  Saat aku mengatakan lukisan anakku luar bisa, boleh jadi ia mengatakan sebaliknya, “ah…, apa bagusnya, hanya benang ruwet dowang.”

Bagiku tidak masalah. Apapun penilaian orang tentang lukisan anakku, aku selalu mencontoh Pak Tino Sidin untuk selalu berkomentar, “gambarnya baguus….”

Memberi apresiasi pada anak memiliki banyak sekali dimensi  manfaat. Penghargaan yang kita berikan secara tulus membangkitkan  motivasi menggelora. Bagai api abadi di puncak Merapen – jawa tengah.  Kreativitasnya pun semakin terasah. Dengan  pujian anak merasa dihargai sehingga terpacu untuk berkarya dan terus berkarya.

Hanya kreativitaslah yang mampu melambungkan nama orang orang besar. Tidak bisa dibayangkan bagaimana mungkin  Mark Zuckerberg yang drop out bisa menemukan Facebook. Tidak mungkin dinalar,  seorang Alfa Edison yang difonis terbelakang bisa menemukan lampu pijar. Semua berawal dari kreativitas.  Yang dibakar oleh motivasi orang tua pada anak.

Masa depan tidak ditentukan oleh kemampuan cognitif belaka. Bahkan, kemampuan itu hanya dibutuhkan 20% nya saja. Sisanya didapat dari pengalaman dan ilmu non formal. Oleh sebab itu tepat kiranya jika dikatakan, “setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.”

Kesuksesan bisa dimulai dari mana saja. Ada yang mendapat kesuksesan berawal dari modal dengkul. Seperti yang sering didengungkan oleh  oleh konglomerat pemilik KemChick dan Kemfood, Bob Sadino. Dia mengatakan, “sekolah terbaik adalah sekolah kehidupan. Sekolah jalanan. Sekolah yang memberi kebebasan kepada muridnya untuk mengeksplorasi dengan leluasa seluruh potensinya.”

Akan tetapi kesuksesan yang didapat dari bangku pendidikan pun tak sedikit jumlahnya. Bill Gates dan Stave Jobs mungkin beberapa nama besar yang layak dicatat. Meskipun mereka tak menamatkan pendidikan, akan tetapi memulai bisnis dari dunia keilmuan. Atau bisa diatakan bermodal otak.

Mungkn satu saja yang perlu dicatat,  bahwa kesuksesan bisa didapat dari modal dengakul atau pun modal otak. Satu hal yang pasti, kesuksesan tak bisa diraih dengan berbekal modal warisan dari orang tua.

Anak adalah aset masa depan.  Anak anak kita hari ini sebenarnya adalah pasokan sumber daya manusia (SDM) di masa depan. Jika ingin memperbaiki negeri ini, salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan terbaik kepadanya. Pendididkan formal di sekolah dan pendidikan no formal dalam kehidupan nyata.

Posted in Kiky | Tagged , , , , , | 6 Comments